Jakarta (Radar96.com/NUO) – Jelang hajatan besar 1 Abad NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merilis beberapa program kegiatan, salah satunya NU Women, yang melibatkan perempuan nahdliyyin, baik struktural maupun kultural.
“NU Women merupakan gerakan yang dibentuk secara khusus untuk merenspon berbagai persoalan dan dinamika seputar isu-isu keperempuanan,” kata Koordinator Acara NU Women Hj Maria Ulfah Anshor dalam wawancara digital bersama NU Online, Selasa (23/8/2022). Ketum PBNU Resmi Buka Workshop NU Women sebagai salah satu program Jelang Satu Abad NU.
Maria juga mengatakan, pembentukan NU Women tidak bertujuan untuk menjadi Badan Otonom (Banom) baru NU. Tetapi, untuk memaksimalkan sumbangsih perempuan-perempuan Nahdliyin dalam menghadapi sejumlah fenonema perubahan besar dalam konteks beragama dan menjawab tentang bagaimana perempuan berperan dalam merespons isu-isu perempuan.
“NU Women bukan banom, NU Women bertujuan menguatkan peran pergerakkan perempuan dalam mengawal isu-isu terkini. Misalnya isu kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual,” kata Maria kepada NU Online.
Memaksimalkan peran perempuan NU, lanjut dia, penting dilakukan untuk menghadapi problematika perubahan paradigma peradaban global pada perempuan. “Di NU sendiri banyak tokoh yang meskipun tidak masuk ke struktural, tapi aktif dalam menyuarakan visi-misi NU,” ungkapnya.
Meski tidak tercatat, menurut dia para aktivis ini adalah perempuan yang cukup mempunyai pengaruh tidak hanya di lingkungan NU. Seringkali pemikiran maupun sikap-sikapnya menghadapi suatu permasahan ditunggu oleh penggerak perempuan lain.
“NU Women ini menjadi wadah bagi para perempuan aktivis tersebut,” tutur Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) itu.
Bagi dia, NU Women merupakan tonggak sejarah gerakan perempuan NU maupun gerakan perempuan pada umumnya. “Jadi, NU Women ini harapannya adalah mempersatukan gerakan perempuan NU baik di struktural maupun kultural untuk sama-sama membangun peradaban baru yang dicitak-citakan NU,” jelas Maria.
Kendati demikian, tokoh yang juga menjabat sebagai Komisioner Komnas Perempuan itu tidak menampik bahwa sejak dulu NU telah memberi wadah yang besar bagi perempuan, seperti Muslimat NU dan Fatayat NU.
“Ini bentuk bahwa NU sangat menghargai peran perempuan sehingga memiliki banyak lembaga perempuan. Kita memanfaatkan NU Women ini sebagai wadah berkoordinasi semua banom perempuan untuk dapat memaksimalkan perannya di masyarakat,” tandas Maria.
Langkah progresif Hal senada juga dikatakan oleh Ketua Organizing Committee (OC) NU Women Hj Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid bahwa pembentukan NU Women merupakan langkah progresif untuk menguatkan peran-peran banom perempuan NU.
“Ini merupakan sebuah langkah yang sangat progresif. Tentunya kita sangat mengapresasi terhadap langkah ini. Perempuan NU sebenarnya ruang perjumpaan di antara banyak jaringan-jaringan NU. Selama ini memang sudah ada, tetapi kita dipertemukan dalam sebuah gerakan besar,” kata Yenny.
Selain itu, lanjut dia, NU Women merupakan gerakan besar yang mempertemukan seluruh gerakan aktivis perempuan NU. “NU Women jadi ruang konsolidasi badan perempuan NU di tataran global. An-Nisa’u Nahdlatul Ulama (NU Women),” imbuh Direktur Wahid Foundation ini.
3 Tantangan Zaman
Yenny Wahid menyebut bahwa dibentuknya NU Women semata-mata bukan hanya untuk mewadahi para aktivis perempuan NU. Namun difungsikan juga menjawab tiga tantangan besar zaman. Yaitu disrupsi, ekologi, dan emosi.
“NU Women ini selain sebagai wadah untuk memaksimalkan peran perempuan NU juga berfokus untuk menjawab tiga tantangan zaman,” terangnya pada kegiatan Workshop NU Women, di Jakarta Pusat, Sabtu (20/8/2022).
Ia mengatakan, disrupsi menjadi tantangan pertama pada saat ini. Disrupsi telah menjadi bagian dari umat manusia, terjadi karena perubahan teknologi hingga perubahan gaya hidup.
“Ini adalah fenomena yang akan kita hadapi ketika hidup sebagai manusia, selalu akan ada disrupsi,” kata Direktur Wahid Foundation itu.
Misalnya, jelas dia, disrupsi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena mobilitas manusia lebih luas maka virus pun menyebar lebih cepat.
“Pandemi juga merupakan disrupsi yang mengakibatkan banyak dampak. Nah, ketika disrupsi terjadi kita harus membekali masyarakat kita dengan kemampuan untuk bertahan,” jelas Ketua Bidan Pengembangan Jaringan Internasional PBNU itu.
“Jadi resiliensi (kemampuan bangkit) harus ditingkatkan,” sambung Yenny. Disrupsi akibat pandemi juga banyak menimbulkan terjadinya kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Menurutnya, hal itu terjadi karena intensitas pertemuan suami dan istri naik akibat gaya hidup yang berubah saat pandemi, ikut berpengaruh dalam fenomena peningkatan KDRT, sebab dalam beberapa kasus intensitas pertemuan yang bertambah akan menimbulkan gesekan.
“Selama pandemi orang banyak di rumah dan jarang bepergian. Karena terkurung lalu pola komunikasi antara suami-istri terkadang kurang baik sehingga terciptalah konflik-konflik kecil yang berakibat pada perlakuan KDRT,” ungkapnya.
Selanjutnya, kata Yenny, soal ekologi meliputi isu perubahan iklim dan dampaknya yang dihadapi seluruh manusia di dunia tak memandang suku, agama, negara. Isu perubahan iklim ini akan berpengaruh besar sekali terhadap manusia di manapun dia berada.
“Dan tantangan ketiga yaitu emosi. Terutama dengan media sosial, sebab manusia menjadi lebih eksklusif, manusia menjadi asosial dan kurang bergaul, manusia menjadi lebih mudah mengungkapkan emosinya dengan cara yang menyinggung perasaan,” katanya.
Adanya media sosial, bagi dia, membuat efek berbeda dari cara seseorang berinteraksi satu sama lain. Sehingga muncul bullying, hoaks, hate speech yang kecenderungannya membelah masyarakat.
“Lalu muncul kamu dukung saya atau kamu membenci saya. Kita harus hadapi ini,” jelas dia. Dari ketiga tantangan tersebut, Yenny yakin bahwa sudah saatnya NU membuat langkah-langkah pencegahan yang nyata dengan memberdayakan kaum perempuan di lingkungan NU. Hingga kemudian muncul gagasan untuk membentuk NU Women.
“Jadi, NU Women ini diarahkan untuk merespons tantangan-tantangan tersebut,” lanjut dia. Lebih lanjut, ia menginformasikan langkah-langkah kunci yang akan dilakukan NU Women untuk mengatasi ketiga tantangan di atas.
Pertama, dengan membentuk pelatihan ekonomi, lalu pelatihan tentang kesadaran perubahan iklim, dan persoalan yang berkaitan dengan tantangan global. “Pelatihan pencegahan kekerasan seksual atau KDRT juga akan kita lakukan. Dan itu semua menjadi kegiatan kunci dari NU Women,” tandas Yenny. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/meski-bukan-banom-nu-women-ingin-maksimalkan-sumbangsih-perempuan-nahdliyin-K6vre
*) https://www.nu.or.id/nasional/yenny-wahid-nu-women-fokus-jawab-3-tantangan-zaman-TLOU8



