Catatan perjalanan Surabaya–Semarang
Oleh Ely Rosyidah *)
Jam enam pagi kami berangkat dari Surabaya ke Semarang — bukan sekadar menyaksikan pembukaan MTQ Nasional XXXI, tapi menyertai tujuh kafilah Surabaya yang mewakili Jawa Timur di berbagai cabang: kaligrafi, syarhil Qur’an, tilawah tuna netra, hingga hafalan 30 juz.
Perjalanan panjang itu terasa ringan karena ditempuh bersama sahabat-sahabat lama yang jarang bersua. Cerita tersambung kembali, tawa mengalir begitu saja.
Sesampainya di Semarang, kami menyapa para kafilah, menitipkan doa agar ikhtiar mereka berbuah hasil terbaik. Ada kebanggaan melihat anak muda berjuang lewat jalan Al-Qur’an — bukan sekadar mengejar juara, tapi belajar disiplin dan tanggung jawab.

Sore itu kami singgah di Lawang Sewu, sekadar melepas penat dan berfoto bersama. Sederhana, tapi dari situlah terasa: perjalanan ini bukan hanya soal lomba, melainkan juga soal silaturahim yang tersambung kembali.
Malam pembukaan MTQ berlangsung meriah — panggung megah, kafilah dari berbagai daerah berkumpul karena satu hal: Al-Qur’an. Saya menyadari, MTQ bukan cuma musabaqah, tapi juga ruang pertemuan dan persaudaraan.
Namun dalam perjalanan pulang, muncul pertanyaan kecil: apa sebenarnya makna MTQ bagi kita? Jangan-jangan kita sibuk merayakan Al-Qur’an, tapi lupa menghidupkannya. Kita kagum pada bacaan yang indah — tapi sudahkah ucapan kita seindah itu? Kita bangga pada penghafal Qur’an — tapi sudahkah perilaku kita mencerminkannya?
Merayakan Al-Qur’an mungkin mudah: panggung, tepuk tangan, kemeriahan. Tapi menghidupkannya butuh kesabaran, kejujuran, dan keteladanan dalam keseharian. Barangkali MTQ yang sesungguhnya justru dimulai setelah panggung dibongkar dan lampu dipadamkan — saat Al-Qur’an kembali diuji dalam cara kita memperlakukan keluarga, tetangga, dan sesama.
Malam kian larut, Semarang tertinggal, Surabaya mendekat. Wajah para kafilah yang penuh harap dan doa terus terbayang. Semoga setiap ikhtiar mereka berbuah keberkahan.
Kami pun pulang membawa cerita, tawa, dan kebanggaan — dengan harapan perjalanan ini tak berhenti sekadar kenangan. Sebab akan jadi ironi bila kita meriah merayakan Al-Qur’an di panggung, tapi sepi menghadirkannya dalam hidup.
Maka malam ini bukan hanya perjalanan pulang ke Surabaya, tapi juga perjalanan pulang kepada diri sendiri — bertanya sudah sejauh mana Al-Qur’an hadir dalam cara kita mencintai, memaafkan, bekerja, dan menjaga amanah.
Sebab panggung akan dibongkar, tepuk tangan akan berhenti. Tapi kebaikan yang lahir dari Al-Qur’an semestinya terus hidup dalam diri orang lain. Mungkin itulah kemenangan sejati — bukan saat orang kagum pada bacaan kita, tapi saat mereka merasakan akhlak kita karena Al-Qur’an.
MTQ mungkin usai pekan ini. Tapi tugas menghidupkan Al-Qur’an — tidak pernah selesai.
Ely Rosyidah
pemerhati isu keluarga dan relasi sosial, aktif dalam kegiatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat di Surabaya.
Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kota Surabaya dan Ketua PC LKKNU Kota Surabaya



