Kediri. Radar96.com.
Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2022 digelar dengan meriah oleh PCNU Kota Kediri. Kegiatan diawali dengan syukuran menggunakan 100 tumpeng lalu disambung dengan pengajian malam Jumat oleh Gus Liek (KH Dauglas Thoha Yahya) di GOR Joyoboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (27/10/22) malam. Kemeriahan peringatan hari santri sekaligus menyambut peringatan Satu Abad NU ini dihadiri tidak kurang dari 10.000 jamaah nahdliyin.

“Ini adalah bentuk penghormatan kami pada tradisi. Tumpeng ini kan warisan leluhur yang terus diuri-uri oleh NU. Ya maknanya sangat dalam bagi kami, seperti cara makannya yang bersama-sama, kami harap kebersamaan ini akan terus terjaga, terbukti NU akan berusia 100 tahun pada 23 Februari 2023,” jelas Nur Muhyar, ketua panitia acara.
“Kebersamaan itu jangan diartikan hanya NU, tapi juga bangsa Indonesia pada umumnya, sehingga kita tidak mudah terpecah belah. Tumpeng itu simbol, bentuknya kan mengerucut ke atas, bisa ditafsirkan berjuang bersama-sama untuk menuju satu visi: Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambah Muhyar.
Nur Muhyar mengungkapkan, untuk membuat 100 tumpeng ini ia memberdayakan para anggota Fatayat dan Muslimat di Kota Kediri. “Ya agar mereka tidak lupa cara membuat tumpeng, saya harap juga generasi yang lebih tua bisa mengajari yang muda-muda masak untuk kebutuhan tumpeng, biar ada regenerasi,” katanya.
Itu juga yang membuat ia menggagas lomba kreasi tumpeng yang beberapa bulan sebelumnya digelar di Pondok Lirboyo, Kota Kediri.
“Kita semua mempunyai kewajiban menjaga kesepakatan nasional yakni negara yang berbentuk NKRI,” tegas KH Dauglas Thoha Yahya (Gus Liek) dalam ceramah pengajiannya usai acara tumpengan. Gus Liek menambahkan, kita juga memperingati Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober, yang dilatarbelakangi oleh Resolusi Jihad, merupakan embrio dari Hari Pahlawan 10 November.
“Pendiri NU mencetuskan Hubbul Wathon Minal Iman. Kita harus bisa menjadi orang yang nasionalis religius,” pesan Gus Liek dalam pengajian tersebut.


