By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Refleksi Hari Kesakstian Pancasila: Menegaskan Kembali Hubbul Wathon Minal Iman
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Refleksi Hari Kesakstian Pancasila: Menegaskan Kembali Hubbul Wathon Minal Iman
Kolom

Refleksi Hari Kesakstian Pancasila: Menegaskan Kembali Hubbul Wathon Minal Iman

02/10/2025 Kolom
Achmad Muzakky Cholily, Aktivis Budaya Nahdlatul Ulama
SHARE

Oleh Achmad Muzakky Cholily *)

Tanggal 1 Oktober selalu diwarnai ingatan heroik: Hari Kesaktian Pancasila. Ini adalah pernyataan tegas bangsa bahwa fondasi ideologi kita tak terkalahkan. Namun, hari ini, kita tidak sedang menghadapi tank atau senapan, melainkan perang narasi di saku kita sendiri, di mana ideologi kaku mengancam kohesi kebangsaan via media sosial.

Di sinilah peran Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi massa terbesar dan teruji dalam sejarah, menjadi benteng pertahanan kultural paling vital. Kesaktian Pancasila hari ini dipertahankan, bukan hanya oleh negara, melainkan oleh gerakan tradisi keagamaan yang mengakar kuat, yang kita kenal sebagai Islam Nusantara.

Sejak awal berdirinya Republik, para muassis (pendiri) NU telah menunjukkan kecerdasan teologis dan kebangsaan. Mereka tidak pernah melihat Pancasila sebagai ancaman, melainkan sebagai “Piagam Kebangsaan” yang kompatibel dengan syariat. NU menerima Pancasila sebagai “final” setelah melalui ijtihad serius dan mendalam.
Sikap ini bersumber pada prinsip utama ahlussunnah wal jama’ah yang dipegang NU: Tawassuth (Moderat). Menjaga jalan tengah, menolak ekstrem kanan dan kiri, adalah inti dari Kesaktian Pancasila itu sendiri. NU telah membuktikan bahwa menjadi Muslim yang kaffah dan Warga Negara Indonesia yang sejati adalah dua hal yang tidak perlu dipertentangkan.
Konsep Islam Nusantara adalah perwujudan paling nyata dari keselarasan ini. Ia mengajarkan Islam yang beradaptasi dengan kearifan lokal (tawazun) dan penuh toleransi (tasamuh). Melalui tradisi seperti Tahlilan, Ziarah, atau perayaan Maulid, nilai-nilai ketuhanan diakulturasikan dengan budaya, sehingga Sila Persatuan Indonesia terjaga dalam laku spiritual.
Sayangnya, di era digital, tradisi-tradisi mulia ini justru seringkali diserang oleh ideologi puritan dan transnasional yang anti-budaya. Mereka memanfaatkan platform daring untuk menyebarkan narasi bid’ah dan kafir untuk memecah belah persatuan umat dan bangsa.
Maka, para Aktivis Budaya NU harus berada di garda terdepan kontra-narasi ini. Senjata kita bukanlah kebencian, melainkan hikmah, seni, dan penjelasan sejarah yang kuat. Kita menjawab narasi khilafah yang kaku dengan dakwah santun dan mengayomi yang dicontohkan para wali songo.
Ajaran “Hubbul Wathon Minal Iman” (cinta tanah air adalah sebagian dari iman), yang menjadi spirit pondok pesantren, adalah benteng teologis paling ampuh. Ketika ideologi lain meragukan nasionalisme umat Islam, NU menegaskan bahwa membela negara adalah wajib dan bagian dari ketaatan pada Allah SWT.
Lebih dari sekadar narasi sejarah, Kesaktian Pancasila juga harus dievaluasi dari keterwujudan Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kesaktian ideologi ini akan rapuh jika masih ada ketimpangan yang dilegitimasi.
Prinsip I’tidal (Keadilan) dan keberpihakan pada mustadh’afin (kaum lemah), yang diajarkan oleh para kiai, menuntut kita untuk bersikap kritis terhadap ketidakadilan struktural. NU harus terus bersuara lantang menuntut pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Oleh karena itu, mari kita jadikan peringatan 1 Oktober ini bukan sekadar upacara, melainkan momentum konsolidasi kultural. Kita harus aktif memanfaatkan semua platform untuk menyebarkan Islam ala Nusantara yang ramah dan rahmatan lil ‘alamin.
Kesaktian Pancasila adalah Kesaktian Tradisi. Selama NU dan Islam Nusantara tetap hidup, berdenyut, dan mengakar, selama itu pula ideologi bangsa ini akan tetap kokoh berdiri, menjadi payung bagi seluruh elemen bangsa. (*)

*) Penulis adalah Aktivis Budaya Nahdlatul Ulama

Iklan.

You Might Also Like

MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Dapur SPPG Ramah Anak: Menyajikan Cinta dalam Setiap Sajian
Next Article RMI NU Jatim Bantah Eksploitasi Santri dan Bantuan di Pesantren Al-Khoziny

Advertisement



Berita Terbaru

MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35
Kolom
Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35
Kolom
Sowan Rektor, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Perkuat Kolaborasi dengan UPN “Veteran” Jawa Timur
Sospol
Siap Diajak Diskusi, ISNU Jatim: Penutupan Prodi Kependidikan Tidak Boleh Tergesa-gesa
Nahdliyyin

You Might also Like

KolomNahdliyyin

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

24/04/2026
Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?