Surabaya (Radar96.com) – Ketua ASWAJA NU Center PWNU Jatim, KH Ma’ruf Khozin, menjelaskan Dakwah Ulama Aswaja itu menyeimbangkan Aqidah, Syariah/Fikih dan Akhlah/Tasawuf.
“Ajaran Islam terdiri dari Aqidah, Syariah/Fikih dan Akhlah/Tasawuf. Ini adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jadi, tidak boleh berlebihan satu dari yang lainnya,” katanya di Surababaya, Selasa (31/5/2022).
Jika dakwah terlalu berlebihan dengan hal-hal yang lain maka kecenderungan bagi da’i tersebut adalah mengafir-kafirkan. Jika Fikihnya yang terlalu menonjol maka akan menyesat-sesatkan. Jika Tasawuf yang terlalu dominan, maka akan memiliki kecenderungan pembiaran sambil mengira akan ada perubahan.
“Yang tepat adalah keseimbangan ketiga hal tersebut. Jika ada penyimpangan dari umat maka akan dibimbing dengan kesantunan, kasih sayang, etika dan sebagainya,” katanya.
Saat Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendatangi Fir’aun -Raja yang mengaku Tuhan-, maka Allah berfirman:
لَا لَهُۥ لًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ
“Maka berbicaralah kamu berdua kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Q.S. : Ţāhā: 44)
“Imam Al-Qurthubi menyelaraskan dengan keadaan kita saat ini dalam berdakwah: Kita tidak lebih mulia dari pada Nabi Musa dan Nabi Harun. Orang yang kita dakwahi tidak lebih buruk dari pada Fir’aun, padahal Allah memerintahkan kepada kedua Nabi tersebut untuk berkata lembut kepada Fir’aun,” katanya.
Selain itu, Talhah bin Umar berkata kepada Atha’: “Kamu dikelilingi banyak orang yang berbeda keinginan. Sementara saya orang yang tegas. Saya berkata kepada mereka dengan kata-kata yang kasar”. Maka, Atha’ berkata: “Jangan lakukan itu! Allah berfirman: “Ucapkanlah kata-kata yang baik untuk manusia” (Al-Baqarah 83).
“Dalam ayat ini diperintah berkata yang baik kepada Yahudi dan Nasrani, apalagi sesama Muslim (Tafsir Al-Qurthubi 16/2),” kata Kiai Ma’ruf Khozin. (*/aswajanucenterjatim.or.id)
Sumber: https://aswajanucenterjatim.or.id/dakwah-ulama-aswaja.html

