Forum Rektor PTNU sampaikan Catatan Kritis kepada Mendikbudristek

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim (*/Wikipedia)
Bagikan yuk..!

Jakarta (Radar96.com) – Ketua Forum Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Prof Maskuri Bakri menyampaikan catatan kritis kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim.

Salah satu kebijakan yang dikritisi adalah soal Instrumen Pemantauan dan Evaluasi Peringkat Akreditasi (IPEPA).

Menurut Prof Maskuri, kebijakan ini sangat memberatkan. Sebab mahasiswa S1 yang secara penilaian turun dari 20 persen selama tiga tahun berturut-turut maka dinyatakan tidak akan terakreditasi.

“Kemudian yang S2 dan S3 turun dari 10 persen selama tiga tahun berturut-turut juga dengan sendirinya tidak akan terakreditasi. Ini sangat mengancam, terutama bagi perguruan tinggi swasta (PTS), kecuali kalau PTS dibiayai penuh oleh pemerintah dan siap bersaing tingkat nasional,” kata Prof Maskuri, di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (3/11/2021).

Kritik lainnya, ia menyoroti soal lembaga akreditasi mandiri yang juga memberatkan jika tidak dibiayai pemerintah. Di bidang kesehatan misalnya, rata-rata satu program studi harus mengeluarkan biaya berkisar Rp80-85 juta.

“Untuk non-kesehatan itu antara Rp40-45 juta. Ini pasti akan banyak perguruan tinggi gulung tikar, karena membayar itu saja berat sekali,” tegas Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) itu.

Selain itu, ia mengaku setiap tahun menanti kebijakan klasterisasi perguruan tinggi. Sebab hal itu menjadi bagian dari motivasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Melalui klasterisasi perguruan tinggi itu, PTNU dapat lebih mudah mengukur prestasi.

“Juga mempermudah ikhtiar-ikhtiar PTNU dalam mendampingi perguruan tinggi yang perlu kita dampingi untuk bisa bangkit. Oleh karenanya, klasterisasi adalah mutlak dan penting untuk dilanjutkan. Saya berharap jangan lama lagi karena itu menjadi semangat kami,” katanya.

“Terus terang mau dibuat model seperti apa, kita siap. Dan jangan ada disparitas antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan PTS. Ini harus dilakukan. Singkirkan sikap-sikap fanatisme keorganisasian semata-mata untuk peningkatan mutu di Indonesia,” imbuh Prof Maskuri.

Meski demikian, ia tetap mendukung penuh terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Forum Rektor PTNU juga mendukung Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya, program tersebut sangat out of the box.

“Karena pendidikan jangan diposisikan sebagai ruang yang elitis, tetapi harus didekatkan pada realitas, sehingga mahasiswa akan familiar terhadap dunia usaha, industri, dan masyarakat. Maka konsep-konsep out of the box inilah yang sesungguhnya menjadi bagian tak terpisahkan. Ini adalah stimulan agar masing-masing perguruan tinggi harus memiliki rekayasa pedagogis,” katanya.

Di hadapan Menteri Nadiem, Prof Maskuri meyakinkan bahwa PTNU selalu menjunjung sikap tawassuth (moderat), tawazun (berimbang), dan tasamuh (toleran) di tengah berbagai perbedaan yang ada.

“Kita ingin melejitkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, tetapi kita tetap mempertahankan tradisi keindonesiaan, keagamaan dan pesantren di lingkungan NU,” pungkasnya.

Nadiem takjub Pesantren
Sementara itu, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, beberapa waktu lalu, mengunjungi tiga pesantren di Jawa Timur yakni Lirboyo, Ploso, dan Tebuireng.

Ia memiliki kesan tersendiri ketika berbincang-bincang dengan para kiai yang sangat terbuka dan memiliki selera humor tinggi.

Bahkan, Nadiem mengapresiasi budaya pesantren atau cara kiai dalam mengeritik kebijakan pemerintah dan berbagai kelemahan dari sistem pendidikan di Indonesia.

“Kesan pertama saya adalah saya tidak bisa menahan diri, cekikikan terus ketika berbicara dengan para kiai di situ. Karena diskusinya sangat intelektual tetapi sangat lucu. Jadi jenis-jenis cara mengeritik kebijakan-kebijakan pemerintah sangat transparan dan mengakui berbagai macam kelemahan dari sistem pendidikan kita,” kata Nadiem saat berkunjung ke Kantor PBNU.

Ia sangat terkesan dan menyukai dunia yang sangat terbuka seperti para kiai di pesantren. Bahkan budaya terbuka seperti di pesantren yang telah dikunjungi itu akan diciptakan di lingkungan Kemendikbudristek.

“Itu merupakan budaya NU yang sangat dekat dengan saya. Budaya ger-geran tetapi jujur. Bilang apa adanya. Saya senang dan mengapresiasi itu,” katanya.

Hal lain yang membuat Nadiem merasa kaget dan takjub dengan dunia pesantren adalah ketika melihat semangat para santri yang tidak pernah ditemukan saat ia berkunjung ke berbagai sekolah non-pesantren.

“Saya melihat wajah para santri yang senyum ceria. Karena kalau saya ke tempat-tempat lain wajahnya kadang masih stres karena adaptasi. Terus saya menyadari, santri tidak pernah PJJ (pembelajaran jarak jauh). Jadi mereka melewati pandemi ini tidak mengalami ketertinggalan pembelajaran atau learning loss, mereka lanjut saja,” terangnya.

Menurut Nadiem, model pesantren itu memiliki resiliensi atau kemampuan mental dan emosional untuk mengatasi krisis yang sangat tinggi.

“Pesantren memiliki keunggulan tersendiri di masa pandemi ini. Karena mereka tidak mengalami trauma dari learning loss dari PJJ. Itu merupakan satu hal kekuatan dari model pesantren,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta Nadiem Makarim untuk mampu menjembatani gap atau jarak intelektual antara standar keilmuan pesantren dengan perguruan tinggi atau sekolah umum. Standar keilmuan di pesantren, Kiai Said mencontohkan, harus menghafal 1.000 bait Alfiyah, Al-Qur’an, dan khatam Kitab Fathul Muin atau Fathul Wahab. Namun standar keilmuan ini dipandang sebelah mata bagi perguruan tinggi. Sebab perguruan tinggi memiliki standar keilmuan tersendiri.

Misalnya, kata Kiai Said, harus sudah menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral di bidang spesifik. Namun, capaian seperti ini juga tidak dipandang oleh para kiai pesantren.

“Nah, ini bagaimana menjembatani dua standar intelektual ini? Kalau tidak, selamanya akan seperti ini (memiliki gap intelektual sangat lebar),” katanya.

Pada kesempatan itu hadir, Ketua PBNU Bidang Pendidikan H Hanif Saha Ghofur, dan Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda. Hadir pula beberapa rektor PTNU dari berbagai kampus dan wilayah di Indonesia.
(*/NUO)

Sumber:
*) https://nu.or.id/nasional/forum-rektor-ptnu-sampaikan-catatan-kritis-kepada-mendikbudristek-nadiem-makarim-wQ80I
*) https://nu.or.id/nasional/nadiem-makarim-mengaku-takjub-dengan-dunia-pesantren-NVMAY

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.