Surabaya (Radar96.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa blusukan ke Pasar Soponyono Rungkut, Surabaya, Senin (26/9) pagi, dengan nggowes pagi dari Gedung Negara Grahadi Surabaya menuju pasar itu.
Kunjungannya ke Pasar Soponyono Rungkut tersebut untuk memantau harga bahan pokok (bapok). Untuk itu, Khofifah turun langsung guna memastikan bahwa harga bahan pokok di pasar hari ini sudah stabil dan bahkan beberapa item telah kembali dijual di bawah Harga Eceran Tinggi (HET).
“Menjaga harga tetap stabil menjadi sangat penting. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat. Karena itu menjadi modal kita untuk bisa membangun agar pulih lebih cepat bangkit lebih kuat,” tegasnya.
Dalam blusukan di Pasar Soponyono, Gubernur mendapatkan bahwa harga bahan dan kebutuhan pokok di sana cukup stabil. Bahkan beberapa komoditas dijual di bawah HET.
Misalnya, daging ayam rata-rata HET-nya Rp34 ribu per kg, tapi di Pasar Soponyono rata-rata Rp32 ribu. Kemudian daging dengan kualitas paling bagus adalah Rp115 ribu per kg.
Mantan Menteri Sosial RI itu berharap pengelola pasar-pasar bisa membangun komunikasi dan koordinasi sebaik mungkin. Hal itu penting dalam rangka menjaga agar harga bahan pokok di pasaran stabil. Bisa terjadi harga sebuah komoditas di pasar tertentu cukup stabil tetapi di pasar lainnya berbeda jauh. Sehingga kordinasi antar pengelola pasar menjadi penting.
“Kita juga mengoordinasikan dengan pemerintah Kabupaten Kota untuk memetakan apa yang lebih efektif dilakukan oleh Pemprov dan apa yang lebih efektif dilakukan oleh pemerintah kota dan kabupaten untuk bersama menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan inflasi,” tandas Khofifah.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Drajat menambahkan harga-harga di pasar pada dasarnya berkisar sekitar harga eceran tertinggi (HET).
Dia menyebut, beras premium Rp 12.500, beras medium sekitar Rp 9.500, kemudian bawang merah antara Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu, kemudian bawang putih antara Rp 24 ribu – Rp 26 ribu, cabai merah besar antara Rp 40 ribu hingga Rp 55 ribu.
Namun harga cabai rawit masih tinggi Rp 55 ribu hingga Rp 63 ribu, lalu daging sapi antara Rp 115 ribu, daging ayam antara Rp 32 ribu hingga Rp 33 ribu. Kemudian telur ayam antara Rp 24 sampai Rp 25 ribu.
Selanjutnya untuk minyak goreng rata-rata Rp 14 ribu bahkan minyak curah yang dijual di bawah HET senilai Rp 14 ribu.
Sedangkan untuk gula pasir antara Rp 12.500 sampai Rp 13.500. “Dengan demikian pada dasarnya masih di sekitaran HET dan mudah-mudahan dengan beberapa upaya yang dilakukan ibu Gubernur ini bisa lebih stabil,” imbuhnya.
Operasi Pasar Lumbung Pangan

Sebelumnya (25/9), Gubernur Khofifah melepas dan memberangkatkan puluhan truk yang mengangkut komoditas kebutuhan bahan pokok dari Gedung Negara Grahadi, Minggu (25/9/2022), menuju 25 pasar yang tersebar di 8 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, untuk kegiatan Operasi Pasar Lumbung Pangan Jatim.
Menurut Gubernur Khofifah, Operasi Pasar Lumbung Pangan Jatim sengaja digelar sebagai bagian dari upaya Pemprov Jawa Timur mengendalikan inflasi, menstabilkan harga bahan pokok, meningkatkan daya beli masyarakat dan membantu meringankan beban masyarakat setelah kenaikan harga BBM.
“Hari ini kita bersama-sama membangun komitmen bahwa dampak kenaikan BBM akan bisa kita tangani dengan baik. Operasi Pasar Lumbung Pangan Jatim ini adalah upaya kita menjaga daya beli masyarakat untuk mengendalikan inflasi setelah adanya penyesuaian harga akibat kenaikan harga BBM,” tegas Gubernur Khofifah.
Mantan Menteri Sosial dan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini menegaskan bahwa komoditas yang diberangkatkan hari ini akan langsung menuju ke pasar-pasar yang ditentukan yang merupakan titik sampling BPS.
Titik sampling adalah Pasar Mangli dan Pasar Kreongan di Kab. Jember; lalu Pasar Jajag, Pasar Genteng 1, Pasar Blambangan, Pasar Rogojampi, Pasar Banyuwangi di Kab. Banyuwangi; dan Pasar Anom Baru, Pasar Bangkal Kab. Sumenep, Pasar Besar, Pasar Belimbing, dan Pasar Dinoyo di Kota Malang.
Selain itu juga ke Pasar Wonokromo, Pasar Genteng, Pasar Pucang Anom, Pasar Soponyono di Kota Surabaya; Pasar Wonoasih dan Pasar Baru di Kota Probolinggo; Pasar Setono Betek dan Pasar Pahing di Kota Kediri; serta Pasar Sleko dan pasar Besar di Kota Madiun.
Di setiap titik Operasi Pasar Lumbung Pangan Jatim ini, dijual daging ayam ras, minyak goreng, telur ayam ras, bawang merah, gula, beras, cabai kriting, cabai rawit, daging sapi. Semuanya komoditas tersebut dijual dengan harga di bawah harga pasar.
“Untuk Operasi Pasar di 8 Pasar di Kota Surabaya dan Kota Malang dilaksanakan pada setiap hari Minggu dan Senen. Sedangkan 17 lainnya dilaksanakan tiap hari Senin,” tegasnya.
Secara khusus, Gubernur Khofifah menjelaskan, Operasi Pasar Lumbung Pangan dan juga Pasar Murah, adalah bagian dari program perlindungan sosial yang digagas Pemprov Jatim guna mengendalikan inflasi akibat dampak kenaikan harga BBM.
Sebagaimana diketahui, dalam mengendalikan inflasi dampak kenaikan harga BBM ini Pemprov Jatim menggelontorkan dana dengan total Rp 257 miliar, yang diwujudkan dalam berbagai bentuk bantalan sosial.
Gubernur Khofifah menjelaskan khusus Operasi Pasar Lumbung Pangan Jatim dilakukan dengan menggandeng BPS Jatim dan dilaksanakan di 25 pasar di Jawa Timur yang menjadi sampling BPS.
Sedangkan pasar murah, lanjut Gubernur Khofifah, dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang bisa memberikan akses masyarakat untuk mudah mendapatkan beberapa komoditi yang murah dan masuk dalam Volatile food.
“Dari Rp 257 miliar salah satunya untuk Operasi Pasar di kota-kota yang pasarnya jadi sampling BPS. Oleh sebab itu, kita ingin memberikan penguatan karena masyarakat sesungguhnya membutuhkan program penguatan daya beli,” jelasnya.
Program operasi pasar ini akan terus dievaluasi setiap pekan guna mengetahui dampak dan pengaruhnya dalam pengendalikan inflasi di Jawa Timur. Karena itu, Gubernur Khofifah turut menggandeng BPS Jatim dalam penyelenggaraan program ini.
Gubernur Khofifah berharap program perlindungan sosial yang menjadi strategi Pemprov Jatim untuk mengendalikan inflasi dapat memberikan manfaat yang besar bagi berbagai stabilisasi pengendalian inflasi di Jawa Timur.
“Kita berharap bahwa daya beli masyarakat akan bisa terus dijaga dan dikendalikan inflasinya sehingga kita bisa membangun tahap kesejahteraan masyarakat yang relatif terjaga. Harapan besar ini mudah-mudahan berseiring dengan ridho dan barokah Allah,” harapnya.
Di sisi lain, Dirut PT JGU Mirza Muttaqien menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Khofifah karena telah melibatkan PT. Jatim Grha Utama (JGU) Perseroan untuk melaksanakan operasi pasar lumbung pangan Jatim untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat dampak kenaikan BBM.
Ia menyebut kelebihan Operasi Pasar Lumbung Pangan Jatim adalah sharing beban pembiayaan kegiatan. Sementara pembelian komoditas bersumber dari sinergi antar BUMD yaitu PT. JGU dan PT. Bank Jatim. Ongkos angkut dan operasional berasal dari APDB Jatim.
“Di setiap titik pasar disediakan komoditas dengan harga yang lebih murah dari harga pasar karena sebagian besar komponen dibiayai oleh APBD Pemprov Jatim,” ucap Mirza.
Sementara itu, Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan menyampaikan bahwa terkait inflasi, pengeluaran masyarakat yang paling bergejolak adalah bahan makanan atau Volatile food.
Ia mengatakan strategi Gubernur Khofifah menggelar operasi pasar dan pasar murah untuk menahan gejolak harga adalah langkah tepat.
Pasalnya dengan langkah tersebut akan mampu menciptakan daya beli masyarakat. Ia mengungkapkan naiknya harga BBM pada 3 September yang lalu berdampak pada inflasi di Jawa Timur.
“Sangat tepat program dari ibu Gubernur bagaimana agar pengendalian harga ini dan daya beli masyarakat bisa tercipta,” kata Dadang Hardiwan. (*/hmn)



