Surabaya (Radar96.com) – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Surabaya kembali menggelar pengajian dalam rangka sosialisasi Islam wasathiyah (Islam ramah). Kali ini pengajian dilaksanakan pada tanggal istimewa itu, Selasa (22/2/22) tadi malam di Masjid Al-Mustaqim Menanggal, Surabaya.
Pengajian dengan sub tema ‘menguatkan jam’iyah melalui peningkatan ukhuwah’ itu tidak hanya dihadiri para ketua takmir masjid dan musholla, kepala TPQ dan para tokoh masyarakat se-Kecamatan Gayungan, tapi juga dihadiri para Lurah di wilayah tersebut.
Moderator H Nur Syamsi menyebut pengajian kali ini terbilang istimewa karena ketiga narasumbernya adalah akademisi yang bergelar doktor. Mereka adalah Dr KH Syukron Djazilan Badri, MAg (Ketua LDNU Kota Surabaya, Dosen Unusa); Dr H Muh Khoirul Anwar, MAg, MEI (Wakil Ketua LDNU, dosen Unesa); dan Dr H Nafi’ Mubarok, MAg (Wakil Sekretaris LDNU, dosen UINSA).
Dalam kesempatan tersebut Kiai Syukron Djazilan mengingatkan kembali pentingnya kerukunan (ukhuwah nahdliyah). Tak lupa ia mengutip pesan KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang kiai pendiri NU, bahwa kerukunan tak akan bisa dikalahkan oleh apapun.
“Maka semua orang NU harus rukun, tidak boleh bertengkar, karena kalau bertengkar tidak ada untungnya,” pesan Kiai Syukron.
“Sering kali orang bertengkar itu bukan karena beda pendapat, tapi karena beda pendapatan,” lanjut Kiai Syukron yang disambut tawa para jamaah.
Senada dengan Kiai Syukron tentang pentingnya ukhuwah nahdliyah, Ustadz Nafi’ mengajak para jamaah untuk memperkuat jamiyah. Jamaah dan jamiyah adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Lebih penting lagi, orang NU jangan sampai berjalan sendiri, keluar dari jamaah maupun jamiyah, sebab itu akan berbahaya untuk dirinya sendiri juga.
“Enaknya ikut jamiyah para ulama itu, walau kita bukan orang baik, akan ikut tergolong sebagai orang baik, karena ikut dalam rombongan orang-orang baik. Seperti halnya orang yang membeli buah secara borongan dalam keranjang, maka tidak ada lagi seleksi satu persatu, pokoknya semua buah yang ada yang diangkut, dianggap baik semua,” jelas Ustadz Nafi’.
Pada kesempatan lain Ustadz Khoirul Anwar lebih banyak mengulas tentang teori sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Namun pada bagian terpenting ia berpesan kepada jamaah untuk lebih berhati-hati dalam bermedia sosal. Di jaman serba digital ini orangtua juga perlu menambah perhatian lagi kepada anak-anaknya.
Kalau dulu, orangtua sudah senang dan tenang saat melihat anaknya tenang di kamar. Anak yang tenang di kamar sudah identik dengan anak baik. Tapi di jaman sekarang sudah tidak bisa begitu lagi. Bisa jadi badannya diam, tapi jari-jarinya terus aktif menekan tombol-tombol di HP, maka yang terjadi adalah banyak hal negatif sama sekali tidak diperkirakan oleh orangtua karena orangtua tidak tahu teknologi sudah berkembang sejauh itu.
“Makanya dulu Nabi berpesan ‘Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian’,” kata Ustadz Khoirul mengutip Hadis Nabi.
Di antara mendidik anak yang sesuai dengan zamannya adalah dengan melakukan pendampingan dan memberikan nasehat-nasehat yang baik kepada mereka.
Pengajian yang dimulai pukul 20:00 tepat itupun diakhiri pukul 22:00 tepat.
“Kita ingin tertib dan tepat dalam menjaga waktu,” jelas Kiai Syukron Djazilan.





