Trenggalek, radar96.com – Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi (PDUF) MUI Jawa Timur menjajaki peluang kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam pengembangan Green Carbon dan peringatan Hari Santri Nasional (HSN).
Pertemuan keduanya di Pendopo Manggala Praja Nugraha pada Jumat (26/6/26) menjadi forum awal untuk memperkuat sinergitas antara organisasi keagamaan dan pemerintah daerah dalam menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat.
Hadir dalam pertemuan itu Ketua Komisi PDUF MUI Jawa Timur, H Miftah Jauhari (Gus Miftah), Ketua Departemen 5 (Bidang Riset dan Konsultansi Bisnis) Mochamad Baidowi, Ketua Departemen 3 (Bidang Kerja Sama Korporasi) M. Syafi’i, serta Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, sebagai tuan rumah.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah pengembangan Green Carbon dan Carbon Trading sebagai instrumen ekonomi hijau. Melalui pendekatan ini, upaya pengurangan emisi dan pelestarian lingkungan dapat dikembangkan menjadi nilai tambah ekonomi, sepanjang dilakukan melalui proses yang terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mochamad Badowi menyampaikan bahwa Green Carbon perlu dipahami sebagai strategi pembangunan yang mampu menghubungkan agenda lingkungan dengan penguatan ekonomi umat. Menurutnya, program karbon tidak boleh berhenti pada aspek teknis, tetapi juga harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Green Carbon bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi peluang strategis untuk menghubungkan konservasi, pemberdayaan ekonomi umat, dan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Melalui pendekatan yang tepat, potensi lokal dapat dikelola menjadi nilai ekonomi baru yang produktif, terukur, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, Departemen 5 PDUF MUI Jatim dapat mengambil peran dalam penguatan kajian, pemetaan potensi, penyusunan model kolaborasi, serta pendampingan program agar pengembangan Green Carbon memiliki dasar yang kuat dan tidak hanya menjadi agenda seremonial.
Ketua Komisi PDUF MUI Jawa Timur, H Miftah Jauhari atau Gus Miftah, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ekosistem filantropi modern. Menurutnya, dana umat dan program pemberdayaan perlu diarahkan tidak hanya untuk bantuan sosial, tetapi juga untuk mendorong lahirnya program produktif yang berdampak jangka panjang.
“PDUF MUI Jatim ingin menghadirkan filantropi yang lebih modern, profesional, dan berdampak. Dana umat, kemitraan, dan program sosial perlu dikelola sebagai kekuatan pemberdayaan yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi, menjaga lingkungan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,”
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menyambut baik penjajakan kolaborasi tersebut. Ia menilai pengembangan ekonomi hijau dan kegiatan sosial-keagamaan dapat menjadi ruang kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta arah pembangunan daerah.
“Trenggalek terbuka terhadap kolaborasi yang mendukung pembangunan hijau, penguatan ekonomi daerah, dan pemberdayaan masyarakat. Prinsipnya, setiap program harus dapat dijalankan secara terukur, memberi manfaat nyata, dan melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan,” tuturnya.
Selain pembahasan mengenai Green Carbon, PDUF MUI Jatim melalui Departemen 3 juga menjalin komunikasi awal dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek terkait rencana kolaborasi peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Program ini direncanakan dengan kegiatan santunan dan pengajian yang akan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Trenggalek.
Ketua Departemen 3, M Syafi’i, menyampaikan bahwa kolaborasi HSN diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga ruang untuk memperkuat nilai keislaman, kebangsaan, kepedulian sosial, dan peran santri dalam kehidupan masyarakat.
“Momentum Hari Santri ingin kami hadirkan sebagai ruang kebersamaan yang memberi manfaat nyata. Melalui santunan dan pengajian di Pendopo Kabupaten Trenggalek, kami berharap sinergi antara PDUF MUI Jatim dan Pemerintah Kabupaten Trenggalek dapat memperkuat kepedulian sosial sekaligus meneguhkan peran santri dalam pembangunan daerah,” jelasnya.
Pengembangan Green Carbon dinilai cukup luas. Potensi lokal seperti kawasan hijau, pengelolaan lahan, pertanian berkelanjutan, konservasi lingkungan, pengelolaan limbah, hingga pemberdayaan komunitas dapat menjadi bagian dari program yang terintegrasi dengan pembangunan daerah.
PDUF MUI Jatim menilai, program Green Carbon tidak hanya berkaitan dengan agenda pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi umat. Program tersebut dapat diarahkan untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, pengelolaan potensi lokal, serta pembentukan ekosistem ekonomi berkelanjutan di daerah.
Ke depan, penjajakan kolaborasi ini diharapkan dapat berlanjut pada langkah yang lebih konkret. Beberapa agenda awal yang dapat dikembangkan antara lain identifikasi potensi daerah, penyusunan kajian awal, pengembangan model percontohan, penguatan literasi masyarakat, serta penyusunan skema kerja sama yang melibatkan pemerintah, organisasi keagamaan, dunia usaha, pesantren, akademisi, dan komunitas lokal.
Melalui sinergi tersebut, kolaborasi PDUF MUI Jatim dan Pemerintah Kabupaten Trenggalek diharapkan tidak hanya menjadi agenda lingkungan dan sosial-keagamaan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan. Green Carbon dan program Hari Santri menjadi dua pintu masuk untuk memperkuat nilai keumatan, tata kelola lingkungan, kepedulian sosial, serta kemandirian ekonomi masyarakat.



