Oleh: Dr. ROMADLON SUKARDI, MM
Ada satu pesan penting di balik penghargaan Provinsi Terbaik I Pengolahan Sampah dan Lingkungan Asri 2026 yang diterima Jawa Timur: kepemimpinan tidak selalu diukur dari seberapa megah pembangunan yang terlihat, tetapi dari seberapa serius sebuah pemerintahan mengubah persoalan menjadi solusi dan kebiasaan menjadi budaya.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, isu sampah mulai ditempatkan bukan sekadar sebagai urusan kebersihan, melainkan sebagai agenda peradaban—menyangkut kesehatan, energi, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan kualitas hidup generasi mendatang.

Penghargaan yang diserahkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kepada Gubernur Khofifah di Bali pada 28 Agustus 2026 menjadi penanda bahwa kerja lingkungan Jawa Timur memperoleh pengakuan nasional. Namun bagi saya, makna terbesarnya justru bukan pada trofi, melainkan pada transformasi cara berpikir: dari “bagaimana membuang sampah” menjadi “bagaimana mengelola, mengolah, mengurangi, dan mengubah sampah menjadi nilai.” Ini adalah paradigma kepemimpinan transformatif.
Dari Kurve Menuju Culture of Care
Gerakan kurve—bersih-bersih pantai, sungai, sekolah, kantor, dan ruang publik—sekilas tampak sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu terdapat sebuah filosofi kepemimpinan yang kuat: perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama dan terus-menerus.
Ketika sekolah, komunitas, pemerintah, dunia usaha, Forkopimda, hingga masyarakat bergerak bersama, kebersihan tidak lagi menjadi program pemerintah semata. Ia berubah menjadi budaya kolektif.
Inilah wajah kepemimpinan Khofifah yang menarik untuk dicermati: tidak berhenti pada regulasi, tetapi berusaha membangun kesadaran; tidak hanya mengandalkan birokrasi, tetapi menggerakkan masyarakat; tidak sekadar menyelesaikan sampah hari ini, tetapi membangun ekosistem untuk masa depan.
Bahkan di lingkungan pendidikan, sampah organik diarahkan menjadi pupuk yang kemudian dimanfaatkan untuk program ketahanan pangan sekolah. Di titik ini, terjadi sebuah circular mindset:
sampah → diolah → menjadi pupuk → mendukung pangan → kembali memberi manfaat.
Itulah inovasi yang sesungguhnya: bukan selalu teknologi yang mahal, tetapi kemampuan melihat hubungan baru antara persoalan yang selama ini terpisah.
Dari Waste Problem Menjadi Energy Opportunity
Tetapi kepemimpinan transformatif tidak boleh berhenti pada gerakan kebersihan.
Sampah perkotaan membutuhkan solusi sistemik dari hulu sampai hilir. Karena itu, langkah Jawa Timur mendorong Pengolahan Sampah menjadi Energi menjadi penting. Secara nasional, kerangka kebijakan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan telah diperkuat melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2025, yang menempatkan sampah sebagai sumber energi sekaligus mengurangi volumenya.
Di sinilah visi kepemimpinan Khofifah menemukan relevansinya dengan konsep green transformation.
Sampah yang selama ini dianggap cost center perlahan diarahkan menjadi potential value center. Masalah lingkungan dipertemukan dengan teknologi. Teknologi dipertemukan dengan energi. Energi dipertemukan dengan ekonomi. Dan ekonomi akhirnya harus kembali kepada kesejahteraan masyarakat.
Dengan kata lain:
“Jangan hanya bertanya bagaimana sampah dibuang. Pertanyaan masa depan adalah: bagaimana sampah diberi nilai?”
Itulah lompatan paradigma yang harus terus dikembangkan Jawa Timur.
Kepemimpinan yang Menghubungkan Hulu dan Hilir
Kekuatan lain dari pendekatan Khofifah adalah keberaniannya melihat persoalan lingkungan sebagai sebuah sistem, bukan sebagai program sektoral.
Sampah tidak selesai ketika diangkut dari rumah. Sampah harus dipikirkan sejak dari sumbernya: bagaimana masyarakat memilah, bagaimana sekolah mengedukasi, bagaimana industri mengurangi limbah, bagaimana pemerintah kabupaten/kota membangun fasilitas pengolahan, bagaimana teknologi digunakan, bagaimana energi dihasilkan, dan bagaimana residu akhirnya dikelola secara aman.
Karena itu, keberhasilan Jawa Timur tidak boleh hanya diukur dari berapa ton sampah yang berhasil dikumpulkan. Ukuran yang lebih futuristik adalah:
berapa banyak sampah yang berhasil dicegah, dipilah, didaur ulang, diolah menjadi energi, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan nilai ekonomi baru.
Inilah yang saya sebut sebagai “Waste-to-Value Leadership.”
Khofifah dan Model Kepemimpinan Adaptive Governance
Dunia hari ini berubah sangat cepat. Krisis iklim, urbanisasi, pertumbuhan penduduk, konsumsi plastik, perubahan teknologi, hingga ancaman bencana lingkungan menuntut pemerintahan yang adaptif.
Karena itu, kepemimpinan daerah tidak cukup hanya responsive. Ia harus anticipatory—mampu membaca persoalan sebelum menjadi krisis.
Jawa Timur mempunyai modal sosial yang besar untuk itu. Pemerintah provinsi, 38 kabupaten/kota, dunia pendidikan, pesantren, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dunia usaha, media, hingga masyarakat desa dapat menjadi satu ekosistem.
Dalam perspektif ini, penghargaan nasional tersebut seharusnya tidak menjadi garis akhir. Justru harus menjadi starting point untuk menaikkan standar.
Sebab tantangan Jawa Timur ke depan bukan lagi sekadar menjadi provinsi yang bersih, tetapi menjadi provinsi yang mampu membangun ekonomi sirkular, rendah karbon, efisien sumber daya, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Dari Penghargaan Menuju Legacy
Ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai penghargaan membuat kita cepat puas.
Penghargaan adalah recognition, bukan destination.
Jawa Timur sudah memiliki momentum. Bahkan pemerintah pusat terus mendorong Gerakan Indonesia ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah—sebagai gerakan yang membangun lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Karena itu, Rp2 miliar bantuan pemerintah yang menyertai penghargaan tersebut idealnya tidak berhenti sebagai anggaran program, tetapi menjadi seed funding untuk memperkuat inovasi lingkungan: edukasi pemilahan dari rumah, penguatan bank sampah, teknologi pengolahan, ekonomi sirkular, digitalisasi data persampahan, hingga pengembangan green entrepreneurship bagi generasi muda.
Kalau ini dilakukan secara konsisten, Jawa Timur tidak hanya mempunyai program lingkungan. Jawa Timur akan memiliki environmental legacy.
Green Leadership untuk Generasi Emas
Pada akhirnya, persoalan sampah sesungguhnya bukan tentang sampah.
Ia berbicara tentang karakter manusia.
Tentang apakah kita mau mengubah perilaku. Tentang apakah kita peduli terhadap ruang yang kita tinggali. Tentang apakah kita bersedia meninggalkan bumi dalam keadaan lebih baik kepada anak cucu.
Di sinilah kepemimpinan Khofifah dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan dari transformation menuju sustainability: transformatif dalam mengubah paradigma, progresif dalam merespons tantangan, inovatif dalam mencari solusi, kreatif dalam menggerakkan masyarakat, adaptif menghadapi perubahan, dan berkelanjutan dalam membangun kebijakan.
Jawa Timur pernah dikenal sebagai lumbung pangan, pusat industri, perdagangan dan investasi. Ke depan, Jawa Timur juga harus berani menempatkan diri sebagai laboratorium green transformation Indonesia.
Sebab peradaban masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling banyak menghasilkan barang, tetapi juga oleh siapa yang paling cerdas mengelola sumber daya tanpa menghancurkan masa depan.
Dan dari Jawa Timur, pesan itu sedang dikirimkan: sampah bukan akhir dari sebuah barang. Dengan kepemimpinan yang visioner, teknologi yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan kesadaran masyarakat, sampah dapat menjadi awal dari energi, ekonomi, kesehatan, dan masa depan yang lebih hijau.
Inilah kepemimpinan yang tidak sekadar membersihkan hari ini—tetapi sedang menata wajah peradaban esok hari.



