Tulungagung, radar96.com – Di bawah langit pagi yang cerah pagi tadi, halaman utama Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, Tulungagung dipenuhi gelombang putih-putih bersarung dan berpeci. Rabu (22/10/25) bukan hari biasa. Itu adalah Hari Santri Nasional (HSN). Hari di mana sejarah, khidmat, dan cita-cita bangsa berpadu dalam Resolusi Jihad Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.
Para santri berdiri tegak, bersiap menyambut tamu upacara Hari Santri Nasional, yaitu perwakilan kecamatan, perwakilan Polsek, Babinsa, Kepala Desa Rejoagung, Kepala Desa Kedungwaru, Dewan Syuro Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, dan para guru serta para komite sekolah. Mereka bukan sekadar hadirin, tapi saksi atas semangat yang tak pernah padam, yaitu semangat santri menjaga negeri. Dalam tekad mengabadikan.



Tema HSN tahun ini adalah “santri siaga jiwa raga berkhidmat menjaga negeri”. Sebuah seruan yang bukan hanya slogan, tapi panggilan jiwa. Dalam amanahnya, KH Imam Mawardi Ridlwan menggemakan pesan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani: maa zilta tholiban. “Kalian semua selamanya adalah santri,” ujar beliau. Karena itu para santri harus berikrar “maa ziltu tholiban” (saya adalah santri selamanya).
“Tugas utamanya adalah menjaga eksistensi bangsa, mengabdi, dan membela negeri,” amanah Abah Imam.
Lebih lanjut Abah Imam menegaskan, Hari Santri Nasional lahir dari semangat Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari, sebuah fatwa yang menggerakkan rakyat melawan penjajah. Maka, menjadi santri bukan hanya belajar fiqh dan nahwu, tapi juga menanamkan akhlak, ilmu, dan khidmat sebagai benteng bangsa.
Acara semakin khidmat saat KH Lukman Hakim, Pengasuh Ribath Al Azhaar Rejoagung Tulungagung memimpin tahlil untuk Walisongo, pendiri NU dan pendiri Muhammadiyah, para Presiden RI yang telah wafat, serta para pejuang Pesantren Al Azhaar. Doa-doa mengalir, menghubungkan masa lalu yang mulia dengan masa depan yang penuh harapan. Tahlil sebagai tradisi Ahlussunnah Waljama’ah. Usai tahlil dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Abah Imam yang diberikan kepada para tamu undangan.
Suasana pun berubah menjadi meriah saat paduan suara santri menggemakan Yalal Wathon, lagu HSN yang dikumandangkan sebelum pembina upacara meninggalkan lapangan. Seusai upacara HSN dilanjutkan dengan menggemakan lagu-lagu perjuangan. Bukan sekadar nyanyian, tapi gema cinta tanah air yang tumbuh dari hati yang berkhidmat.
Penampilan para santri sangat baik di akhir HSN. Mereka menunjukkan kemampuan beladiri, berpidato, dan tari zafin sebagai ciri santri.



