Jakarta, Radar96.com – Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan, Golkar punya peluang besar mempertahankan posisi pada Pemilu mendatang. Ini karena, kuat di branding, kerja keras mesin partai, dan juga sosok Ketua Umum Airlangga Hartarto.
“Golkar di 2024 dalam catatan survei masih cukup kuat, dan potensial mempertahankan posisi kedua di parlemen. Situasi ini karena kuatnya merek politik Golkar, dan masih miliki basis loyalis yang cukup besar,“ ujar Dedi saat berbincang hari ini (22/02/23).
Maka tidak heran, kata dia, jika dalam survei Litbang Kompas terbaru, Golkar masih berada di posisi yang bagus, elektabilitasnya 9%. Angka ini naik 1,9 persen dibandingkan survei sebelumnya yakni 7,9 persen.
“Juga ini menandai jika mesin partai masih cukup andal hadapi kontestasi dengan partai-partai baru,” kata Dedi.
Pasalnya, lanjut Dedi, Golkar memiliki loyalis, branding yang kuat, juga sosok pemersatu, Ketum Airlangga.
“Justru, Airlangga ini memiliki kekuatan, ia nyaris dianggap berhasil menyatukan friksi di Golkar. Situasi ini tentu prestasi, karena sebelumnya Golkar dianggap memiliki tradisi konflik. Jika Airlangga berhasil sampai pemilihan mempertahankan Golkar tetap solid, maka semakin besar optimisme itu,” jelas Dedi.
Pun berdasarkan Munas Partai Golkar, sudah resmi mengajukan Ketum Airlangga sebagai Capres 2024.
Dia menilai, Airlangga memiliki peluang untuk maju sebagai RI-1 dengan pengalaman yang dia miliki sebagai politisi maupun sebagai Menko Perekonomian. Pun jika dia tidak maju, Golkar diperkirakan masih akan berjaya di Pileg dengan ‘mesin yang bekerja keras’.
“Ini punya basis pengaruh pada tingkat keterpilihan Golkar secara institusional,” tandas Dedi.
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan menilai, kendati merupakan partai nasionalis, Golkar juga dinilai mampu meneguhkan doktrin partai, yakni karya kekaryaan. Hal itu membuat Golkar tidak mempunyai karakter yang dianggap bermasalah dengan basis pemilih muslim.
“Golkar saya pikir dari dulu memposisikan diri bukan sebagai partai yang sangat ideologis. Artinya kalau kita bicara nasionalis, mereka juga selalu mengatakan bahwa ini partai berideologi kekaryaan. Golkar tidak menampakkan karakter yang kemudian bermasalah dengan umat muslim,” pungkasnya.
Pemilih Muslim
Menurut Manan, Golkar juga berpeluang besar untuk meraih suara basis pemilih muslim pada Pemilu 2024. Hal itu jika dibandingkan dengan partai berideologi nasionalis lain.
“Kalau bagi saya, Golkar selama ini dinilai sebagai partai nasionalis tapi sekaligus religius juga sebetulnya. Tidak juga yang sangat, misalnya kalau kita bicara PDIP, kan berbeda,” terangnya.
Menurutnya Golkar selama ini menempatkan diri sebagai partai nasionalis yang kental dengan doktrin karya dan kekaryaan. Dibanding partai nasionalis lain, Golkar tidak tampak berjarak dengan umat Islam. Apalagi banyak tokoh Islam yang bergabung di partai berlambang pohon beringin tersebut.
“Kalau Golkar itu memang relatif di tengah. Memang pasti nasionalis, tapi juga ideologinya karya-kekaryaan, tapi juga tidak kemudian terlihat berjarak dengan umat Islam. Apalagi juga banyak tokoh-tokoh Islam di Golkar kalau kita lihat, ada tokoh NU, Muhammadiyah, termasuk mantan aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) misalnya,” tegasnya.(*)



