Sidoarjo (Radar96.com) – PW Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Jatim memeriahkan Harlah ke-60 Lesbumi pada 28 Maret dengan mengadakan “Pasar Rakyat Slemetan Ruwah” dan “Festival Seni Santri 2022” di Alun-alun Sidoarjo pada 18-28 Maret 2022.
“Kami akan menampilkan sejumlah kesenian dari para Nahdliyin di Jatim.
Rencananya kami akan menampilkan musikalisasi puisi, kasidah, rebana, macapat, festival Hadrah dan Banjari dan banyak lagi,” kata Ketua PW Lesbumi NU Jatim Nonot Sukrasmono di Sidoarjo, Senin (14/3/2022).
Pria yang juga guru seni di SMA 1 Taman Sidoarjo ini menjelaskan Jatim dikenal sebagai gudangnya seni Islami, utamanya sastra, seni rupa, seni musik dan seni tradisi. “Saat ini anggota PW Lesbumi NU Jatim sekitar 500-an seniman Nahdliyin, tersebar di 43 cabang se-Jatim,” jelasnya.
Nonot mengungkapkan PW Lesbumi NU Jatim terbentuk tahun 2002, setelah Muktamar NU di Kediri. “Saat itu namanya masih LSBNU (Lembaga Seni Budaya NU), ketika muktamar di Krapyak berubah jadi Lesbumi sampai sekarang,” kata pemimpin PW Lesbumi NU Jatim sejak 2002 hingga sekarang itu. (*)
Namun, panitia juga mengadakan pameran lukisan bersama di pendopo kantor Disporabudpar Pemkab Sidoarjo pada tanggal yang sama. Bedanya, lokasi “Pasar Murah” dan “Festival Seni Santri 2022” di dalam Alun-alun Sidoarjo, sedangkan lokasi Pameran Lukisan di seberang alun-alun yakni di Jalan Sultan Agung Sidoarjo.
“Kegiatan ini satu paket dengan ‘Pasar Murah dan Festival Seni Santri 2022’ yang diikuti 22 pelukis dari kalangan Nahdliyin,” kata koordinator pameran lukisan, Andiek Eko Sudarto, dari PW Lesbumi NU Jatim itu.
Pelukis aliran abstrak dekoratif itu menjelaskan tema pameran bebas, bukan hanya lukisan kaligrafi. “Total ada 40-an lukisan yang dipamerkan, mulai dari surealis, realis, abstrak, kaligrafi bahkan juga seni instalasi tiga dimensi,” kata pelukis kelahiran Sidoarjo 2 September 1980 itu.
Menurut Andiek Eko Sudarto, tema yang diangkat, yakni “Merawat Jagad, Membangun Peradaban”. “Kami dari NU wajib merawat kemajemukan, karena itu tak hanya kalangan Muslim, pelukis yang ikut pameran juga ada yang non Muslim,” jelasnya.
Sebanyak 22 pelukis itu datang dari berbagai kota di Jatim. “Ada dari Pasuruan, Batu, Gresik, Lamongan, Surabaya dan Sidoarjo sendiri,” ujar pelukis yang tinggal di Barengkrajan, Krian Sidoarjo ini.
Para pelukis yang memamerkan karyanya antara lain Joko Pramono, Beni Dewo, Achmad Rosidi, Fathur Rojib, Maria Novita, Nabila Dewi, M Riyanto, Novita Mardiana, Rajendra Dewi, Slamet Riyantono, Sugi Hartono, Sulthon Akbar, Wahyu Sigit Crueng, Woro Indah Lestari, Yoes Wibowo, Khusnul Bahri, Syamduro, Afresha Weni dan Andiek Eko. (*)



