Makkah, radar96.com – Semangat persaudaraan dan kolaborasi warga NU lintas negara kembali menguat dalam kegiatan Silaturahmi dan Temu Nahdlatul Ulama Sedunia ke-23 yang diselenggarakan pada 15 Dzulhijjah 1447 H/ 1 Juni 2026 M di kawasan Raudhah, Sektor 502, Makkah, Arab Saudi.
Kegiatan yang mengusung tema “Khidmah Bersama, Ekonomi Berdaya” ini menjadi ruang konsolidasi bagi warga Nahdliyin dari berbagai negara untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat jaringan keumatan, sekaligus bertukar gagasan dalam menjawab tantangan global yang terus berkembang.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Arab Saudi, KH Ahmad Fahmi, bersama para tokoh dan perwakilan warga NU dari berbagai negara. Dari Indonesia, hadir Ketua Umum Pergunu, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MAg dan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Ahmad Kafabihi Mahrus. Hadir pula Sekretaris One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur, Gus Ghofirin, yang turut mengikuti berbagai diskusi strategis mengenai peran NU dalam menjaga moderasi beragama, memperkuat persatuan umat, serta menghadirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin di tingkat internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Fahmi menegaskan bahwa keberadaan warga NU di luar negeri harus menjadi kekuatan moral dan intelektual serta mampu menghadirkan wajah Islam yang damai, toleran, dan berkeadaban. Menurutnya, silaturahmi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum untuk memperkuat jaringan keumatan dan kebangsaan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas di berbagai belahan dunia.
“Warga Nahdlatul Ulama yang berada di berbagai negara memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga nilai-nilai moderasi, mempererat persaudaraan, serta menjadi duta Islam rahmatan lil alamin. Melalui forum seperti ini, kita dapat saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan membangun kerja sama yang bermanfaat bagi umat maupun bangsa,” ujar Kiai Fahmi di hadapan peserta.
Sekretaris OPOP Jatim Gus Ghofirin menilai, semangat kebersamaan yang terbangun dalam forum internasional ini juga memiliki relevansi kuat terhadap upaya pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, jaringan warga NU yang tersebar di berbagai negara dapat menjadi potensi besar untuk memperluas kerja sama ekonomi, membuka akses pasar produk pesantren, serta mendorong kemandirian masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
“Forum ini menunjukkan bahwa kekuatan Nahdliyin tidak hanya terletak pada aspek keagamaan, tetapi juga pada kemampuan membangun jejaring yang produktif. Semangat ini sejalan dengan program OPOP yang digagas oleh Ibu Gubernur Jawa Timur, Dr (HC) Hj Khofifah Indar Parawansa, MSi. Program OPOP Jawa Timur terus mendorong pemberdayaan ekonomi warga melalui penguatan pesantren, santri, dan masyarakat agar mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing,” ujar Gus Ghofirin.
Ia menambahkan, OPOP Jawa Timur terus mengembangkan tiga pilar utama, yakni Pesantrenpreneur untuk memperkuat kelembagaan dan usaha pesantren, Santripreneur untuk mencetak santri yang kreatif dan berjiwa wirausaha, serta Sosiopreneur yang mendorong pemberdayaan alumni pesantren yang mengembangkan usaha.
Melalui sinergi dan jejaring yang semakin luas, termasuk dengan warga NU di tingkat internasional, OPOP optimis dapat memperkuat ekosistem ekonomi umat sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat.

