Sidoarjo, radar96.com – Kaum Nahdliyin akrab dengan tradisi megengan setiap akhir bulan Sya’ban sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Megengan memang dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Inti dari tradisi megengan adalah berkumpul bersama keluarga, membaca dzikir dan tahlil untuk mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, serta menikmati hidangan bersama.
Selain itu, masyarakat NU juga biasa melakukan ziarah kubur menjelang Ramadhan yang biasa dikenal dengan istilah nyekar. Ada juga yang mengadakan sedekah massal di masjid atau musholla. Semua kegiatan tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Begitu pula yang dilakukan oleh segenap Sivitas Akademika Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan 1446 H. Sebagai bentuk ekspresi kegembiraan, perguruan tinggi di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Sosial Maarif (YPM) Sepanjang itu menggelar kegiatan megengan akbar. Acara diawali dengan doa bersama yang dilaksanakan pada Selasa (25/2) dilanjutkan dengan Pawai Megengan Akbar pada Rabu (26/2) hari ini.

Seluruh Sivitas Akademika Umaha berjalan sepanjang kurang lebih 5 kilometer dengan arakan gunungan apem (kue apem) yang menjadi ciri khas megengan. Kue apem dalam tradisi Jawa melambangkan permohonan maaf antar sesama manusia.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pendidikan Maarif (YPM) Sepanjang, H Ahmad Makki, mengajak seluruh peserta pawai yang hadir untuk menjadi orang yang baik, dengan menyuri-tauladani Rasulullah SAW.
“Selama bulan Ramadhan, kita harus menjadi ‘malaikat’ dan meningkatkan semua amalan yang telah Rasulullah contohkan kepada kita,” ajaknya.
Gus Makki, demikian ia biasa diasapa, juga berharap rangkaian tradisi megengan yang digelar selama dua hari tersebut menjadi pengingat untuk semua bahwa bulan suci Ramadhan sudah dekat dan menyiapkan diri untuk dapat berpuasa selama sebulan penuh dengan baik.



