By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Harapan Muktamar NU ke-35 Jombang : Refleksi, Muhasabah, dan Dinamika NU Menyongsong Abad Kedua
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Harapan Muktamar NU ke-35 Jombang : Refleksi, Muhasabah, dan Dinamika NU Menyongsong Abad Kedua
Kolom

Harapan Muktamar NU ke-35 Jombang : Refleksi, Muhasabah, dan Dinamika NU Menyongsong Abad Kedua

21/08/2026 Kolom
SHARE

Oleh: Abdul Rasyid *)
Jum’at, 21 Agustus 2026

Menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, 27–31 Agustus 2026, angin pondok pesantren seakan membawa kembali pada suasana masa lalu. Dari serambi masjid terdengar santri mengaji, dari warung kopi santri dan warga berbaur dan berdiskusi, sementara dari ruang organisasi terdengar suara yang lebih beragam: ada yang berdoa, berdalil, bermusyawarah, berhitung, bahkan mungkin diam-diam menghitung siapa yang paling banyak pendukung.

Begitulah NU. Organisasi besar yang sejak lahir akrab dengan perbedaan.

Di pesantren, perbedaan pendapat dibedah dengan kitab. Di warung kopi, perbedaan dibedah dengan diskusi sambil ngopi-ngopi. Di media sosial, perbedaan kadang cukup dengan screenshoot (tangkapan layar). Pada momentum Muktamar NU, semuanya bertemu: dalil, tradisi, aspirasi, strategi, idealisme, dan kalau boleh jujur, sedikit ambisi.

Dengan tersenyum dan tertawa sebagai ungkapkan ekspresi, karena NU memang memiliki selera humor khas santri. Tetapi humor yang sehat kadang justru lebih jujur daripada melalui mimbar pidato yang terlalu resmi.

Di Jombang, santri membuka kitab, kandidat membuka peta dukungan, panitia membuka daftar peserta. Semua sama-sama serius. Bedanya sederhana:
“Santri mencari dalil, Kandidat mencari suara, Panitia memverifikasi data peserta.”

Ah, NU .., Engkau memang unik.

Namun di balik itu semuanya, tersimpan pertanyaan besar: untuk apa NU didirikan? Apakah untuk jabatan, posisi, pengaruh, atau kendaraan kepentingan? Ataukah untuk menjaga umat agar tetap memiliki arah ketika zaman kehilangan kompas?

NU bukan sekadar organisasi yang pandai membuat forum dan menyelenggarakan musyawarah. NU adalah rumah besar yang dibangun dari ijtihad para ulama, kesabaran para kiai, ketekunan santri, serta pengabdian jutaan warga yang bekerja tanpa terlebih dahulu bertanya, “Saya mendapat jabatan apa?”. Rivalitas dalam momentum Muktamar adalah sesuatu yang wajar. Demokrasi organisasi membutuhkan kompetisi. Tetapi kompetisi harus berjalan bersamaan dengan kompetensi, etika, musyawarah, dan akhlak.

“Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda adab. Boleh bersaing, tetapi jangan saling meniadakan. Boleh mencari dukungan, tetapi jangan menggadaikan marwah organisasi.”

Sebab, jabatan di NU bukan hadiah, melainkan amanah. Kursi kepemimpinan bukan tempat meninggikan diri, melainkan tempat meletakkan beban pengabdian. Semakin tinggi kursinya, semestinya semakin rendah hati pemiliknya.

Muktamar NU ke-35 alangkah eloknya menjadi sarana refleksi dan muhasabah. NU perlu membaca kembali perjalanan organisasinya: dinamika internal, perbedaan pandangan, dari Munas ke Munas, Konbes ke Konbes, Muktamar ke Muktamar, serta berbagai peristiwa dan dinamikanya, kadang menguras energi dan perhatian publik.

Jangan sampai NU terlalu sibuk menghitung siapa menang dan siapa kalah, tetapi lupa menghitung berapa banyak persoalan umat yang belum selesai.

Abad kedua NU membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya populer, tetapi kompeten dan berintegritas; berilmu tetapi tidak merasa paling tahu; kuat secara kelembagaan tetapi tidak alergi terhadap kritik; mandiri secara ekonomi tetapi tetap berpihak kepada umat; serta mampu mempertemukan agama, kebangsaan, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kebudayaan, dan perubahan zaman.

Kepemimpinan NU ke depan harus mampu menghidupkan kembali semangat Para Muassis NU: khidmah, keikhlasan, kemandirian, tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan, sementara modernitas juga tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan akar.

Maka dari Jombang, mari kita lantunkan doa sederhana: semoga yang menang tidak mabuk kemenangan, yang kalah tidak patah pengabdian, dan yang terpilih tidak lupa, bahwa jabatan hanyalah sementara. Semoga al-ukhwah dan al-ittihad menjadi perekat setelah kompetisi berakhir. Karena Muktamar bukan arena untuk mencari musuh baru, melainkan forum untuk menemukan jalan baru.

NU terlalu besar jika hanya diperebutkan sebagai alat politik untuk meraih kekuasaan. NU harus tetap menjadi khidmah yang menghidupkan umat, ilmu yang mencerdaskan bangsa, tradisi yang menjaga akar, sekaligus kekuatan moral yang menuntun peradaban.

Muktamar NU ke-35, bukan sekadar tentang siapa yang duduk di depan dan siapa yang berdiri di belakang. Lebih dari itu, Muktamar adalah tentang ke mana NU akan melangkah memasuki abad keduanya. Itulah kemenangan yang sesungguhnya: bukan ketika seseorang berhasil mendapatkan kursi, melainkan ketika NU berhasil menjaga marwah, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

*) Penulis: Abdul Rasyid – Kader NU, Aktivis, Pemerhati Kebijakan Publik, Pendidikan, dan Kebudayaan.

Iklan.

You Might Also Like

Kesaksian: PENGAJIAN RUTIN PWNU JATIM ZAMAN DULU DAN SEKARANG

Kader Intelektual Muslim ala Khofifah Indar Parawansa Panen Prestasi di Kampus Al Azhar Kairo Mesir

Fenomena Lilur dan Ujian Etika Komunikasi Nahdliyyin

Saat Jamaah Sendiri Ikut Menyalahkan NU

NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Agnostik Prancis Ikrarkan Masuk Islam di Masjid Al-Akbar Surabaya
Next Article Al Irsyad Bondowoso Buka Program Milad dengan Pendaftaran Gratis dan Dukungan Biaya Rp1 Juta

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Airlangga Business Community/ABC: Perubahan Kebijakan Publik Harus Dibaca Sebagai Terbukanya Peluang Bisnis
Ekraf
Konsolidasi di Bangkalan, ISNU Jatim Doakan PBNU dan Ziarah ke Maqbaroh Syaichona Cholil
Nahdliyyin
Rapat Paripurna DPRD Bondowoso, Fraksi Demokrat-PKS Minta Raperda LP2B Tak Abaikan Hak Pemilik Tanah
Sospol
Bupati Cup VI 2026, IKSPI Kera Sakti Bondowoso Raih 13 Medali
Sospol

You Might also Like

Kolom

Menanamkan Integritas di Koridor Sekolah

17/09/2026
Kolom

MENGENANG H. ABDUL MUID (ABA MUID)

16/09/2026
Kolom

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya

13/09/2026
Kolom

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

07/09/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?