By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kuliah Tamu di FISIP UNAIR, Akademisi AS: Menulis Itu Bukan Buat Pamer Kepintaran
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Kuliah Tamu di FISIP UNAIR, Akademisi AS: Menulis Itu Bukan Buat Pamer Kepintaran
Sospol

Kuliah Tamu di FISIP UNAIR, Akademisi AS: Menulis Itu Bukan Buat Pamer Kepintaran

21/05/2026 Sospol
SHARE

Surabaya, radar96.com – Kuliah tamu bertema “Scientific Writing in International Journals” di FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Kamis (21/5/2026), berubah menjadi ruang refleksi kritis tentang budaya akademik Indonesia.

Di hadapan puluhan mahasiswa doktoral di Ruang PBB Gedung C FISIP UNAIR, akademisi asal Amerika Serikat Prof Ronald Lukens-Bull melontarkan kritik tajam terhadap cara akademisi Indonesia menulis karya ilmiah.

“Menulis itu bukan buat pamer kepintaran,” ujar Ronald Lukens-Bull disambut perhatian serius para peserta.

Menurut dia, banyak tulisan akademik di Indonesia terlalu rumit, berputar-putar, dan tidak langsung menuju inti persoalan, padahal tulisan ilmiah internasional justru menuntut kejelasan argumen dan kemampuan menyampaikan gagasan secara sederhana.

“Write to express and connect, not to impress,” katanya dalam forum yang dipandu Sulih Indra Dewi itu.

Ronald menilai budaya akademik Indonesia masih kerap menganggap tulisan yang rumit sebagai tanda kecerdasan.

Akibatnya, banyak karya ilmiah dipenuhi istilah teknis dan kalimat panjang yang justru membuat pembaca sulit memahami substansi penelitian.

Ia juga menyinggung beratnya tekanan publikasi yang dihadapi akademisi Indonesia, terutama dosen yang dituntut terus menghasilkan artikel ilmiah di tengah beban administratif kampus.

Menurut Ronald, persoalan tersebut bahkan lebih berat bagi akademisi perempuan yang sering menghadapi tekanan ganda antara pekerjaan akademik dan tanggung jawab domestik.

Karena itu, ia menyarankan mahasiswa doktoral mulai menulis dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi, atau bidang yang benar-benar mereka kuasai.

“Kalau kamu menulis sesuatu yang dekat dengan dirimu, kamu akan lebih mudah menyelesaikannya,” ujarnya.

Ronald juga mengkritik kecenderungan penelitian di Indonesia yang terlalu fokus mencari empirical gap tanpa memikirkan apakah tulisan tersebut menarik untuk dibaca.

“Bikin tulisanmu membuat orang penasaran,” katanya.

Menurut dia, riset yang baik bukan sekadar menumpuk data, tetapi mampu menjelaskan konsep, definisi, konteks, dan tujuan penelitian secara jelas.

Dalam sesi yang berlangsung interaktif itu, Ronald turut membagikan kebiasaan pribadinya membaca sekitar 200 artikel ilmiah setiap tahun untuk memperluas perspektif akademik.

Ia mendorong mahasiswa untuk membaca lintas disiplin ilmu agar memiliki sudut pandang yang lebih kaya dalam penelitian. Salah satu buku yang direkomendasikannya ialah Weapons of the Weak yang dinilai penting untuk memahami pendekatan multidisipliner dalam ilmu sosial.

Selain itu, Ronald memperkenalkan konsep “Arisan Jurnal”, yakni forum rutin antarpeneliti untuk mendiskusikan progres tulisan, saling mereview jurnal, dan menjaga konsistensi menulis secara kolektif.

Gagasan tersebut langsung menarik perhatian peserta karena dianggap lebih realistis dibanding berbagai seminar motivasi akademik yang sering berhenti di tataran teori.

Bagi Ronald, tantangan terbesar dalam menulis ilmiah bukan semata kemampuan intelektual, melainkan soal konsistensi dan keberanian menjadikan menulis sebagai prioritas.

“It’s all about priority,” ujarnya.

Kuliah tamu itu akhirnya tidak hanya menjadi forum belajar teknik publikasi internasional, tetapi juga menjadi kritik terbuka terhadap dunia akademik Indonesia yang dinilai masih terlalu administratif, terlalu rumit, dan sering lupa bahwa tulisan ilmiah pada akhirnya harus dapat dipahami pembacanya, bukan ajang pamer kepintaran yang justru membingungkan pembaca. (*/sj)

Iklan.

You Might Also Like

Unusa Gandeng Kwarda Pramuka Jatim Buka Jalur Prestasi Kepramukaan

Unusa Jajaki Kolaborasi dengan KCG Jepang untuk Transformasi Pendidikan Tinggi

Kaum Hawa IPHI Jatim Bergerak Ingin Wujudkan Program Haji Mabrur Sepanjang Hayat

Menjajaki Kolaborasi Riset Penyakit Infeksi, RC-GERID UNAIR Benchmarking ke Pusat Genom Malaysia

MUI Jatim Kolaborasi dengan Pemkot Madiun, Kembangkan Ekonomi Kreatif Santri

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi
Next Article Kecam Penyergapan 9 Relawan Indonesia oleh IOF, Katib PBNU Desak Pemerintah Tempuh Langkah Diplomatik Tegas

Advertisement

Iklan.

Iklan.

Iklan.

Berita Terbaru

Membangun Citra Pesantren: Sinergi Kinerja Alumni, Kharisma Kiai dan Tatakelola Manajemen Modern
Kolom
Resmi, Cirebon Raya Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU
Nahdliyyin
Kecam Penyergapan 9 Relawan Indonesia oleh IOF, Katib PBNU Desak Pemerintah Tempuh Langkah Diplomatik Tegas
Nahdliyyin
Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi
Kolom

You Might also Like

Sospol

Pesantren se-Madura Raya Bergerak Bersama, Modernisasi Koperasi jadi Fokus Utama

14/05/2026
Sospol

Al Yasmin Gandeng UNITOMO Perkuat Kolaborasi Pendidikan Digital

13/05/2026
Sospol

Al Yasmin dan UMAHA Kembangkan Mahasiswa Berbasis Digital Entrepreneurship

12/05/2026
Sospol

Kontroversi Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI, Tanggapan Pakar: Pendidikan Bukan Sekadar Menang-Kalah, Tapi Soal Kejujuran dan Keadilan

12/05/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?