By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh
Kolom

NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh

17/09/2026 Kolom
SHARE

Oleh: H. Muzammil Syafii

Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ajukan dengan jujur di tengah hiruk-pikuk politik organisasi hari ini: NU yang mana yang sebenarnya sedang kita perjuangkan? NU-ku yang penuh kepentingan pribadi dan kelompok? NU-mu yang sibuk berebut kursi dan jabatan? Atau NU-nya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang lahir dari sebuah mukadimah sederhana namun agung, ditulis dengan tinta keprihatinan atas umat yang tercerai-berai?

Jawabannya bisa dilacak, bukan dari opini atau kepentingan siapa pun, melainkan dari dokumen tertua NU sendiri: Muqaddimah Qanun Asasi. Di sanalah cetak biru NU yang asli tersimpan, jauh sebelum ia menjadi rebutan kekuasaan.

Umat Sebagai Satu Jasad

Kalimat pembuka mukadimah itu tegas: umat itu ibarat satu tubuh, dan setiap orang di dalamnya adalah anggota tubuh yang punya tugas masing-masing. Tidak ada anggota tubuh yang boleh diabaikan perannya, dan tidak ada anggota tubuh yang berhak bertindak seolah-olah dialah satu-satunya yang berarti.

Prinsip ini seharusnya menjadi cermin bagi NU hari ini. Ketika sebagian pihak mulai memperlakukan NU sebagai kendaraan pribadi, ketika jabatan struktural diperebutkan seperti aset yang bisa dimiliki, saat itulah “jasad” itu mulai sakit. Hadratussyaikh mengingatkan: perpecahan bukan sekadar dosa sosial, tapi—dalam bahasanya sendiri—akar dari kehancuran, sumber keruntuhan, dan penyebab kehinaan sepanjang zaman.

Bukan Milik Siapa-siapa, Tapi Amanah Bersama

Hal yang sering luput dipahami: NU dalam mukadimah itu bukan didirikan sebagai milik satu tokoh, satu keluarga, apalagi satu golongan politik. Ia adalah jam’iyyah—perkumpulan—yang pintu masuknya terbuka untuk “yang miskin dan yang kaya, yang lemah dan yang kuat,” dengan syarat masuk melalui pintu yang benar, bukan jalan pintas kepentingan.

Ironisnya, justru di titik inilah godaan terbesar NU kontemporer muncul. Ketika sebagian elite menggunakan jam’iyyah untuk kepentingan elektoral, ketika struktur organisasi ditarik-tarik menjadi mesin politik praktis yang menguntungkan segelintir orang, itu sama saja dengan “masuk rumah bukan dari pintunya”—istilah yang oleh mukadimah disebut sebagai perbuatan pencuri terhadap ilmu dan amanah.

Sanad yang Terputus

Poin lain yang tak kalah tajam dari mukadimah adalah soal sanad—mata rantai keilmuan yang tersambung dari generasi ke generasi hingga Rasulullah SAW. Hadratussyaikh menegaskan bahwa ulama adalah penjaga ilmu itu, bukan pemilik yang bebas menafsirkannya sesuka hati, apalagi menjadikannya alat kekuasaan.

Pertanyaannya untuk NU hari ini: masihkah kita menjaga sanad itu—sanad keilmuan, sanad moral, sanad keteladanan—atau justru banyak yang tampil sebagai “ulama” dan “tokoh” tanpa kedalaman yang pernah diwanti-wanti mukadimah, yakni orang yang fasih membaca tapi tak menghayati maknanya?

Kembali ke Ruh Asalnya

NU tidak pernah dirancang untuk menjadi ajang mencari NUku atau NUmu. Ia dirancang sebagai rumah bersama yang, dalam kata-kata mukadimah sendiri, dimasuki “dengan ruh yang penuh cinta, rahmat, keharmonisan, dan kesatuan tujuan.” Bukan rumah yang disekat-sekat oleh kepentingan pragmatis segelintir orang yang mengklaim paling NU.

Kritik ini bukan untuk membenci NU, justru sebaliknya—ia lahir dari kerinduan agar NU kembali menjadi NU-nya Hadratussyaikh: organisasi yang predikatnya bukan diukur dari siapa yang berkuasa di dalamnya, melainkan dari sejauh mana ia menjaga ukhuwah, menjaga sanad, dan menjaga amanah umat yang dititipkan kepadanya.

Jika hari ini kita masih sibuk memperebutkan NU sebagai milik pribadi atau golongan, mungkin sudah saatnya kita membuka kembali mukadimah itu, membacanya bukan sebagai teks seremonial saat harlah, tapi sebagai cermin untuk bertanya jujur pada diri sendiri: NU yang mana yang sedang saya perjuangkan hari ini?

“Kemarilah! Kalian semua, dan semua pengikut kalian baik dari kalangan fakir miskin maupun orang kaya, yang lemah maupun yang kuat. Bergabunglah ke dalam perkumpulan yang diberkahi ini yang kami sebut: perkumpulan Nahdlatul Ulama. Masuklah ke dalam perkumpulan ini dengan jiwa yang dipenuhi oleh cinta, kasih sayang, keselarasan, dan kesatuan tujuan. Masuklah dengan ikatan yang menyatukan kita, baik jasmani maupun rohani. Ini adalah perkumpulan yang baik: perkumpulan yang damai.” (Dikutip dr mukaddimah qonun azasi NU).

Wallahu a’lam.

Iklan.

You Might Also Like

Menanamkan Integritas di Koridor Sekolah

MENGENANG H. ABDUL MUID (ABA MUID)

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

Wajah Digital NU di Muktamar Tambakberas 2026

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Kemenag Serahkan Penghargaan “School Religius Culture” Kepada TK At-Taqwa Bondowoso
Next Article MUI Pusat Kagumi Orientasi MAS pada Gen-ZI

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

MUI Pusat Kagumi Orientasi MAS pada Gen-ZI
Sospol
Kemenag Serahkan Penghargaan “School Religius Culture” Kepada TK At-Taqwa Bondowoso
Milenial
Menanamkan Integritas di Koridor Sekolah
Kolom
SDN Dabasah 3 Bondowoso Adakan NGOBRAS (Ngobrol Santai dan Inspiratif) bersama Dewan Pendidikan
Sospol

You Might also Like

Kolom

Ketika Medsos Gaduh, Akar Rumput Tetap Teduh

03/09/2026
Kolom

Dari Hutan untuk Peradaban: Ketika Kepemimpinan Khofifah Mengubah Kelestarian Menjadi Kesejahteraan

02/09/2026
Kolom

Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial

01/09/2026
Kolom

Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan

01/09/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?