By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya
Kolom

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya

13/09/2026 Kolom
SHARE

Catatan perjalanan Surabaya–Semarang

Oleh Ely Rosyidah *)

Jam enam pagi kami berangkat dari Surabaya ke Semarang — bukan sekadar menyaksikan pembukaan MTQ Nasional XXXI, tapi menyertai tujuh kafilah Surabaya yang mewakili Jawa Timur di berbagai cabang: kaligrafi, syarhil Qur’an, tilawah tuna netra, hingga hafalan 30 juz.

Perjalanan panjang itu terasa ringan karena ditempuh bersama sahabat-sahabat lama yang jarang bersua. Cerita tersambung kembali, tawa mengalir begitu saja.

Sesampainya di Semarang, kami menyapa para kafilah, menitipkan doa agar ikhtiar mereka berbuah hasil terbaik. Ada kebanggaan melihat anak muda berjuang lewat jalan Al-Qur’an — bukan sekadar mengejar juara, tapi belajar disiplin dan tanggung jawab.

Sore itu kami singgah di Lawang Sewu, sekadar melepas penat dan berfoto bersama. Sederhana, tapi dari situlah terasa: perjalanan ini bukan hanya soal lomba, melainkan juga soal silaturahim yang tersambung kembali.

Malam pembukaan MTQ berlangsung meriah — panggung megah, kafilah dari berbagai daerah berkumpul karena satu hal: Al-Qur’an. Saya menyadari, MTQ bukan cuma musabaqah, tapi juga ruang pertemuan dan persaudaraan.

Namun dalam perjalanan pulang, muncul pertanyaan kecil: apa sebenarnya makna MTQ bagi kita? Jangan-jangan kita sibuk merayakan Al-Qur’an, tapi lupa menghidupkannya. Kita kagum pada bacaan yang indah — tapi sudahkah ucapan kita seindah itu? Kita bangga pada penghafal Qur’an — tapi sudahkah perilaku kita mencerminkannya?

Merayakan Al-Qur’an mungkin mudah: panggung, tepuk tangan, kemeriahan. Tapi menghidupkannya butuh kesabaran, kejujuran, dan keteladanan dalam keseharian. Barangkali MTQ yang sesungguhnya justru dimulai setelah panggung dibongkar dan lampu dipadamkan — saat Al-Qur’an kembali diuji dalam cara kita memperlakukan keluarga, tetangga, dan sesama.

Malam kian larut, Semarang tertinggal, Surabaya mendekat. Wajah para kafilah yang penuh harap dan doa terus terbayang. Semoga setiap ikhtiar mereka berbuah keberkahan.

Kami pun pulang membawa cerita, tawa, dan kebanggaan — dengan harapan perjalanan ini tak berhenti sekadar kenangan. Sebab akan jadi ironi bila kita meriah merayakan Al-Qur’an di panggung, tapi sepi menghadirkannya dalam hidup.

Maka malam ini bukan hanya perjalanan pulang ke Surabaya, tapi juga perjalanan pulang kepada diri sendiri — bertanya sudah sejauh mana Al-Qur’an hadir dalam cara kita mencintai, memaafkan, bekerja, dan menjaga amanah.

Sebab panggung akan dibongkar, tepuk tangan akan berhenti. Tapi kebaikan yang lahir dari Al-Qur’an semestinya terus hidup dalam diri orang lain. Mungkin itulah kemenangan sejati — bukan saat orang kagum pada bacaan kita, tapi saat mereka merasakan akhlak kita karena Al-Qur’an.

MTQ mungkin usai pekan ini. Tapi tugas menghidupkan Al-Qur’an — tidak pernah selesai.

Ely Rosyidah
pemerhati isu keluarga dan relasi sosial, aktif dalam kegiatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat di Surabaya.
Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kota Surabaya dan Ketua PC LKKNU Kota Surabaya

Iklan.

You Might Also Like

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

Wajah Digital NU di Muktamar Tambakberas 2026

Ketika Medsos Gaduh, Akar Rumput Tetap Teduh

Dari Hutan untuk Peradaban: Ketika Kepemimpinan Khofifah Mengubah Kelestarian Menjadi Kesejahteraan

Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Yayasan Alifya Bondowoso: Maulid Nabi Penguat Akhlak dan Karakter Siswa Sejak Dini

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Yayasan Alifya Bondowoso: Maulid Nabi Penguat Akhlak dan Karakter Siswa Sejak Dini
Sospol
Majelis Alumni IPNU Madiun Minta Meninggalnya Serda Ahmad Muzammul Diusut Transparan
Uncategorized
Gus Fahrur: Gus Firjaun yang Saya Kenal
Gus File
PW IPPNU Jawa Timur Perkuat Sinergi dengan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur
Uncategorized

You Might also Like

Kolom

Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan

01/09/2026
Kolom

Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi

01/09/2026
Kolom

PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader

31/08/2026
Kolom

Musyawarah, Hikmah dan Khidmah

31/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?