Surabaya, radar96.com – Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, H Nailur Rochman (Gus Amak), menyatakan jihad di era digital adalah mengendalikan diri sendiri atau menahan jari/jempol untuk berkomentar bila tidak tahu (tidak berpengalaman/tidak memiliki ilmunya).
“Itu tidak mudah, tapi Nabi mengatakan orang yang masuk surga adalah orang muttaqin dan ciri orang muttaqin adalah orang yang menahan amarah atau menahan nafsu, kalau sekarang yang menahan jari/jempol,” kata gus milenial itu di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Minggu.

Saat tampil bersama sang isteri, Ning Hj Widad Bariroh, dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-23, yang bertajuk “Jihad GenZI di Era Digital” itu, Gus Amak menjelaskan jihad secara fisik memang lebih mudah, tapi jihad sekarang di dunia maya.
“Untuk jihad di dunia maya itu, kita harus tahu, paham, dan mengerti bahwa dunia maya itu ruang publik. Kalau teman ngopi mungkin setara atau sebaya, tapi kalau di dunia maya itu ada yang berpendidikan dan tidak, ada yang berkarakter dan tidak, jadi latar belakang beda,” katanya.
Oleh karena itu, kita harus menjaga diri, kapan berbicara atau tidak, jangan memaksakan pendapat. “Jadi, kita harus memperhatikan atau memahami orang lain, jangan seperti sekarang yang ibarat ‘matinya kepakaran’, atau bicara itu sesuai dengan kepakaran, jangan tidak tahu apa-apa, tapi sok paling pakar, padahal semuanya dipertanggungjawabkan,” katanya.
Menurut Gus Amak, jihad di era digital adalah melawan diri sendiri, atau melawan “matinya kepakaran”, jangan bicara dari informasi “katanya” (tidak tahu/tidak pakar), jangan menuduh tapi tidak paham apa yang dituduhkan, seperti bukan santri atau bahkan tidak pernah silaturahmi ke pesantren, tapi bicara soal pesantren seperti paling tahu, padahal hanya berdasar potongan video 1 menit dari 1 jam.
“Ruang publik di dunia maya itu seperti memilih rasa atau selera, kita harus mengatur diri dengan melakukan anti tesis, apa saya perlu komentar? Apa motivasi saya untuk kebaikan atau sekadar viral atau ingin dikenal? Sayyidina Ali saja pernah mundur dari peperangan, karena diludahi. Baginya, kalau melawan orang yang meludahi itu berarti berjuang bukan karena Allah,” katanya.
Sementara itu, Ning Widad Bariroh, menyebut survei terakhir tahun 2024 mencatat orang Indonesia masuk dunia medsos itu peringkat 9 di Asia Pasifik, atau sangat banyak, tapi secara adab bermedsos justru nomer 3 dari bawah, atau paling banyak di medsos tapi tidak beradab, karena merasa di dunia anonim, padahal ruang publik.
“Peradaban itu ada di adab, bukan asal ngomong. Kalau nggak punya hati di dunia digital itu sama saja dengan orang yang sedang sakit hati. Semakin tinggi teknologi atau hitech itu, maka adab juga harus semakin tinggi, jangan merasa anak di rumah, lalu dianggap aman di dunia digital, karena komentar ada dimana-mana,” katanya.
Namun, adab di dunia digital itu harus bijak (hikmah) dan relevan/mengikuti generasi yang diajak bicara. “Orang muslih atau saleh itu untuk bicara di dunia digital juga harus alim/mengerti/belajar. Kalau anak sekarang suka kuantitas yang dilayani dari situ, seperti bicara apa yang viral, lalu didiskusikan, bukan sok memperbaiki, karena viral (banyak disukai) itu belum tentu benar bila maksiat.
Dalam kesempatan itu, Gus Amak dan Ning Widad sempat mengapresiasi Majelis Subuh GenZI. “Baru pertama kali ini, saya ngaji subuh dengan anak-anak GenZI. Saya kira, generasi tua yang orang tua dari para GenZI juga perlu ikut ngaji semacam ini agar tahu dunia anak-anaknya,” kata Ning Widad. (*/mas)

