By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Ingin Raih Dua Mimpi, Pemain Persebaya itu Kini Jadi Mahasiswa FK Unusa
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Milenial > Ingin Raih Dua Mimpi, Pemain Persebaya itu Kini Jadi Mahasiswa FK Unusa
Milenial

Ingin Raih Dua Mimpi, Pemain Persebaya itu Kini Jadi Mahasiswa FK Unusa

08/09/2026 Milenial
SHARE

Surabaya, radar96.com – Pagi hingga siang hari harus duduk di bangku kuliah, berhadapan dengan buku, praktikum, dan berbagai tuntutan akademik sebagai mahasiswa kedokteran. Sedangkan sore hari adalah waktu wajib baginya untuk berlatih di lapangan. Dua dunia yang berbeda itu kini harus dijalaninya oleh Nabil Loverino Misab, pemain Persebaya, secara bersamaan.


Bagi mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) tersebut, menjadi dokter sekaligus pesepak bola bukan perkara sederhana. Tetapi Nabil memilih tidak buru-buru meninggalkan salah satunya. Selama keduanya masih dapat dijalankan, ia ingin mempertahankan dua mimpi yang telah membentuk perjalanan hidupnya.
Remaja yang akrab disapa Nabil itu saat ini merupakan pemain Persebaya U-20. Ia biasa menempati posisi sayap kanan dan juga dapat dimainkan sebagai penyerang. Kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak usia sembilan tahun, ketika ia mulai bermain bersama teman-temannya. Dari sekadar bermain, Nabil kemudian masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya dan terus mengembangkan kemampuannya hingga akhirnya bergabung dengan Persebaya. “Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” ujarnya.
Namun, perjalanan Nabil sebagai pesepak bola ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di lingkungan keluarganya, sepak bola pada awalnya lebih dipandang sebagai hobi. Keluarga Nabil justru memiliki kedekatan kuat dengan dunia kesehatan. Ayahnya merupakan analis kesehatan, sementara dua kakaknya berprofesi sebagai dokter. Kakak pertamanya dokter spesialis kandungan, kakak keduanya dokter umum, sedangkan kakak ketiganya menjadi guru.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami bahwa keluarganya memiliki harapan besar terhadap masa depannya. Ia pun diarahkan untuk mengikuti jejak kedua kakaknya dan menempuh pendidikan kedokteran.
“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tuturnya pada Selasa (8/9/26) di gedung Kampus B Unusa, Surabaya.
Seiring waktu, Nabil tidak lagi melihat kedokteran semata-mata sebagai pilihan orang tua. Ia mulai menemukan alasan sendiri mengapa profesi dokter penting untuk masa depannya. Salah satu pertimbangannya adalah perjalanan karier sebagai atlet yang tidak selalu panjang dan pasti.
Menurut Nabil, kemampuan seorang pesepak bola sangat bergantung pada kondisi fisik. Ada masa ketika seorang pemain harus berhenti karena usia, penurunan kemampuan, cedera, atau kesulitan mendapatkan klub. Karena itu, ia mulai memikirkan kehidupan setelah karier sepak bolanya berakhir.
“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” katanya.
Pertimbangan tersebut membuat Nabil tidak ingin mempertentangkan lapangan hijau dengan ruang kuliah. Ia memilih menjalani keduanya, dengan pendidikan kedokteran sebagai prioritas, sementara sepak bola tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Tantangannya tentu saja adalah waktu. Kuliah kedokteran memiliki jadwal yang padat, sementara sebagai pemain Persebaya ia harus menjalani latihan dan persiapan pertandingan secara rutin. Untuk mengatasinya, Nabil mulai membangun kebiasaan mengatur waktu sejak awal kuliah.
“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.
Beruntung, jadwal latihan sepak bola yang biasanya berlangsung pada sore hari relatif tidak banyak berbenturan dengan jadwal kuliahnya. Dalam waktu dekat, ia bahkan masih akan menjalani latihan intensif karena dijadwalkan mengikuti pertandingan.
Bagi Nabil, menjadi mahasiswa kedokteran sekaligus pesepak bola bukan berarti harus memilih salah satunya sekarang. Ia ingin melihat sejauh mana kedua perjalanan tersebut dapat berjalan beriringan. Selama sepak bola tidak mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa, ia masih ingin terus bermain dan membuka peluang melanjutkan karier hingga jenjang senior.
Ia sadar, masa depan seorang atlet tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi. Karena itu, sambil mengejar bola di lapangan, Nabil juga mulai menyiapkan masa depan di ruang kuliah.
Dua dunia itu kini menjadi bagian dari perjalanan yang sama: mengejar mimpi di lapangan hijau, sekaligus menyiapkan diri untuk suatu hari mengenakan jas dokter.

Iklan.

You Might Also Like

Maulid Nabi, Remas-GenZI Masjid Al-Akbar Ganti Kepengurusan untuk Periode 2026-2027

KKN Universitas Bondowoso Cegah Pernikahan Dini di kalangan Pelajar

Gus Mujab: FOMO bisa membuat lalai diri sendiri, umur, dan akhirat

80 Remaja Madjid se-Jatim Ikuti Pelatihan Bisnis Syariah DMI-Demasindo

Bullying Bukan Sekadar Candaan, KKN 02 UNIBO dan Polsek Tlogosari Edukasi Siswa MTs Miftahul Ulum 2 Bondowoso

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Resmikan Kantor Baru, GP Ansor Bondowoso Tegaskan Tak Ada Alasan Berhenti Bergerak
Next Article Tawarkan “Hijrah” dari BBM ke BBG,SMKN 3 Bondowoso Klaim Karya Siswa Tembus 245 KM Sekali Isi

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Gus Kikin Takkan Lupakan PWNU Jatim
Nahdliyyin
Tawarkan “Hijrah” dari BBM ke BBG,SMKN 3 Bondowoso Klaim Karya Siswa Tembus 245 KM Sekali Isi
Sospol
Resmikan Kantor Baru, GP Ansor Bondowoso Tegaskan Tak Ada Alasan Berhenti Bergerak
Nahdliyyin
Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital
Kolom

You Might also Like

Milenial

Seorang Siswa MI Masjid Al-Akbar Surabaya Hafalkan 10 Juz Al-Qur’an

05/08/2026
Milenial

Lora Kadam Sidik: Merdeka dari FOMO itu perlu Kembali pada Kepakaran dan Jaga Pertemanan

02/08/2026
Milenial

Gerakan Seribu Buku Karya Murid Dimulai, Korwilcam Pendidikan dan Dispendik Bondowoso Perkuat Budaya Literasi

25/07/2026
Milenial

LDNU Jatim dan UNISMA Cetak 200 Da’i Gen-Z yang Moderat dan Adaptif di Era Digital

25/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?