Guangzhou, radar96.com – Rombongan OPOP Business Trip 2 Tahun 2026 melanjutkan rangkaian kegiatan internasional dengan melakukan kunjungan resmi ke Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou, Tiongkok, pada Sabtu (25/01/26).
Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 09.00 waktu setempat ini diikuti oleh sekitar 40 delegasi pesantren dari Jawa Timur. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring internasional sekaligus membuka peluang kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, dan pengembangan usaha pesantren.
Rombongan diterima langsung di Wisma KJRI Guangzhou dan disambut hangat oleh Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ben Perkasa Derajat, beserta istri. Setiba di lokasi, para delegasi disambut dengan suasana ramah dan tertib, kemudian diarahkan untuk mengisi daftar tamu sebagai bagian dari agenda penerimaan resmi. Setelah itu, rombongan dipersilakan memasuki ruang tamu utama KJRI Guangzhou yang cukup luas, tertata rapi, dan representatif, dengan kapasitas mampu menampung sekitar 40 orang. Ruangan tersebut menjadi tempat berlangsungnya dialog dan silaturahmi antara delegasi pesantren Jawa Timur dengan pihak KJRI.
Sejak awal pertemuan suasana terlihat akrab, hangat, dan penuh kekeluargaan, mencerminkan eratnya hubungan emosional antara perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri dengan para kiai, gus, ning, serta pengelola pesantren yang hadir dalam rombongan OPOP Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Ben Perkasa Drajat menyampaikan rasa bahagia dan apresiasi atas kunjungan rombongan pesantren yang tergabung dalam Program OPOP Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan momen istimewa karena jumlah delegasi yang hadir menjadi yang terbanyak selama dirinya menjabat sebagai Konjen RI di Guangzhou.
“Saya sangat bahagia pagi ini menerima 40 delegasi pesantren dari Jawa Timur. Sepanjang saya menjabat sebagai Konjen RI di Guangzhou, ini adalah rekor tamu terbanyak yang hadir sekaligus dalam satu waktu,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Konjen juga memperkenalkan latar belakang dirinya yang berasal dari Jawa Timur, tepatnya Malang, serta mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan daerah tersebut. Ia turut menceritakan pengalamannya berkunjung ke Surabaya setahun sebelumnya untuk menghadiri peresmian penerbangan langsung rute Guangzhou – Surabaya bersama Gubernur Jawa Timur, bahkan menjadi penumpang pertama pada rute tersebut, yang dinilai sangat strategis dalam memperkuat konektivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat antara Jawa Timur dan Tiongkok.
Lebih lanjut, Konjen Ben Perkasa memaparkan sejumlah potensi komoditas Indonesia yang memiliki peluang besar di pasar Tiongkok, khususnya di Guangzhou. Ia menyebut kopi dan kelapa sebagai komoditas unggulan yang masih sangat dibutuhkan. Meski budaya masyarakat Guangzhou lebih dikenal dengan kebiasaan minum teh, Konjen menilai hal tersebut justru menjadi peluang untuk mengenalkan kopi Indonesia sebagai kekayaan alam nusantara. Ia juga menegaskan kesiapan KJRI Guangzhou untuk memfasilitasi pesantren-pesantren di Jawa Timur agar mampu menembus pasar internasional dan berkembang secara global.
Sesi dialog kemudian berlangsung secara interaktif dengan sejumlah pertanyaan dari perwakilan pesantren peserta OPOP Business Trip. Gus Alimatsubir dari Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al-Ikhlas Malang mengawali sesi tanya jawab dengan mengangkat isu strategi pengembangan lulusan pesantren agar mampu berkiprah di kancah internasional, termasuk menjadi pengusaha dengan daya saing global. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan hasil dari kegiatan ini. “Kami berharap melalui OPOP Business Trip ini, pesantren tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga jalur koneksi internasional yang bisa dibawa pulang ke Jawa Timur dan memberi dampak kemaslahatan bagi santri serta pesantren,” ujarnya.
Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Ning Qurrotul Ayun dari Pondok Pesantren KH Syarifuddin Lumajang. Ia berharap pesantren-pesantren di Lumajang mendapatkan bimbingan dari Konjen Guangzhou agar potensi lokal mereka bisa di-upgrade dan diekspor ke Guangzhou. “Kami mohon dibimbing dan diarahkan, serta diberikan informasi yang valid dari Konjen agar potensi lokal pesantren kami bisa di-upgrade dan diekspor ke Guangzhou,” tuturnya.
Sementara itu, Gus Indika Rahman dari Pondok Pesantren Roudlatul Ulum Bojonegoro menyampaikan harapan serupa. Ia menekankan pentingnya bimbingan secara berkala dari Konjen untuk memastikan pesantren dapat mengembangkan potensi lokalnya dan menembus pasar internasional. “Kami berharap Konjen membimbing pesantren secara penuh dan berkala, agar potensi lokal kami bisa dikembangkan dan diekspor ke Guangzhou dengan baik,” ungkapnya.
Menanggapi pertanyaan peserta, Konjen menyampaikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia di pesantren sangat memungkinkan, baik melalui jalur pendidikan maupun pengembangan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa Guangzhou dikenal sebagai kota dengan universitas-universitas maju yang terbuka bagi mahasiswa internasional melalui mekanisme seleksi tertentu, sehingga santri pesantren pun memiliki kesempatan mengikuti program pendidikan di sana dan meningkatkan kemampuan mereka di tingkat global. Selain itu, Konjen menegaskan bahwa KJRI Guangzhou siap memberikan bimbingan secara berkala, menyediakan arahan yang tepat, dan memfasilitasi proses ekspor potensi lokal pesantren ke pasar internasional, khususnya di Guangzhou. Menurutnya, dukungan ini diharapkan dapat membuka peluang nyata bagi pesantren untuk berkembang, menembus pasar internasional, dan meningkatkan kualitas produk serta SDM secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Sekretaris OPOP Jawa Timur, Gus Ghofirin, menyampaikan salam hangat dari Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur kepada Konjen RI di Guangzhou, sekaligus menegaskan bahwa Program OPOP merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pondok pesantren dengan tagline “Pesantren Berdaya, Masyarakat Sejahtera.”
Ia menjelaskan bahwa program ini tidak hanya mendorong pemberdayaan ekonomi pesantren, tetapi juga memberikan panduan bagi para santri dan pengelola pesantren agar mampu mengembangkan produk unggulan mereka hingga ke pasar internasional. “Saat ini OPOP Jawa Timur telah diikuti sekitar 1.600 pondok pesantren. Dan hari ini 40 perwakilan mengikuti OPOP Business Trip kedua dengan sepenuhnya biaya mandiri. Hal ini menandakan semangat yang luar biasa dari pesantren untuk go internasional. Ribuan produk pesantren yang ada akan kami kurasi agar tidak hanya jago di pasar lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional,” tegas Gus Ghofirin.
Ia menambahkan bahwa melalui kurasi dan pendampingan yang sistematis, diharapkan setiap produk pesantren memiliki standar kualitas yang baik, kemasan menarik, dan akses pasar yang jelas, sehingga mampu menembus pasar global sekaligus meningkatkan penghasilan pesantren dan masyarakat sekitarnya secara berkelanjutan.
Menutup rangkaian kegiatan, Gus Ghofirin juga berharap adanya peran aktif dari KJRI Guangzhou untuk mendorong pemerintah setempat agar memperbanyak keberadaan restoran halal di Guangzhou. Hal tersebut dinilai penting seiring meningkatnya jumlah wisatawan muslim dari Indonesia yang berkunjung ke kota tersebut. Pertemuan yang diakhiri dengan ramah tamah dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kolaborasi internasional pesantren Jawa Timur serta mempercepat terwujudnya kemandirian ekonomi pesantren melalui Program OPOP.



