Surabaya, Radar96.com – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jatim, Dr.Hj.Hesti Armiwulan S.,S.H.,M.Hum, menilai masih terjadinya peledakan bom bunuh diri merupakan bukti masih adanya terorisme sebagai ancaman dalam kehidupan masyarakat.
“Dalam kasus bom bunuh diri di Mapolsek Astana Anyar Bandung, menunjukkan adanya kencenderungan lahan subur bagi benih-benih radikalisme dan terorisme.
Fakta ini merupakan betapa aksi tebar ketakutan berbaur teror, merupakan peluang benih-benih ekstremisme dan radikalisme yang harus terus diwaspadai,” tuturnya, dalam keterangan pers, Jumat (9/12/2022).
Menurut dia, meningkatnya kepercayaan diri akibat suksesnya peledakan bom bunuh diri seharusnya menjadi alarm bagi kewaspadaan bersama terhadap ancaman terorisme yang makin dekat caranya dengan gerak bersama, karena itu siapa pun pelakunya harus mendapat sanksi hukum yang berat.
“Kejadian bom bunuh diri tersebut harus menjadi peringatan agar kita semua terus meningkatkan kewaspadaan menjaga NKRI,” tuturnya, didampingi Kabid Media Massa, Hukum dan Humas FKPT Jawa Timur, Riadi Ngasiran.
Senada itu, Bendahara FKPT Jatim, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag, menyatakan terjadinya bom bunuh diri di Astana Anyar Bandung merupakan kejahatan yang tidak berperikemanusiaan dan mengindikasikan sel sel jejaring gerakan radikalisme terorisme masih berada di sekitar kita.
“Mari kita tingkatkan kewaspadaan dan bersatu padu menjaga keutuhan NKRI,” kata Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Sementara itu, Ketua Bidang Perempuan dan Anak FKPT Jawa Timur, Dra. Faridatul Hanum, MKom., menegaskan bahwa Ibu adalah madrasatul ula, pemberi pelajaran pertama dalam Keluarga akan kesadaran penanaman nilai-nilai ajaran Islam yang benar.
“Di antara pelajaran atas kasus bom bunuh diri di Mapolsek Astana Anyar Bandung adalah pentingnya menjaga anak-anak kita dari pengaruh pemaknaan Jihad yang tak tepat pada kondisi negara damai. Padahal pemaknaan Jihad dalam negara damai adalah dengan keseriusan mengembangkan ilmu pengetahuan guna berkhidmah untuk kepentingan agama dan masyarakat secara luas,” katanya.
Pandangan yang serupa disampaikan oleh Kabid Agama Sosbud FKPT Jawa Timur, Muchamad Arifin, yakni ledakan bom bunuh diri di kantor Polsek Astana Anyar, Bandung, mengakibatkan dua orang meninggal dunia merupakan perbuatan teror yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama tertentu.
“Mari kita jaga persatuan ditengah keanekaragaman yang ada di NKRI ini dengan tetap waspada pada gerakan radikalisme dan terorisme,” katanya.
Hal itu pun didukung Kabid Media Massa, Hukum dan Humas FKPT Jawa Timur, Riadi Ngasiran. “Bom bunuh diri merupakan tindakan konyol dan demonstrasi ketololan yang merugikan, tak hanya bagi pelakunya melainkan juga merugikan orang lain,” katanya.
Hal itu justru bertentangan dengan nilai ajaran Islam yang mengutamakan pentingnya menjaga keselamatan diri (hifdzun nafs) dan menebarkan kebaikan di muka bumi. “Terorisme seperti itu justru mencederai nilai Islam yang seharusnya membawa rahmat bagi kerahmatan alam semesta,” katanya. (*/fkptjtm)



