By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial
Kolom

Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial

01/09/2026 Kolom
SHARE

Hendaknya Warga NU cerdas tampil di Media masa

Oleh H Muzammil Syafii

Muktamar telah usai. Forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama itu selesai digelar, keputusan-keputusan penting telah diketuk, dan nakhoda baru telah ditetapkan untuk memimpin jam’iyah ke depan. Secara formal, hajat besar itu telah kembali ke tempatnya: ditutup di lokasi, dicatat dalam risalah, dan menjadi milik sejarah organisasi.

Tetapi ada satu hal yang patut kita cermati bersama: Muktamar yang secara fisik selesai di Tambakberas, ternyata belum benar-benar selesai di ruang lain — media sosial. Di sanalah forum itu seolah dibuka kembali, diperpanjang, bahkan kadang dibuat lebih riuh dan “menggemaskan” dibanding suasana aslinya di lapangan.

Ketika yang Tidak Hadir Merasa Paling Tahu

Ini yang menarik sekaligus perlu diwaspadai. Mereka yang benar-benar berada di Tambakberas — mengikuti sidang, merasakan dinamika ruangan, mendengar langsung perdebatan — justru sering kali bersikap lebih tenang dan proporsional. Sebaliknya, sebagian yang tidak hadir di lapangan, yang hanya menyaksikan potongan video, tangkapan layar, atau utas berantai, justru tampil seolah paling memahami apa yang sesungguhnya terjadi.

Jarak fisik dari Tambakberas ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan jarak persepsi. Semakin jauh dari lapangan, sebagian orang justru merasa semakin dekat dengan “kebenaran” versi mereka sendiri.

Dari sinilah muncul beberapa tipe pengamat jarak jauh yang mewarnai linimasa pasca-Muktamar:

Pertama, si penonton yang tiba-tiba jadi saksi mata. Mereka tidak menginjakkan kaki di Tambakberas, tetapi menulis seolah menyaksikan sendiri setiap detail di balik layar — lengkap dengan “sumber terpercaya” yang tidak pernah jelas siapa.

Kedua, si pendukung yang belum move on. Bagi mereka, forum resmi telah selesai, tetapi pertarungan dukungan terhadap kandidat tertentu belum. Setiap keputusan organisasi terus dibaca dari kacamata menang-kalah, bukan dari kacamata kepentingan bersama.

Ketiga, si pembuka aib yang mengaku pengkritik. Mereka membedakan diri dari kritik yang membangun dengan cara membongkar hal-hal internal secara vulgar, seolah semakin banyak “bocoran” yang diumbar, semakin tinggi kredibilitas sebagai pengamat.

Keempat, si pencari panggung dari kegaduhan orang lain. Bagi kelompok ini, riuhnya pasca-Muktamar adalah ladang engagement. Isu tidak dibahas karena pentingnya, melainkan karena ramainya.

Kelima, si pengamat yang memang sejak awal tidak bersimpati. Kelompok ini menjadikan setiap dinamika organisasi, sekecil apa pun, sebagai bukti pembenaran atas pandangan negatif yang sudah mereka pegang sejak sebelum Muktamar dimulai.

Logika Media Sosial yang Mengubah Peristiwa Jadi Komoditas

Yang membuat lima tipe di atas terus muncul dan bertahan bukan semata soal karakter masing-masing orang, melainkan juga karena media sosial memang punya logikanya sendiri.

Berita yang kontroversial lebih mudah menarik perhatian dibanding berita yang tenang. Pernyataan yang keras lebih cepat dibagikan dibanding pernyataan yang berimbang. Perselisihan lebih menarik untuk ditonton daripada musyawarah yang berjalan tertib. Cemoohan lebih mudah viral daripada evaluasi yang disampaikan dengan kepala dingin. Bahkan aib yang dibongkar sering kali memperoleh perhatian jauh lebih besar dibanding kabar tentang keberhasilan dan kerja nyata.

Pada titik ini, sebuah peristiwa organisasi bisa berubah menjadi komoditas: semakin ramai dibicarakan, semakin tinggi nilainya dalam logika algoritma. Jangan sampai dinamika Muktamar yang semestinya menjadi bahan pendewasaan organisasi justru terus dipelihara karena memiliki nilai jual sebagai konten — dan jangan sampai kekecewaan pribadi berubah menjadi industri narasi yang tidak pernah selesai.

Media Sosial: Panggung Baru yang Lebih Riuh dari Aslinya

Yang terjadi kemudian adalah pergeseran ruang. Muktamar yang sejatinya adalah forum musyawarah dengan adab, tata tertib, dan mekanisme penyelesaian yang jelas, berubah wujud di media sosial menjadi semacam panggung terbuka tanpa batas.

Di Tambakberas, ada pimpinan sidang, ada mekanisme lobi, ada ruang tabayyun sebelum sebuah keputusan diambil. Di linimasa, semua itu lenyap. Yang tersisa hanya kecepatan mengetik, keberanian menuduh, dan kepuasan mendapat like maupun share.

Ironisnya, forum yang lebih riuh di media sosial ini justru sering ditonton dan dipercaya lebih luas dibanding forum aslinya. Orang yang tidak pernah membaca risalah sidang, bisa jadi lebih yakin dengan versi cerita yang beredar di grup WhatsApp atau unggahan viral, dibanding pada catatan resmi organisasi.

Kembalikan Muktamar ke Tempatnya

Maka harapan sederhana yang layak kita rawat bersama adalah: biarkan Muktamar tetap menjadi milik Tambakberas, bukan menjadi milik linimasa yang tak berkesudahan.

Ini bukan berarti menutup ruang kritik. NU justru membutuhkan kritik yang sehat — kritik yang berpijak pada data yang benar, konteks yang tepat, dan disampaikan dengan adab yang luhur. Kesalahan harus dikoreksi, penyimpangan harus diluruskan. Tetapi tidak semua yang kita dengar dari kejauhan layak dijadikan kebenaran mutlak, dan tidak setiap kekecewaan pribadi layak ditumpahkan menjadi konten publik.

Bedanya jelas: memperbaiki organisasi tidak sama dengan mempermalukannya. Dan menjadi pengamat yang kritis tidak sama dengan menjadi saksi mata dari peristiwa yang bahkan tidak pernah kita saksikan langsung.

Ada garis pemisah yang perlu terus kita jaga: membongkar persoalan untuk menyelesaikan masalah, dengan membongkar aib untuk mendapatkan perhatian. Di permukaan, keduanya kadang terlihat sama — sama-sama membuka sesuatu yang tadinya tertutup. Tetapi niat dan dampaknya sangat berbeda. Yang pertama berorientasi pada perbaikan dan biasanya disertai kesediaan mengikuti mekanisme penyelesaian yang bermartabat. Yang kedua berorientasi pada eksposur dan panggung, di mana persoalan sengaja dibuat setenar mungkin tanpa peduli pada mudaratnya bagi organisasi maupun bagi pihak-pihak yang disebut di dalamnya.

Saatnya Energi Dialihkan

Yang menang di Tambakberas tidak perlu merayakannya berlarut-larut di media sosial. Yang merasa kalah tidak perlu terus memperpanjang kekecewaan di ruang digital. Sebab pada akhirnya, dalam jam’iyah ini, tidak ada kemenangan pribadi maupun kekalahan kelompok — yang harus menang hanyalah NU itu sendiri.

Pesantren membutuhkan penguatan, pendidikan membutuhkan pembenahan, kader membutuhkan ruang aktualisasi, dan generasi muda membutuhkan masa depan yang nyata. Semua itu tidak akan selesai hanya dengan memperpanjang kegaduhan pasca-Muktamar di linimasa.

Muktamar telah usai di Tambakberas. Sudah saatnya ia benar-benar usai di media sosial — dan digantikan dengan sesuatu yang lebih substantif: kerja nyata.

NU Terlalu Besar untuk Hanya Menjadi Berita

Pada akhirnya, kita perlu mengembalikan cara pandang kita pada proporsinya. NU bukan sekadar peristiwa Muktamar. NU bukan sekadar nama-nama yang bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan. NU bukan sekadar konflik antarkelompok yang diperpanjang di linimasa. Dan NU jelas bukan sekadar bahan berita.

Di belakang riuhnya perdebatan itu, ada jutaan warga yang membutuhkan pelayanan keagamaan sehari-hari. Ada pesantren yang harus terus diperkuat. Ada lembaga pendidikan yang menunggu pembenahan. Ada kader muda yang membutuhkan ruang aktualisasi, bukan sekadar ruang untuk bertengkar di kolom komentar. Ada persoalan ekonomi umat yang menanti solusi nyata. Dan ada generasi muda yang masa depannya jauh lebih penting daripada siapa yang menang atau kalah dalam kontestasi kemarin.

Jangan biarkan Muktamar berpindah tempat menjadi lebih riuh di media sosial dibanding di lapangan sesungguhnya, karena mereka yang paling jauh dari Tambakberas semestinya bukan mereka yang paling nyaring bersuara tentangnya.

Muktamar boleh menjadi berita. Tetapi NU jangan sampai hanya menjadi berita. Sebab masa depan NU bukan ditentukan oleh seberapa ramai ia diperbincangkan di media sosial, melainkan oleh seberapa nyata ia hadir dalam kehidupan umat.

Kritik NU jika perlu. Koreksi NU jika salah. Tetapi jangan mengolok-olok NU.

Pasuruan, 01 September 2026

Iklan.

You Might Also Like

Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan

Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi

PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader

Musyawarah, Hikmah dan Khidmah

Membangun dan Merajut Kembali  solidaritas di NU  Pasca MUKTAMAR NU ke 35

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan
Kolom
Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi
Kolom
Noe Letto Nikmati Kopi Bondowoso, Festival Jadi Panggung Promosi Komoditas Lokal
Ekraf
PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader
Kolom

You Might also Like

Kolom

Setelah Muktamar: Menerima Takdir, Mengawal Amanah, Membiarkan Waktu Membuka Kebenaran

31/08/2026
Kolom

NU di Bawah Kepemimpinan Baru: Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman

31/08/2026
Kolom

AHWA dan Seni Menimbang Amanah: Dari Politik Kandidat Menuju Fiqih Kepemimpinan

30/08/2026
Kolom

SUBUH YANG MENGUBAH PETA NU

30/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?