By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Merawat Jawa Timur, Menjaga Indonesia
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Merawat Jawa Timur, Menjaga Indonesia
Kolom

Merawat Jawa Timur, Menjaga Indonesia

02/09/2025 Kolom
SHARE

Oleh Nonot Sukrasmono *)

Bagi seorang perupa seperti saya, Jawa Timur ini bukan sekadar peta dengan batas-batas administratif. Ia adalah kanvas raksasa tempat Sang Pencipta melukiskan keberagaman yang luar biasa.

Dari spiritualitas Mataraman hingga keterbukaan masyarakat Pesisir, dari kultur Tapal Kuda yang unik hingga denyut kosmopolitan Surabaya, semuanya adalah sapuan kuas warna-warni yang membentuk wajah provinsi ini. Wajah inilah yang kita sebut rumah.

Namun, belakangan ini, saya merasakan ada hawa yang kian memanas. Langit demokrasi yang kita perjuangkan bersama memang memberikan ruang bagi siapa saja untuk bersuara. Itu adalah berkah yang patut kita syukuri.

Akan tetapi, ada kalanya saya merasa miris ketika kebebasan itu diekspresikan dengan cara yang justru merusak keindahan rumah kita sendiri.

Saya berbicara dari sudut pandang seorang pegiat seni dan budaya. Ketenangan dan kedamaian adalah udara yang kami hirup untuk bisa berkarya. Bagaimana mungkin kuas bisa menari di atas kanvas, atau pena bisa merangkai kata-kata bijak, jika di luar sana yang terdengar adalah riuh amarah dan suara benda-benda yang pecah? Seni dan budaya lahir dari kejernihan batin, dan kejernihan itu mustahil hadir di tengah kekacauan.

Tindakan anarkis, siapapun pelakunya dan apapun alasannya, adalah sebuah kemunduran. Ia bukan hanya merusak pagar dan gedung, tapi meruntuhkan pilar-pilar kepercayaan dan rasa aman di antara kita.

Dan jangan pernah lupa, korban pertama dari setiap gejolak sosial adalah wong cilik, dulur-dulur kita yang hidupnya bergantung pada roda ekonomi yang berputar lancar setiap hari. Asap di jalanan berarti dapur yang terancam tidak mengepul.

Kita harus sadar betul, Jawa Timur ini adalah etalase, sekaligus jangkar bagi Indonesia. Stabilitas nasional seringkali berkiblat pada kondisi di tanah ini. Percikan api di Surabaya atau di sudut manapun di Jawa Timur, jika kita biarkan dan malah kita siram dengan bensin provokasi, bisa dengan cepat menyambar menjadi kobaran api yang membakar keutuhan kita sebagai bangsa. Tanggung jawab kita tidak main-main.

Para sesepuh, kiai, dan leluhur kita telah mewariskan sebuah DNA kultural yang agung: semangat tepo seliro, kemampuan untuk ber-musyawarah, dan kearifan untuk menyelesaikan masalah di meja dialog, bukan di jalanan.

Lihatlah tradisi cangkrukan kita; di warung kopi sekalipun, perdebatan sengit bisa berakhir dengan tawa dan saling rangkul. Inilah kekuatan kita yang sesungguhnya. Kearifan ini adalah benteng pertahanan kita.

Maka dari itu, melalui tulisan sederhana ini, saya ingin mengetuk hati kita semua. Mari kita eratkan kembali rangkulan kita. Boleh saja kita berbeda pandangan politik, itu wajar. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa kita semua adalah saudara, penghuni kanvas besar bernama Jawa Timur.

Mari kita jaga kewarasan bersama. Mari kita rawat kedamaian di kampung dan kota kita. Karena dengan merawat Jawa Timur, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan Indonesia. (*)

*) Penulis adalah Budayawan, dan Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur

Iklan.

You Might Also Like

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Asperapi: Industri Pameran terdampak pembatalan/penundaan event akibat unjuk rasa
Next Article Tiga Wisatawan Jerman Kagumi “Kebesaran” Masjid Al-Akbar Surabaya

Advertisement



Berita Terbaru

Waketum PP ISNU Prof Mas’ud Said Lantik 95 Pengurus Baru ISNU Blitar
Nahdliyyin
Imam Masjid Al-Akbar: Haji adalah Miniatur Kehidupan
Sospol
Masjid Al-Akbar Surabaya Kembangkan “Bioflok Ikan” berbasis Teknologi RAS
Sospol
Perkuat Digipreneur, Al Yasmin Hadiri Rakor Rencana Pengembangan Pesantren
Sospol

You Might also Like

Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
Kolom

Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman

18/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?