Surabaya, radar96.com – Salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim, Ning Imaz Fatimatuz Zahra (Ning Imaz) menegaskan bahwa seseorang dapat menjadi teladan itu bukan karena dia paling viral atau banyak dicari di media sosial, karena sosok viral masih bisa menyebalkan.
“Kalau karena viral itu kita masih bisa kecewa kalau tiba-tiba sosok yang viral itu menimbulkan kontroversi,” kata Ning Imaz saat tampil bersama suaminya Gus Rifqil Muslim Suyuthi (Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah) dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-28 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Ahad Subuh.

Di hadapan ratusan GenZI yang menghadiri MSG yang diadakan Remaja Masjid dan GenZI MAS pada setiap bulan sekali itu, Ning Imaz menjelaskan keteladanan itu tidak bisa dipaksakan, tapi diperjuangkan dalam kebiasaan baik dan kepakaran ilmu dalam diri seseorang.
“Kalau karena quote itu banyak yang nggak kenal banget. Itu pun bisa saja menjadi baik karena ada sorotan kamera, tapi kalau sendirian bisa kembali ke watak aslinya. Itu bukan teladan. Contoh teladan yang paling baik adalah akhlak Rasululloh,” katanya dalam MSG episode ke-28 yang bertema ‘Satu Teladan Sejuta Kebaikan”.

Ning Imaz mencontohkan Rosululloh itu selalu memikirkan keselamatan umatnya, nabi itu selalu peduli kepada umat. “Kalau kita sulit mencontoh akhlak Rosulullloh itu, paling tidak kasih sayangnya kepada umatnya dapat dicontoh dengan berbagi yang kita lakukan kepada orang lain,” katanya.
Selain bukan teladan, viral itu juga dapat membuat bertambah bingung, karena tidak bisa membedakan, mana yang ilmu dan mana yang bukan, saking banyaknya yang viral itu, sehingga ilmu yang menjadi ikatan batin itulah “cahaya” kebaikan. “Kalau Nabi itu ma’shum, sosok yang selalu dijaga Allah untuk selalu dalam kebaikan,” katanya.
menimbulkan kontroversi,” kata Ning Imaz saat tampil bersama suaminya Gus Rifqil Muslim Suyuthi (Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah) dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-28 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Ahad Subuh.
Sementara itu, pendakwah milenial Gus Rifqil dari Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu, Kendal, Jateng menjelaskan salah satu ciri khas sosok yang dapat menjadi teladan adalah orang yang selalu konsisten dalam perilaku yang baik. “Kalau konsisten berarti dia baik beneran, sehingga bisa menjadi teladan,” katanya.
Untuk masa sekarang justru banyak sosok yang “jarkoni” atau cuma ujar/bicara tapi nggak ngelakoni (bukan perbuatan konsisten/kebiasaan). “Misalnya ada seorang Bapak yang melarang anaknya main HP, tapi dia sendiri ngomong begitu dengan bawa HP dan anaknya sering melihatnya main HP. Itulah jarkoni, cuma ujar, tapi nggak ngelakoni,” katanya.
Oleh karena itu, kata Gus Rifqil, teladan itu sejatinya adalah sosok yang bukan teladan bagi orang lain tapi menjadi teladan bagi diri sendiri, sehingga dari diri orang itu sendirilah yang akhirnya bisa menjadi teladan bagi orang lain, misal Nabi sudah lama dikenal sebagai “Al-Amin” hingga akhirnya bisa menjadi teladan bagi lingkungannya.
“Jadi, teladan itu memang bukan karena popularitas atau kalau di era medsos itu viral, tapi teladan itu sosok yang konsisten/istiqomah dalam melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri, lalu ditiru atau menjadi teladan bagi orang lain hingga akhirnya kebaikan itu pun menjadi kebiasaan bagi orang itu dan orang lain,” katanya. (*/mas)



