Surabaya, radar96.com – Imam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakki Alhafidz menegaskan bahwa hijrah atau pindah/berubah adalah keniscayaan di dunia, karena itu jangan takut berhijrah untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan, bahkan jadikan hijrah sebagai momentum untuk bangkit dan melangkah ke depan yang lebih baik.
“Hijrah itu keniscayaan, karena hidup itu pasti hijrah. Misalnya, pegawai yang ditugaskan ke luar pulau, tentu isteri pasti ikut, karena abdi negara. Berdoalah seperti doa hijrah dari Rasulullah, Ya Allah, jadikan cintaku ke pulau itu sama dengan Surabaya, bahkan lebih,” katanya dalam Kajian Senja di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, Rabu (24/6).



Dalam kajian senja episode ke-17 bertema “Jangan Takut Berhijrah” yang dipandu Hj Nur Cita Qomariyah Helmy itu, KHA Muzakky AlHafidz yang juga Dewan Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya itu mengingatkan hijrah itu berubah untuk kebaikan dan pasti ada ujian juga.
“Dari yang tidak baik ke baik, dari yang baik menuju yang lebih baik lagi, dari yang tidak bisa baca Al-Qur’an ke bisa baca Al-Qur’an, dari bisa baca ke bisa baca Al-Qur’an dengan lebih baik, dari bisa baca dengan baik ke bisa mengamalkan Al-Qur’an,” katanya.
Namun, orang hijrah itu pasti diuji, misalnya hijrah ke jilbab. “Mungkin ada Sahabat yang bilang hijab itu casing saja tapi perilaku masih tetap. Ini ujian, karena itu jawab saja bahwa saya pakai hijab bukan karena saya sudah lebih baik, tapi saya pakai hijab karena ingin lebih taat kepada Allah,” katanya.
Meski meluruskan sahabat yang berkomentar, namun jawaban itu tetap harus disampaikan dengan cara/akhlak yang baik, jangan sampai memutuskan silaturahim, tapi kalau sudah berusaha memberi jawaban dengan baik dan sahabat tetap menjauh, maka menghindari terjerumus dari teman yang tidak baik itu tetap penting.
“Yang penting, bahasa dan ekspresi kita dalam pergaulan tidak sampai menyakiti, menjadi orang Islam yang baik itu harus menyenangkan. Tidak ada hijrah tanpa perjuangan, karena hijrah itu berjuang atau berjihad. Orang mau baik itu perlu pengorbanan, seperti dikucilkan orang dekat, kehilangan pekerjaan. Hijrah dan kehilangan itu biasa, karena hijrah itu memang mahal harganya,” katanya.
Tentang kehilangan pekerjaan saat berhijrah, KHA Muzakky Alhafidz menyarankan untuk tetap berlapang dada, karena Allah berjanji akan memberikan rezeki yang lebih lapang kepada mereka yang berhijrah. “Rezeki itu dominan terkait perilaku, bukan doa, karena itu penting untuk berperilaku ikhlas, sholat tepat waktu, sholat dhuha, baca Al-Qur’an Surah Al-Waqiah, bersikap jujur, dermawan, suka membantu, dan jaga diri dari kemaksiatan,” katanya.
Menurut KHA Muzakki Alhafidz, pengalaman Nabi Muhammad SAW dalam hijrah adalah contoh untuk menjadikan momentum hijrah sebagai momentum bangkit menjadi lebih baik, karena kehidupan Nabi selama 53 tahun di Mekkah dan pindah ke Madinah hanya 10 tahun, namun 53 tahun di Mekkah tidak mendapatkan apa-apa, kecuali hinaan dan ancaman dibunuh, sedangkan 10 tahun di Madinah jutsru merasakan nikmatnya hidup dalam Islam.
“Seandaiya Nabi nggak hijrah, saya tidak yakin Islam bisa sampai ke Surabaya, dan Pesantren Al-Yasmin juga mungkin tidak ada, tapi gara-gara hijrah ke Madinah, Nabi bisa membangun peradaban selama 10 tahun, peradaban masyarakat madani dan Islam tersebar ke seluruh dunia. Nabi juga hijrah bukan atas kemauan sendiri, tapi terpaksa, karena diusir oleh kaumnya, tapi keterpaksaan dan diusir itu berkah hingga beliau merasakan kenyamanan hidup, keberkahan Islam, karena itu kita harus bermental hijrah ke kondisi lebih baik,” katanya.
Nabi itu hidup di Mekkah dan Madinah, tapi wafat di Madinah dan Nabi sangat mencintai Madinah. “Doa Nabi adalah Ya, Allah, jadikan cintaku ke Yasrib/Madinah sama dengan cintaku ke Mekkah, bahkan lebih. Doa itu dikabulkan. Nabi betah di Madinah. Madinah itu berkah, karena Nabi. Karena niatkan hijrah untuk Allah. Kalau meninggal saat hirah akan mati syhaid, masuk surga tanpa hisab,” katanya. (*/alyasmin)



