Tasikmalaya (Radar96.com/NUO) – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PBNU di Aula Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), Cipakat, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (24/3/2022) malam.
Dalam arahannya, Kiai Miftach mengharapkan para pengurus lembaga dan badan khusus PBNU yang telah dilantik secara resmi agar dapat menghasilkan karya nyata yang dapat dirasakan khalayak luas.
“(pengurus melaksanakan) Tugas yang menghasilkan karya nyata dan diharapkan bisa dirasakan umat secara keseluruhan, khsuusnya Nahdliyin Nahdliyat,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur itu.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftach mengingatkan kepada segenap pengurus lembaga dan badan khusus, serta warga Nahdliyin pada umumnya, agar tidak terbuai dengan kebesaran NU.
“Kita jangan tertipu dengan kebesaran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar di dunia sampai akhirat,” katanya. Kebesaran NU jangan sampai memperlemah semangat berjuang dan bekerja untuk NU ke depannya. Sebab, menurutnya, jika seseorang merasa sudah mapan, maka hati akan mengalami erosi.
Sebaliknya, Kiai Miftach menegaskan bahwa kebesaran warga NU merupakan nikmat yang amat besar. “Betapa kalau ini kita gunakan dengan produk yang besar pula seimbang dengan kebesarannya, kaum lain organisasi lain akan hormat dan menghormati,” katanya.
Hal ini sebagaimana dengan karya nyata para pendahulu dengan melahirkan banyaknya piagam yang dilahirkan sebagai wujud sumbangsih NU bagi umat di dunia sejak sebelum berdirinya, sampai hari ini.
Rais Aam juga mengingatkan agar tidak tertipu dengan karunia Allah swt sehingga tanpa kerja keras bisa dan berhak bahagia. Kiai Miftach dengan tegas menyatakan, bahwa bahagia tidak demikian caranya. “Sehingga mereka meninggalkan dunia ini bangkrut dari upaya amal dan pengampunan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Miftach mengutip sebuah ayat Al-Qur’an Surat Al-Infithar ayat 6, maa gharraka bi rabbikal karim, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia.
Ayat tersebut, jelasnya, mengingatkan umat Islam agar tidak terpedaya dan tertipu dengan hal-hal di atas. “Ini harus mulai kita ingatkan karena sudah banyak terjadi,” pungkasnya.
Menghidupkan Gus Dur
Dalam forum yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf kembali menegaskan sebuah visi dalam menjalankan kepengurusan organisasi PBNU, yakni ingin menghidupkan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid).
Gagasan menghidupkan Gus Dur itu kembali ditegaskan untuk mengingatkan para pengurus bahwa roda organisasi harus dijalankan dengan visi yang jelas, karena menyangkut soal pandangan tentangan model organisasi.
“Di dalam menggulirkan visi itu, kita pun melakukan semua yang diperlukan. Pertama, kita membangun narasi kenapa visi ini diperlukan dan kenapa harus visi sebagaimana yang kita tetapkan. Di antaranya sebagai artikulasi simbolik yang mewakili visi yang telah kita jalankan, kita katakan bahwa kita ingin menghidupkan Gus Dur,” tegas Gus Yahya.
Gagasan menghidupkan Gus Dur tersebut bertujuan untuk menggambarkan dua komponen mendasar dari visi yang telah dijalankan. Pertama, idealisme kemanusiaan universal. Kedua, tekad untuk menggulirkan transformasi demi meningkatkan kualitas kehidupan kita bersama.
Selain itu, Gus Yahya lantas menyampaikan terima kasih dan ucapan selamat bekerja kepada para pengurus lembaga dan badan khusus yang telah dikukuhkan. Ia juga mengingatkan agar kata-kata harus menjadi kerja.
“Saya ingin katakan, setiap kata yang keluar dari mulut kalian harus menjadi kerja. Setiap kerja harus terukur hasilnya. Kalian tidak boleh hanya bekerja hanya sekadar kelihatan sibuk. Kerjaan harus jelas tujuannya dengan hasil yang jelas ukurannya,” tegas Gus Yahya.
Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Pengukuhan Pengurus Lembaga/Badan Khusus PBNU itu, para pengurus lembaga dan badan khusus PBNU masa khidmah 2022-2027 yang telah dikukuhkan ini akan membahas sekaligus menetapkan rencana program kerja, pada Jumat (25/3/2022) pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Setelah itu, agenda penutupan Rakernas PBNU sampai 23.00 WIB.
Agenda pembukaan Rakernas PBNU, hadir Pengasuh Pondok Pesantren Cipasung KH Abun Bunyamin Ruhiat, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wakil Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin, Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad, serta para ketua PCNU se-Jawa Barat. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/buka-rakernas-pbnu-rais-aam-tekankan-karya-nyata-dan-tak-tertipu-kebesaran-organisasi-TWxnr
*) https://www.nu.or.id/nasional/di-pesantren-cipasung-ketum-pbnu-tegaskan-visi-menghidupkan-gus-dur-MIrBI

