NU “Abad Kedua” tawarkan kekunoan dengan cara kekinian

Rangkaian acara "Kick off" Satu Abad NU yang bertema "Harmoni, Kolaborasi dan inovasi" di Tugu Pahlawan, Surabaya, Kamis (28/7/2022) malam, menandai "hijrah" NU ke "Abad Kedua" (2026). (*/hmn)
Bagikan yuk..!

Agaknya, acara “Kick off” Satu Abad NU yang bertema “Harmoni, Kolaborasi dan inovasi” di Tugu Pahlawan, Surabaya, Kamis (28/7/2022) malam, menjadi kegiatan yang istimewa.

Betapa tidak, “kick off” Satu Abad NU yang diadakan PWNU Jatim itu ada di “pusat” sejarah NU, karena NU lahir di Surabaya (31 Januari 1926) dan Kantor PBNU pertama juga di kawasan Bubutan, Surabaya.

Tidak hanya itu, acara yang menandai “hijrah” NU ke “Abad Kedua” (2026) itu berlangsung sangat luar biasa, menarik, dan agaknya benar-benar ada “hijrah” dari “Abad Kesatu” (1926) ke “Abad Kedua” (2026).

Bukti “hijrah” NU ke “Abad Kedua” itu terlihat dari rangkaian acara dari awal hingga akhir yang seakan-akan mengantarkan “hijrah” dari kekunoan ke kekinian.

Yang istimewa lagi, “hijrah” NU menuju Abad Kedua yang bersamaan dengan Tahubn Baru Islam 1444 Hijriyah itu bukan menghilangkan kultur yang dimiliki NU selama ini.

Namun, NU “hanya” mengemas kekunoan/tradisi menjadi kekinian, sehingga rangkaian acara “Kick off” Satu Abad NU itu sebenarnya bermula dari kultur lama NU tapi dirancang tetap menarik minat generasi digital.

Misalnya, “Tugu Pahlawan (Tupal) Fashion Night” yang mewarnai kemeriahan “Kick Off ” Satu Abad NU itu bukanlah peragaan busana yang glamour sekali.

Namun, peragaan busan itu dengan busana yang merupakan hasil karya desainer asal pondok pesantren, yakni Ning Ficky Aisya (istri Ra Nasih) dari Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan dan Listya Ayu Qudus.

Selain model profesional, karya desainer pesantren itu juga diperagakan oleh Gawagis dan Nawaning seperti Gus Haris dan Ning Marisa (Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo), Gus Ahmad dan Ning Sheila (Ponpes Lirboyo Kediri), dan Lora Nasikh dan Ning Vikcy (Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan).

Bahkan, Walikota Surabaya Eri Cahyadi beserta istri, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan dan istri, serta Rektor Unesa Prof. M. Nurhasan juga tampil dalam “Tupal Fashion Night” itu.

Selain “fashion”, “Kick Off” yang dibuka dengan penekanan “screen tablet” oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama wakil Rois Syuriah PWNU Jatim KH. Agoes Ali Masyhuri, Ketua PWNU Jatim KH. Marzuki Mustamar, Ketua Panitia 1 Abad NU Jatim KH. Abdussalam Sochib dan Walikota Surabaya Eri Cahyadi itu juga berkesan dengan tampilnya sejumlah kyai dalam membacakan puisi.

Pembaca puisi antara lain Ketua Umum MUI Jatim KH. Moh Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH. Marzuki Mustamar dan Ketua PW Muhammadiyah Jatim KH. Saad Ibrahim.

Tak hanya itu, ada juga penampilan dari lintas agama yakni Barongsai dari Klenteng Boen Bio Kapasan, Surabaya.

Konsep “harmoni, kolaborasi dan inovasi” itu juga terlihat dari penampilan paduan suara dari Polrestabes Surabaya yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon.

Ada pula, penampilan 100 Ishari Milenial dari SMA-SMK Sunan Kalijogo Jabung, Malang, sampai akhirnya menampilkan “Tugu Pahlawan Fashion Night” itu.

“Benar, semuanya berangkat dari kultur NU sendiri tapi dikemas secara entertainment, sehingga kultur NU akhirnya menarik minat kalangan remaja dan mahasiswa di Surabaya dan sekitarnya,” kata show-director ‘Tupal Fashion Night’ Helmy M Noor.

Sebagai “entertainment” yang juga jebolan pesantren, Helmy mengaku NU Abad Kedua memang harus melakukan penyesuaian dengan era digital, sehingga NU tetap menarik dari abad ke abad.

“Misalnya, pencak silat Pagarnusa ya bisa saja berdurasi 1-2 jam, tapi untuk anak-anak milenial cukup 10-15 menit, karena yang penting pesan dari Pagarnusa sebagai ikhtiar NU dalam mencintai NKRI tetap muncul dengan atraksi pencak membawa bendera merah putih. Kalau fashion ya dibuat religis saja,” katanya.

Merangkul, bukan memukul

Beragam aksi kolaborasi dalam “kick off” itu mendapat apresiasi beragam kalangan, diantaranya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

“Ini menjadi suatu bentuk harmonisasi dan kolaborasi yang luar biasa. Bahwa NU hadir selalu merangkul, tidak memukul, artinya penuh damai. NU hadir untuk semua tidak hanya untuk warga NU saja, tapi juga seluruh kalangan. Bagaimana NU ada untuk membangun peradaban dan perdamaian dunia,” katanya.

Menurutnya, gelaran Tupal Fashion Night ini menjadi gambaran bahwa fashion muslim ini menjadi potensi besar yang bisa dikembangkan sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi.

Selain itu, banyak Warga NU yang juga merupakan desainer baju muslim seperti Ning Ficky Aisya istri Ra Nasih (Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan) dan Listya Ayu Qudus.

Ya, harmonisasi, kolaborasi dan inovasi itu menjadi hal penting, karena saat ini memang merupakan abad baru dengan tatanan kehidupan yang baru dan didorong oleh teknologi, atau sering disebut era disrupsi.

Tentu, era baru ini bukan lagi era kompetisi tetapi soal kolaborasi, kreatifitas dan inovasi, karena itu semarak “Kick Off ” Satu Abad NU di Surabaya itu menjadi momen penting bagi NU untuk menuju Abad Modern.

Apalagi, Ketua Panitia 1 Abad NU Jatim yang juga Wakil Ketua PWNU Jatim KH. Abdussalam Sochib mengatakan bahwa perjalanan 100 tahun NU merupakan pertanda dari perubahan peradaban untuk Indonesia dan dunia.

Puncak Satu Abad NU itu akan “ditutup” dengan istighosah kubro bersama 1 juta nahdliyin pada 12 Februari 2023. Itulah “puncak” kolaborasi, harmonisasi, dan inovasi NU menuju Abad Kedua NU (2026).

Kolaborasi, harmonisasi, dan inovasi NU menuju Abad Kedua NU itu sendiri sudah dijalin sejak “Kick Off” Satu Abad NU di Kota Pahlawan Surabaya itu, 27 Juli 2022.

Buktinya, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon dinyanyikan oleh paduan suara Polrestabes Surabaya. Artinya, jika lagu syubbanul wathon dinyanyikan oleh Nahdliyin ini sudah biasa, tapi kali ini justru polisi.

Selain itu, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dilantunkan oleh Serda Nanang Syaiful Anwar dari Kodam V Brawijaya dan Sari Tilawah dari Polwan. Jika Polwan dan Polri, maka berarti kultur NU sudah sangat familiar di semua kalangan.

Juga, ada kolaborasi pembacaan puisi antara Ketua Umum MUI Jatim, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim dan Ketua PW Muhammadiyah Jatim. Harmonis banget.

Tidak hanya itu, ada penampilan 100 Ishari milenial dari SMA-SMK Sunan Kalijaga Jabung, Malang. Biasanya Ishari dilantunkan oleh orang-orang yang sepuh, kali ini oleh anak-anak milenial. Keren dan gaul.

Ya, ada perpaduan spirit kekunoan dan kekinian dalam perhelatan akbar yang dipadati ribuan pengunjung, termasuk generasi milenial. Dari tradisional menjadi digital dalam “kemasan” Ahlussunnah wal Jamaah. (*/tim96radar)

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.