Tulungagung, radar96.com – Dalam suasana penuh kekhusyukan dan semangat kebangsaan, Pesantren Al Azhaar Kedungwaru Tulungagung menyelenggarakan Majelis Dzikir Jama’i pada Ahad pagi (19/10/25). Kegiatan itu digelar sebagai bentuk peringatan Hari Santri Nasional (HSN), sekaligus momentum spiritual untuk memperkuat karakter dan silaturrahim di kalangan santri, para guru, dan masyarakat sekitar.
Bertempat di hall utama pesantren, acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembacaan maulid, dzikir jama’i, qiroatul Quran, dan taujih ruhaniyah oleh Prof Dr KH Imam Suprayogo. Gema “Laa ilaaha illallah” menggema dari setiap sudut ruangan, menyatukan hati dalam doa dan dzikir yang menyejukkan jiwa.
Dalam taujihnya, Prof Imam Suprayogo menekankan pentingnya membangun komunikasi sebagai jalan menuju kesuksesan hidup dan akhirat. “Komunikasi dengan Allah melalui shalat, dengan Rasulullah melalui shalawat, dan dengan sesama melalui silaturrahim,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak melupakan dua rumahnya, yaitu rumah jasmani tempat kita hidup, dan rumah rohani yaitu Baitullah, tempat kita menghadap setiap hari sebagai bentuk tirakat dan penguatan rohani, yakni shalat setiap hari lima kali.
Pengasuh Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, KH Imam Mawardi Ridlwan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa majelis dzikir jama’i merupakan kegiatan rutin setiap pekan ketiga. “Tujuannya adalah pembentukan karakter santri yang tangguh, bersyukur, dan berkhidmat. Serta para orang tua wajib melakukan tirakat untuk putra-putrinya,” tegas Abah Imam. Dalam konteks HSN, Abah Imam menegaskan bahwa peringatan ini adalah wujud melanjutkan resolusi jihad sebagai upaya merawat perjuangan bangsa.
Majelis dzikir jama’i kali ini dihadiri oleh lebih dari sembilan ratus jamaah, termasuk para wali santri, menjadikannya wadah silaturrahim yang memperkuat ikatan spiritual dan kebangsaan. Acara ditutup dengan doa oleh Ustadz Thoha Syaifuddin yang memohon keselamatan bangsa, kemajuan umat, dan keberkahan bagi para santri sebagai generasi penerus perjuangan.
Hari Santri Nasional di Al Azhaar bukan sekadar seremoni, melainkan napas perjuangan yang terus dihidupkan melalui dzikir, ilmu, dan khidmat. Sebuah pesan bahwa santri adalah penjaga ruh bangsa, dan dzikir adalah senjata damai yang menguatkan langkah mereka.

