Surabaya, radar96.com – Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab), menegaskan bahwa sikap FOMO (fear of missing out) atau rasa takut tertinggal trend (ikut-ikutan) itu sangat merugikan, karena bisa membuat lalai terhadap diri sendiri, waktu/umur, dan akhirat.
“Kalau kita ngaji Al-Qur’an, Surat Attakasur justru menunjukkan bahwa fenomena FOMO itu sudah terjadi pada zaman Nabi. Surat Attakasur itu turun gara-gara ada dua kabilah dari Sahabat Ansor yang suka saling membangga-banggakan kelompoknya,” katanya dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya (12/8), sebagaimana keterangan tertulis dari Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Senin.
Kedua kabilah yang disebut Bani Haris dan Bani Harisah itu saling membanggakan jumlah kelompoknya dan anggota kelompoknya yang menjadi jenderal/pengusaha/pejabat hingga lupa tujuan hidup, bahkan Imam Jalaluddin As Suyuti menyebut kedua kelompok itu sampai mengajak ke kuburan untuk menghitung jumlah kelompok yang paling banyak dan paling mulia/baik.
“Kalau sekarang, fenomena itulah yang dikenal sebagai FOMO atau membangga-banggakan diri sebagai orang yang paling tidak ketinggalan trend atau sesuatu yang paling baru, sehingga justru terjebak dalam ikut-ikutan arus atau tidak mempunyai prinsip, serta menyibukkan dengan apa yang diperbuat orang lain dan bahkan sampai larut tanpa mengenal waktu hingga tidak sadar kalau sudah dekat ke akhirat,” katanya.
Jadi, FOMO itu justru tidak menjadi orang lebih baik karena adanya trend yang mungkin lebih baik, namun FOMO justru membuat orang terjebak dalam tiga jebakan yang negatif dan merugikan yakni ilusi yang membuatnya memakai standar/kacamata orang lain yang belum tentu cocok/tepat, lupa waktu karena lomba trend, dan hobi pamer/posting.
“Jebakan ilusi membuat orang sibuk dengan apa yang dilakukan orang lain agar tidak dianggap ketinggalan atau kuper (kurang pergaulan), padahal kacamata/standar orang lain itu belum tentu cocok, bahkan bisa membuat pertengkaran dengan isteri atau keluarga karena faktor eksternal itu,” katanya.
Sementara itu, jebakan lupa waktu akibat menghabiskan waktu untuk mengikuti lomba trend demi gengsi. “Efek jebakan ini lebih parah lagi kalau jebakan dalam lupa waktu akibat lomba trend itu justru membuatnya menjadi fokus pada dunia atau mengikuti apa kata orang, tapi lupa pada apa kata Allah atau lalai untuk fokus akhirat,” katanya.
Satu lagi jebakan FOMO adalah hobi pamer. “Kalau puas ya posting, kalau nggak posting ya nggak puas. Hobi pamer itu nggak ada habisnya dan nggak pernah merasa cukup. Problem FOMO itu merasa senang bila like/follower yang banyak, sehingga bisa tertawa atau menangis sendiri, yang di masa lalu justru disebut gila, tapi sekarang justru dianggap modern, sehingga waktu habis untuk (melihat) orang lain, ikut trend dunia,” katanya.
Bagaimana agar tidak mudah terjebak dalam FOMO ? Solusinya adalah kembali pada ruang batin atau kembali pada diri sendiri, karena ketenangan itu ada di dalam hati, bukan di luar atau bukan ada pada trend atau bukan ada pada orang lain. “Kebahagiaan itu ada di dalam hati, bukan di story/posting medsos,” katanya.
Solusi kedua adalah membatasi diri dari melihat kehidupan orang lain atau melihat trend di atas diri kita, karena hal itu tidak akan pernah ada puasnya atau tidak pernah ada habisnya, apalagi FOMO itu cenderung melihat trend “di atas”, padahal manusia itu bisa puas kalau justru melihat trend dibawah. “Kita nggak akan pernah ada puasnya kalau tidak melihat orang yang nggak punya apa-apa,” katanya.
Solusi ketiga, bukan hanya kembali pada diri sendiri dan membatasi diri dari melihat trend di atas, namun juga kembali kepada kematian atau ingat mati, karena “dzikrul maut” itulah yang bisa membuat kita fokus pada diri sendiri dan fokus pada Allah/akhirat. “Jadi, FOMO itu mungkin saja baik untuk memotivasi diri, tapi jangan sampai lalai dengan diri sendiri karena terjebak untuk memaksa ikut trend, padahal standar/ukuran orang itu beda-beda,” katanya. (*/Yasmin)



