Jakarta (Radar96.com) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Fahrur Rozi (Gus Fahrur) meminta Kedubes Inggris yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Inggris, hendaknya menghormati budaya dan agama di Indonesia yang punya nilai dan aturan berbeda dengan negaranya perihal LGBT.
“Mereka hendaknya menghormati nilai budaya, agama, dan kepercayaan yang berlaku di Indonesia,” kata Gus Fahrur tentang sikap Kedubes Inggris di Jakarta yang mengibarkan bendera Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), Jumat (20/5/2022).
Ia menyatakan pengibaran yang dilakukan di dalam lokasi Kedubes itu tidak akan menjadi polemik jika tidak dipublikasikan melalui akun resmi medis sosial Kedubes, sehingga kini menjadi perdebatan, karena masyarakat Indonesia menentang pergerakan tersebut.
“Sebagai tamu di Indonesia selayaknya mereka menghormati tata krama dan budaya lokal yang sampai saat ini menolak LGBT,” ucapnya.
Bangsa Indonesia memiliki falsafah Pancasila yang sangat menghormati nilai-nilai ajaran agama dan tidak ada satu agama pun dari enam agama yang diakui Indonesia menolerir praktik LGBT.
“Sebagai penyimpangan seksual pelakunya perlu dibimbing dan diobati jika diperlukan agar kembali ke fitrah manusia secara normal,” kata pengasuh Pesantren An-Nur, Bululawang, Malang, Jatim itu.
Sementara itu, Rais Syuriyah PBNU KH Cholil Nafis menganggap bahwa LGBT adalah ketidaknormalan yang harus diobati, bukan dibiarkan dengan dalih toleransi. Ia lantas mengajak agar umat Islam tidak ikut menyiarkan pasangan LGBT.
“Meskipun itu bawaan lahir (tetapi) bukan itu kodratnya. Manusia itu yang normal adalah laki berpasangan dengan perempuan, begitu juga sebaliknya. Janganlah kita ikut menyiarkan pasangan LGBT ini,” ungkap Kiai Cholil dalam cuitannya di Twitter, beberapa hari yang lalu.
Ia menjelaskan, ada seseorang yang memang terlahir dengan kelamin ganda atau bahkan tidak berkelamin. Ada pula orang yang berkelamin satu tetapi orientasi seksnya berlawanan dan ada yang memang kelaminnya normal sebagai laki-laki tetapi karena ikut-ikutan menjadi berlagak seperti perempuan.
“Semua itu dalam Islam harus dikembalikan pada jenis kelamin yang sebenarnya,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini. (*)



