Bondowoso, radar96.com – Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak lagi dipandang sekadar sebagai kewajiban akademik untuk memenuhi syarat kelulusan. Universitas Bondowoso menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu menjadi agen transformasi berbasis digital yang menghadirkan inovasi, memperkuat pemberdayaan masyarakat, sekaligus menjawab persoalan nyata yang dihadapi desa.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Pembekalan KKN Tahun Akademik 2025/2026 Semester Genap yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), di Ruang Pekerti Universitas Bondowoso, Senin (20/7/2026).
Sebelum diterjunkan ke Kecamatan Tlogosari, mahasiswa dibekali berbagai materi agar mampu menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Mengangkat tema “Pemberdayaan Potensi Desa Berbasis Digital untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Tlogosari”, Universitas Bondowoso mendorong mahasiswa agar memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar mengikuti tren digitalisasi.
Rektor Universitas Bondowoso, Samsul Arifin, S.Pd.I., M.H.I., mengatakan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya dilihat dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.
“Kuliah Kerja Nyata merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa Universitas Bondowoso diharapkan mampu menghadirkan program-program yang memberikan dampak positif bagi masyarakat Kecamatan Tlogosari. Selain itu, jagalah etika, akhlak, dan nama baik almamater selama berinteraksi dengan masyarakat, karena keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program, tetapi juga dari keteladanan sikap dan integritas mahasiswa,” ujar Samsul Arifin.
Ia menilai mahasiswa harus mampu menjadi mitra masyarakat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan desa, sekaligus menjadi contoh dalam membangun budaya kolaborasi dan kepedulian sosial.
Ketua LPPM Universitas Bondowoso, Mohammad Haris Taufiqur Rahman, S.H., M.H., menambahkan bahwa setiap program yang disusun mahasiswa harus diawali dengan pemetaan kebutuhan masyarakat sehingga kegiatan yang dilaksanakan memiliki nilai keberlanjutan.
“Program kerja KKN harus dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, berorientasi pada solusi, serta memiliki keberlanjutan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian. KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan menjadi ruang implementasi ilmu pengetahuan yang mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dan memperkuat pembangunan desa secara berkelanjutan,” katanya.
Ia menjelaskan, arah KKN tahun ini tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi desa melalui digitalisasi UMKM, pendampingan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, pengembangan administrasi desa berbasis elektronik (e-government), literasi digital, hingga pengelolaan sampah berbasis teknologi.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Yuda Yulianto, S.I.P., M.I.P., mengingatkan bahwa kemampuan beradaptasi dengan budaya masyarakat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan KKN.
“Mahasiswa harus menjunjung tinggi tata krama, menghormati nilai-nilai sosial dan budaya setempat, serta mampu membangun komunikasi yang baik dengan seluruh elemen masyarakat. Kehadiran mahasiswa hendaknya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga pelaksanaan program dapat berjalan secara partisipatif dan memperoleh dukungan dari berbagai pihak,” ujarnya.
Selain mendorong transformasi digital desa, Universitas Bondowoso juga mengintegrasikan Program Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting) ke dalam pelaksanaan KKN. Program tersebut merupakan tindak lanjut kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) agar perguruan tinggi ikut berkontribusi dalam percepatan penurunan angka stunting.
Melalui program tersebut, mahasiswa akan melakukan edukasi kesehatan, pendampingan posyandu, peningkatan gizi keluarga, edukasi bagi ibu hamil dan balita, serta penguatan pemberdayaan masyarakat berbasis data sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan sumber daya manusia sejak tingkat desa.
Melalui pembekalan ini, Universitas Bondowoso berharap mahasiswa tidak hanya meninggalkan laporan akademik setelah KKN berakhir, tetapi juga meninggalkan inovasi, pengetahuan, dan dampak yang dapat terus dirasakan masyarakat sebagai bagian dari implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. (*/Rif)



