Jombang (Radar96.com) – Satu demi satu penyebab kelangkaan minyak goreng di pasaran terjawab. Selain karena faktor penimbunan oknum-oknum pengusaha nakal, ternyata ada penyebab lain yang menjadikan komoditi utama keluarga itu menjadi langka.
“Permasalahannya bukan pada penyalur, justru pada pemasoknya, yaitu perusahaan yang memproduksi minyak goreng tersebut,” kata H Abdul Hannan Majdy, Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Jombang, pada Selasa (22/02/22) siang.
“Mereka lebih banyak mengekspor karena harga di luar negeri lebih tinggi daripada menjual di pasar domestik,” lanjut Gus Hannan, sapaan akrab Ketua HPN Jombang itu, yang juga pendiri SMK TI Annajiyah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Akibat dari banyaknya kuota ekspor tersebut, lanjut Gus Hannan, akhirnya pasokan pada pasar domestik menjadi lebih sedikit dan otomatis terjadi kelangkaan.

Memang, Permendag sudah mengatur harga hingga HET kemasan Rp 14.000 dan HET curah Rp 11.500, tapi lagi-lagi mereka memproduksi, mengemas dan menjual langsung kemasan. Akibatnya, perusahaan pengemas minyak goreng yang tidak memiliki lahan sawit sendiri tidak dapat pasokan minyak goreng.
Solusinya, menurut Gus Hannan, pemerintah harus mengendalikan produksi minyak goreng dari hulu yaitu perkebunan sawit dan perusahaan pengolahnya sampai hilir, sehingga DMO (Domestic Market Obligation) terpenuhi.



