Jakarta (Radar96.com/NUO) – Upacara memperingati Hari Kemerdekaan Ke-77 Republik Indonesia, Rabu (17/8/2022) di Istana Negara Jakarta semakin meriah dengan kehadiran Farel Prayoga. Penyanyi cilik asal Banyuwangi, Jawa Timur ini membawakan lagu “Ojo Dibanding-bandingke” yang sebelumnya telah dipopulerkan Deni Caknan bersama Abah Lala.
Belakangan, lagu tersebut makin viral di media sosial Tiktok dengan suara Farel. Farel membawakan lagu berbahasa Jawa itu setelah Gita Bahana Nusantara menyanyikan beberapan lagu nasional. Melihat suara Farel yang stabil dan melengking, Presiden Jokowi terlihat gembira. Bahkan Iriana Jokowi beberapa kali terlihat berjoget ringan menikmati lagu “Ojo Dibanding-bandingke”.
Penampilan anak yang saat ini duduk di kelas 6 sekolah dasar itu juga membuat pejabat tinggi negara dan seluruh tamu undangan terperanjat penasaran. Semua tersenyum dan bersuka cita dengan warna baru di istana. Bahkan para diplomat luar negeri turut mesam-mesem melihat penampilan Farel.
Setelah Farel selesai menyanyikan “Ojo Dibanding-bandingke”, Indra Bekti sebagai pemandu acara nyanyi tersebut menyampaikan kepada Jokowi bahwa Farel meminta bernyanyi sekali lagi. “Ini anaknya minta sekali lagi boleh?,” kata Indra Bekti.
“Joko Tingkir,” pinta Jokowi dari atas mimbar sambil tertawa. “Joko Tingkir, izin sekali lagi nggih,” sambut Farel. Sempat terdengar intro musik. Tapi lagu “Joko Tingkir” belum juga dinyanyikan. Farel, Indra Bekti, dan beberapa orang sempat terlihat berdiskusi.
Akhirnya, lagu “Joko Tingkir” urung dinyanyikan. Bahkan sempat membuat Jokowi berdiri sambil tersenyum karena lagu permintaannya belum juga dinyanyikan.
“Nuwun sewu (mohon maaf), ini lagunya yang tadi aja boleh, sekali lagi?,” ucap Indra Bekti.
Farel kemudian kembali menyanyikan lagu “Ojo Dibanding-bandingke”. Dalam kesempatan kedua itu, Farel diiringi oleh beberapa tokoh yang juga turun dari kursinya untuk berjoget bersama di dekat Farel.
Beberapa pejabat yang turun untuk mendampingi Farel nyanyi di antaranya, Menkeu Sri Mulyani, Menhan Prabowo Subianto, Menteri BUMN Erik Thohir, Menaker Ida Fauziyah, menteri PUPR Basuki Hadi Muljono, Indra Bekti, Putri Indonesia 2020 Ayu Maulida, dan lainnya.
Selain membawakan lagu “Ojo Dibanding-bandingke”, dalam gladi resik, ternyata Farel memang mempersiapkan lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”. Hal itu terlihat pada unggahan reels di instagram @jokowi. Dalam gladi resik yang dilakukan sehari sebelum pelaksanaan upacara itu, Jokowi sempat berbincang bersama Farel.
“Rel, kamu kelas berapa?,” tanya Jokowi. “Kelas enam,” jawab Farel. “Anu loh ya, boleh nyanyi, tapi jangan lupa belajar,” ucap Jokowi. “Iya, siap,” ujar Farel. “Jangan lupa juga sekolah terus sampai setinggi-tingginya. Udah pesan Pak Jokowi itu aja,” imbuh Jokowi. “Oke, siap, siap,” jawab Farel yang berkeinginan menjadi penyanyi sukses.
Terkait alasan mengapa Farel gagal membawakan lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” yang dipopulerkan Trio Tingkir, hingga sekarang belum ada penjelasan resmi dari istana. Hanya saja, belakangan ini lagu koplo “Joko Tingkir Ngombe Dawet” diprotes karena dinilai tidak pantas.
Beberapa pihak seperti Gus Muwafiq, Asosiasi Kiai Lamongan, akademisi UINSA Surabaya, KH Anwar Zahid, dan terakhir Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengajukan protes. Para pihak yang menyoal menilai lagu parikan “Joko Tingkir Ngombe Dawet” tidak mencerminkan kebudayaan, dan jauh dari kepantasan.
Mereka menilai lagu “Joko Tingkir” disinyalir merujuk pada tokoh Joko Tingkir, raja sekaligus pendiri kerajaan Pajang yang memerintah pada rentang tahun 1568 – 1582 dengan gelar Sultan Hadi Wijaya atau Adi Wijaya.
Gus Muwaffiq bahkan merasa jengkel dengan pengarang lirik “Joko tingkir ngombe dawet, Jo dipikir marai mumet” ini. Dia mengatakan, pengarang tidak mengetahui sejarah. Joko Tingkir, kata dia, bukanlah orang sembarang. Joko Tingkir adalah ulama besar yang menurunkan ulama-ulama di Jawa.
Pelajaran sejarah tidak beres
Dilihat dari segi bahasa, lagu ini sebetulnya tidak memiliki unsur negatif mengingat ngombe dawet atau minum dawet adalah hal yang tidak berarti buruk. “Pelecehan sih mungkin enggak, ya. Ngombe dawet itu kan bukan perkara negatif. Saya yakin, seandainya zaman dulu sudah ada dawet, para perawi hadits nggak bakal jadi dhoif haditsnya gara-gara ngombe dawet,” ujar Makyun Subuki, pakar linguistik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Rabu (17/8/2022).
Namun, bila dilihat dari segi kepantasan, Makyun melihat memang tidak pas. Pasalnya, Joko Tingkir adalah ulama dan kakek buyutnya ulama-ulama NU. “Rasanya kurang elok dijadikan sampiran lirik lagu yang dipakai joget,” ujar penulis buku Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa itu.
Bagi Makyun, hal tersebut menjadi petunjuk bahwa Joko Tingkir tidak dikenal, apalagi sampai menyatu dalam kesadaran religius masyarakat. “Ini kan menandakan bahwa mereka nggak kenal sosok Joko Tingkir secara dekat. Nggak menyatu dengan kesadaran religius mereka,” katanya. “Mungkin, ini berarti juga pelajaran sejarah Islam kita ada yang nggak beres,” pungkas alumnus Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/farel-prayoga-gagal-bawakan-lagu-joko-tingkir-ngombe-dawet-di-istana-beberapa-pihak-menduga-ini-penyebabnya-CrkO6
*) https://www.nu.or.id/nasional/pakar-bahasa-jelaskan-duduk-masalah-lagu-joko-tingkir-ngombe-dawet-0Dqzu



