Catatan Pinggir Pasca-Muktamar NU ke-35
Ada fenomena menarik yang patut kita renungkan pasca-Muktamar ke-35 NU: media sosial terasa gaduh, sementara kehidupan warga NU di akar rumput justru relatif teduh.
Keterpilihan kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam serta KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, misalnya, melahirkan beragam respons di ruang digital. Perdebatan, kritik, dukungan, hingga berbagai spekulasi silih berganti memenuhi lini masa.
Namun, suasana itu tidak selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari warga NU.
Di kampung-kampung, pengajian tetap berjalan. Tahlilan tetap digelar. Santri tetap belajar. Jamaah tetap bersilaturahmi. Dan para warga tetap duduk bersama, ngopi, bercanda, serta menjalankan khidmah sebagaimana biasa.
Lalu, mengapa ruang digital terasa jauh lebih panas dibandingkan ruang nyata?
Medsos Memang Lebih Mudah Memperbesar Konflik
Media sosial bekerja dengan logika interaksi. Konten yang mengundang perdebatan, kontroversi, kemarahan, atau pro dan kontra cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian.
Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya hanya menjadi perbincangan sebagian kecil orang dapat terlihat sangat besar karena terus muncul di lini masa.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Apa yang paling ramai di media sosial belum tentu merupakan suara mayoritas nahdliyin.
Belum lagi munculnya akun anonim atau akun yang memiliki kepentingan tertentu dalam membentuk opini. Ada konten yang dibuat untuk mendukung tokoh tertentu, ada yang menyerang pihak lain, dan ada pula yang sekadar mengejar perhatian.
Maka, jangan sampai kita menjadikan jumlah komentar, jumlah unggahan, atau viralnya sebuah video sebagai ukuran kebenaran.
Ruang Digital dan Ruang Sosial Memiliki Karakter Berbeda
Di media sosial, seseorang bisa menulis kritik dalam hitungan detik. Tidak harus berhadapan langsung dengan orang yang dikritik.
Di ruang nyata, situasinya berbeda.
Ada wajah yang kita lihat. Ada tangan yang kita jabat. Ada hubungan kekerabatan. Ada tradisi silaturahmi. Ada ewuh pakewuh. Dan tentu saja ada penghormatan kepada para kiai.
Semua itu menjadi semacam rem sosial.
Karena itu, perbedaan pandangan yang di media sosial terlihat begitu tajam, dalam banyak kesempatan bisa menjadi lebih cair ketika orang-orangnya bertemu secara langsung.
Kadang kita hanya perlu duduk bersama untuk menyadari bahwa perbedaan pendapat tidak harus menjadi permusuhan.
Mengapa Akar Rumput Tetap Teduh?
Bagi sebagian besar warga NU di tingkat ranting, majelis taklim, pesantren, dan komunitas kampung, dinamika struktural organisasi bukanlah satu-satunya pusat perhatian.
Orientasi mereka jauh lebih sederhana: bagaimana pengajian tetap berjalan, santri tetap belajar, madrasah tetap hidup, kegiatan sosial tetap berlangsung, dan ukhuwah antarwarga tetap terjaga.
Tradisi NU juga mengajarkan penghormatan terhadap ulama dan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan jam’iyah.
Karena itu, apa pun dinamika yang terjadi di tingkat organisasi, warga di akar rumput cenderung mengembalikannya kepada mekanisme dan aturan jam’iyah.
Bagi mereka, NU bukan sekadar soal siapa yang mendapatkan jabatan, tetapi tentang bagaimana khidmah terus berjalan.
Maka, Perlukah Kita “Puasa Medsos”?
Mungkin kita tidak perlu benar-benar meninggalkan media sosial.
Yang lebih penting adalah puasa respons.
Tetap membaca, tetapi tidak harus menanggapi semuanya.
Tetap mengikuti perkembangan, tetapi tidak harus ikut dalam setiap perdebatan.
Tetap kritis, tetapi tidak kehilangan adab.
Puasa medsos bisa dimulai dengan hal-hal sederhana.
Pertama, puasa komentar dan debat kusir.
Tidak semua sindiran harus dibalas. Tidak semua provokasi perlu dilayani. Dan tidak setiap perbedaan pendapat harus berujung pada perdebatan panjang.
Kadang-kadang, diam bukan berarti tidak peduli. Diam bisa menjadi cara untuk menjaga ukhuwah.
Kedua, melakukan diet informasi.
Pilah sumber informasi. Utamakan saluran resmi dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya dari potongan video, tangkapan layar, judul yang provokatif, atau unggahan akun yang tidak jelas sumbernya.
Tabayun tetap menjadi bagian penting dari tradisi kita.
Ketiga, kembali memperbanyak ruang nyata.
Kurangi sedikit waktu scrolling, lalu gantikan dengan hadir di ranting, tahlilan, lailatul ijtima’, pengajian, atau sekadar cangkrukan bersama warga.
Sebab hubungan sosial yang dibangun melalui perjumpaan langsung dapat membantu mencairkan ketegangan yang kadang terbentuk di ruang digital.
Jangan Sampai Medsos Mengalahkan Ukhuwah
Perbedaan pandangan dalam organisasi sebesar NU adalah sesuatu yang wajar.
Yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi permusuhan.
Kita boleh berbeda pandangan tanpa saling mencaci.
Kita boleh kritis tanpa kehilangan adab.
Kita boleh tidak sepakat tanpa memutus silaturahmi.
Dan kita boleh mengikuti dinamika organisasi tanpa harus menjadikan setiap perbedaan sebagai pertengkaran pribadi.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat.
Yang menentukan apakah ia menjadi sarana silaturahmi atau justru sumber perpecahan adalah cara kita menggunakannya.
Maka, pasca-Muktamar NU ke-35, mungkin sudah saatnya kita belajar untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya ukuran keadaan organisasi.
Sebab bisa jadi, yang paling ramai di lini masa bukanlah yang paling banyak di lapangan.
Dan bisa jadi pula, keteduhan yang kita lihat di akar rumput justru merupakan cermin dari kedewasaan warga NU dalam menyikapi perbedaan.
«Tidak semua yang ramai harus kita ikuti.
Tidak semua yang viral harus kita percayai.
Dan tidak semua perbedaan harus kita pertengkarkan.»
Mari kembali kepada khidmah.
Karena NU akan tetap kuat bukan semata-mata karena warganya paling ramai berdebat di media sosial, tetapi karena di akar rumput masih banyak orang yang diam-diam bekerja, mengaji, bersilaturahmi, membantu sesama, dan menjaga ukhuwah.
Puasa medsos bukan berarti anti-informasi.
Puasa medsos adalah belajar mengendalikan diri di tengah banjir informasi.
Dan mungkin, inilah salah satu bentuk kedewasaan kita sebagai nahdliyin di era digital:
Mampu berbeda tanpa bermusuhan, mampu kritis tanpa kehilangan adab, dan mampu menjaga ukhuwah di tengah derasnya arus informasi.
Semoga tulisan kecil ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga teduhnya NU, terutama setelah muktamar. Beda pilihan boleh, beda pandangan wajar, tapi ukhuwah jangan sampai kalah oleh algoritma.
Oleh Paryono NA
Aktivis Jaringan Nahdliyyin Jatim



