Pasuruan, Radar96.com – Kader dan Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Jawa Timur dari lintas zaman membahas pentingnya “kesalehan digital” dalam Halalbihalal dan workshop bertajuk “Booming Generasi Digital” yang diadakan PW IPNU Jawa Timur di Kota Pasuruan, Minggu (21/5/2023).
“Sejak 10 tahun terakhir, banyak pertanyaan kepada saya, intinya apakah betul foto atau video ini dengan narasi ini, itu banyak ditanyakan, terlebih saat pemilu,” ucap jurnalis senior LKBN ANTARA Edy M Yakub di hadapan para alumni dan kader IPNU lintas zaman itu.
Dalam acara yang dihadiri Ketua Majelis Alumni IPNU Jatim HM Muzammil Syafii dan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) IPNU M Agil Nuruz Zaman itu, Edy pun menyampaikan faktor penyebab kenapa di era digital saat ini banyak orang yang masih belum mengerti dalam membedakan, mana yang salah maupun fakta.
“Pandangan saya, kemungkinan masyarakat Indonesia belum mengalami budaya baca, hanya budaya dongeng yang langsung ke budaya tonton, sehingga gosip lebih laku, terlebih saat masuknya internet, jadi gosip makin menyebar atau tidak bisa kritis,” katanya.

Oleh karena itu, kata Edy yang juga penulis buku berjudul “Kesalehan Digital” itu, banyak masyarakat yang sering tertipu terkait persoalan yang ramai dibincangkan di dunia digital, terutama di media sosial.
“Banyak yang tertipu, masyarakat sering dikasih/diberi foto maupun video yang dianggap fakta, karena bukti gambar, padahal hal itu di dunia digital belum tentu kebenarannya, harus dicek dulu, bukan dianggap benar karena ada foto atau video-nya. Itulah membuat saya tergerak untuk menulis buku Kesalehan Digital ini,” ujarnya.
Dalam acara yang juga dihadiri sejumlah mantan aktivis IPNU lintas zaman itu, Edy menjelaskan apa yang di-share di dunia digital itu kalau salah akan terus ada, meskipun orang yang bicara itu meninggal, namun tuduhan itu akan terus ada sehingga berisiko dalam agama.
Namun, lanjutnya, tak semuanya dalam dunia digital berdampak buruk, contoh seseorang yang menjadi seorang pemain gim ESport, kemudian kasus Sambo yang akhirnya terkuak. “Ada juga gotong royong untuk kemanusiaan yang dihimpun melalui dunia digital,” kata Edy.
Oleh karena itu, Edy berpesan solusi agar “selamat” di dunia digital ada tiga hal menurut panduan dari pola kesahihan hadits hadits, tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
“Yang pertama harus ada sanad, usahakan informasi ada sumbernya dan ahlinya. Kedua, matan, yakni konten atau isi harus tabayyun atau adil dan tidak memihak serta harus ukhuwah atau untuk kepentingan publik, sedangkan yang terakhir, rawi, yakni media yang memuat informasi tersebut harus kredibel atau terverifikasi,” ujar Edy.
Sementara itu, Anggota DPRD Jatim dari Fraksi NasDem yang juga Ketua Majelis Alumni (MA) IPNU Jawa Timur H.Muzammil Syafi’i mendorong generasi milenial, khususnya yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) untuk melek digital.
Menurut dia, generasi milenial saat ini sudah sangat tergantung pada digital. Bahkan, populasi mereka sebanyak 69,38 juta atau setara dengan 25,87 persen dari total penduduk Indonesia, sehingga jumlahnya cukup begitu dominan.
“Saya berpesan agar generasi milenial ini melek digital dan perlu menguasainya agar tetap bisa eksis bersaing dengan kehidupan dialaminya, sehingga dikuasai oleh dunia digital itu sendiri yang justru merugikan masa depannya,” tandasnya.
Menjelang akhir acara, Edy menyerahkan buku “Kesalehan Digital” secara simbolis untuk Ketua Majelis Alumni IPNU Jatim HM Muzammil Syafii dan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) IPNU M Agil Nuruz Zaman. “Bukunya sudah ada di marketplace atau Toko Gramedia,” ujar Edy kepada keduanya. (*/pna)


