By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Di hadapan 40.000 Jamaah Masjid Al-Akbar, Prof Halim Soebahar: Idul Adha Ajarkan Kesabaran Paling Tinggi
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Di hadapan 40.000 Jamaah Masjid Al-Akbar, Prof Halim Soebahar: Idul Adha Ajarkan Kesabaran Paling Tinggi
Sospol

Di hadapan 40.000 Jamaah Masjid Al-Akbar, Prof Halim Soebahar: Idul Adha Ajarkan Kesabaran Paling Tinggi

27/05/2026 Sospol
SHARE

Surabaya, radar96.com – Saat menyampaikan khutbah Idul Adha di hadapan 40.000 Jamaah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Ketua Umum MUI Jawa Timur Prof Dr KH Abd. Halim Soebahar MA menegaskan bahwa Idul Adha mengajarkan kesabaran paling tinggi yang diteladankan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menerima apapun ketetapan Allah.

“Kesabaran paling tinggi itu diteladankan Nabi Ibrahim ketika taat pada perintah Allah harus rela mengorbankan anak sendiri, Nabi Ismail,” katanya dalam khutbah bertema ‘Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk Membina Generasi Unggul’ yang dihadiri Gubernur Jatim Hj Khofifah, Wagub Jatim, dan Forkopimda Jatim di Masjid Al-Akbar Surabaya, Rabu pagi.

Dalam khutbah setelah Sholat Idul Adha dengan imam KH Abdul Hamid Abdullah M.Si (Imam Besar MAS) itu, Prof Halim Soebahar menjelaskan Hari Raya Idul Adha bukan hari raya biasa, tetapi hari-hari penuh sejarah.

“Kalau hari raya idul fitri diawali dengan turunnya pertama kali Al-qur’an (17 Ramadhan) berupa turunnya 5 ayat dalam Al Qur’an Surah Al-‘Alaq, maka Idul Adha diawali dengan turunnya al-Qur’an yang terakhir (9 Dzul hijjah) berupa Surah Al Maidah ayat 3, yang berbunyi ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu’,” katanya.

Dalam Al-qur’an yang sudah sempurna itu ada sejarah besar, yakni sejarah keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail, yang memberi pembelajaran tentang kesabaran paling tinggi, ketika taat pada perintah Allah harus rela mengorbankan anak sendiri, Nabi Ismail. Disembelih oleh tangannya sendiri, di hadapan matanya, dan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk patuh pada perintah Allah SWT.

“Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kisah kesabaran yang sangat luar biasa untuk kita teladani bersama. Dalam potongan kisah tersebut, kita menyaksikan dua sosok luar biasa : Nabi Ibrahim tidak hanya menunjukkan ketaatan sebagai seorang hamba, tapi juga ketegaran dan keberanian sebagai seorang ayah yang sanggup menundukkan rasa cintanya kepada sang anak demi patuh kepada Tuhannya,” katanya.

Begitu juga Ismail, keteguhan hati seorang anak yang memperlihatkan bahwa jiwanya tidak goyah sekalipun diperintah untuk menyerahkan nyawanya. “Kita ambil ‘ibrah (pelajaran berharga) bahwa apa yang dilakukan keduanya tidak sekadar hubungan antara ayah dan anak biasa. Keduanya adalah manusia pilihan yang berbeda dengan manusia pada umumnya,” katanya.

Karenanya, keteladanan ini bukanlah ajakan agar orang tua bisa meminta apa pun pada anaknya, atau agar anak selalu menuruti tanpa berpikir, karena pelajaran besarnya adalah tentang kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas, dan pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata.

Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan putranya, dan pisau telah siap di tangannya, serta Nabi Ismail telah ridha dan pasrah pada perintah Allah. Pada saat itulah, datang seruan dari Allah SWT bahwa semua itu hanyalah ujian keimanan, dan tidak benar-benar akan mengambil nyawa sang anak.

“Inilah ruh ‘ibrah dari Idul Adha, yaitu ketundukan, kepatuhan dan menerima pada apa yang Allah tetapkan sebagaimana yang tercermin dalam diri Nabi Ibrahim, serta ikhlas dan sabar sebagaimana dalam diri Nabi Ismail. Nabi Ibrahim tidak hanya semata menyembelih, tapi melepas rasa kepemilikan yang berlebihan, menyembelih ego, menyembelih rasa takut yang menghalanginya dari total patuh kepada Allah,” katanya.

Pelajarannya adalah menerima terhadap semua takdir dan ketentuan Allah dengan ikhlas dan percaya, bahwa semua itu benar-benar yang terbaik bagi semua, tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa berontak.

Generasi Unggul

Khusus sosok generasi muda, Ismail, Prof Halim Soebahar menambahkan kedepan perlu diikhtiarkan bersama untuk membina generasi unggul, generasi yang menjadi impian bersama.

Pertama, generasi yang beriman. Dengan keimanan, generasi mendatang akan memiliki ketangguhan dan sekaligus kepasrahan dalam menghadapi beragam ujian dan tantangan.

Kedua, generasi yang berilmu dan berakhlaqul-karimah, sebagai ekspressi keimanannya. “Itulah sosok generasi yang diimpikan oleh Ibu Gubernur Jawa Timur, yakni generasi emas yang Unggul, Berdaya Saing Global dan Berkarakter Mulia Menuju Indonesia Emas 2025,” katanya.

Sejak tahun 2019 sampai sekarang, Program Beasiswa S1, S2, S3, di dalam maupun luar negeri mencapai sasaran 7.976 penerima manfaat dengan menjalin kemitraan dengan 150 perguruan tinggi.

Data terakhir (19 Mei 2026), program beasiswa ini telah meluluskan : 2.580 sarjana, 1.325 magister, 49 doktor; 665 sarjana Marhalah Ula Ma’had Aly, 28 magister Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly, dan 25 sarjana Al-Azhar. Tahun ini sudah 250 dosen penerima manfaat beasiswa S3, sehingga pada tahun 2029 akan lahir 250 doktor.

“Ini sungguh prestasi istimewa, karena pendidik bergelar doktor plus Kiai Haji sangat berdampak terhadap sosok generasi mendatang, sangat berdampak terhadap pengembangan perguruan tinggi, dan sosok generasi seperti ini telah merata berkhidmat di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, Alhamdulillah,” katanya.

Setelah Sholat dan Khutbah Idul Adha 1447 H, Panitia Qurban MAS 1447 H melakukan penyembelihan hewan kurban yang hingga Rabu (27/5) dinihari mencatat 72 hewan kurban yakni kurban kambing sebanyak 49 ekor, kurban sapi sebanyak 17 ekor, dan kurban sapi patungan sebanyak 6 ekor. Ke-17 kurban sapi berasal dari Presiden RI, Gubernur Jatim, Wakil Gubernur Jatim, Sekda Prov Jatim, dan forkopimda, serta Kapolri.

“Kepada masyarakat yang berkurban di Masjid Al-Akbar, kami ucapkan terima kasih. Kita doakan masyarakat Jatim yang sedang menunaikan ibadah haji, semoga lancar dan menjadi haji mabrur,” kata Gubernur Khofifah dalam sambutannya. (*/mas)

Iklan.

You Might Also Like

Buka PKKMB 2026, Rektor Unusa Tekankan Kerja Keras, Soft Skill dan Adab

PT Utama Lestari Indonesia Dorong SDM Konstruksi Jatim Bersertifikat, Bidik Kebutuhan Proyek Triliunan Rupiah

Ketua KOPRI PMII se-Bondowoso Soroti Tantangan Regenerasi

Menunggu Perbaikan Data, DPRD Bondowoso Soroti Nasib Warga Penerima Bansos

IPK Tinggi Saja Belum Cukup, Lulusan Harus Punya Kesiapan Kerja

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article PWNU Jatim terima Sapi Kurban dari BPJS Ketenagakerjaan, Ketum Golkar, PAN, dan Nasdem
Next Article Prof.Dr.KH. Nazaruddin Umar, Menteri Agama RI Menyerahkan Sapi Qurban kepada PWNU Jawa TImur

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Dari Hutan untuk Peradaban: Ketika Kepemimpinan Khofifah Mengubah Kelestarian Menjadi Kesejahteraan
Kolom
Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial
Kolom
Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan
Kolom
Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi
Kolom

You Might also Like

Sospol

Arjunu–RJI International Forum 2026 Perkuat Kolaborasi Dorong Jurnal Indonesia Menuju Scopus

25/08/2026
Sospol

BAZNAS Jatim Hadirkan Layanan Ambulans Gratis di Kediri dan Sekitarnya

25/08/2026
Sospol

Dari Nasi hingga Apel Hijau, Menu MBG SPPG Grujugan Kidul 01 Bondowoso

24/08/2026
Sospol

Semarak Pawai Budaya, Anak-Anak TK Alifya Bondowoso Belajar Arti Persatuan dalam Keberagaman

22/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?