Tuban, radar96.com – Di tengah riuh-rendah alun-alun Tuban yang hari itu dipenuhi tenda, panggung, dan anak-anak berseragam pada Jum’at (29/8), ada satu video yang membuat Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky berhenti sejenak. Ia menonton. Diam. Lalu tersenyum. Video itu bukan karya sineas profesional, bukan pula hasil editing studio mahal, tapi isinya mengguncang.
Video tersebut karya murid MA Sains Bina Insan Kamil Tuban bernama Tsalis Magistra Brilianti. Judulnya sangat sederhana: Stop Bullying. Namun ada cara yang indah dalam menyampaikan pesan. Narasi jernih, visual yang menyentuh, dan keberanian yang tak biasa. Karya Tsalis dinobatkan sebagai juara terbaik dalam Festival Anak Berani Bicara 2025.

Ia menerima Piala Bupati Tuban. Di tengah sorak-sorai, Tsalis hanya menunduk. Mungkin malu. Mungkin terharu.Tsalis memberi hadiah untuk madrasah. Teguh Pambudi Agung, Kepala MA Sains BIK Tuban, berdiri di belakang Tsalis. Ia tidak banyak bicara. Tapi kalimatnya cukup, “Ini anugerah dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menginginkan Ananda lebih banyak belajar. Tetap rendah hati. Lanjutkan peduli dan berkarya untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya bullying,” nasehat Teguh.
Teguh tidak datang sendiri. Ia membawa 14 murid lain yang juga menerima medali dari Bupati. Mereka bukan pemenang utama, tapi mereka berani bicara, dan itu sudah cukup.
Yang menarik, Teguh juga membawa enam karya literasi muridnya: tiga antologi puisi, satu cerpen, dan dua novel. Semua diserahkan langsung kepada Bupati. Tidak untuk dipamerkan. Tapi untuk dibaca dan direnungkan. Festival menjadi titik kumpul kebersamaan. Diselenggarakan oleh Forum Anak Kabupaten Tuban dan Forum Puspa.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Yayasan Bina Insan Kamil Tuban, KH Imam Mawardi Ridlwan menuturkan ada adab dan akhlak di saat para murid mengangkat tema bullying. “Para murid MA Sains Bina Insan Kamil Tuban semoga berakhlakul karimah,” tutupnya



