By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Muktamar Telah Usai, Saatnya Menyatukan Langkah untuk NU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Uncategorized > Muktamar Telah Usai, Saatnya Menyatukan Langkah untuk NU
Uncategorized

Muktamar Telah Usai, Saatnya Menyatukan Langkah untuk NU

31/08/2026 Uncategorized
SHARE

Menatap masa depan NU yang lebih baik

Oleh H Muzammil Syafii

Selamat dan ta’zhim kepada KH Miftachul Akhyar atas terpilihnya kembali sebagai Rais Aam PBNU, dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU, untuk masa khidmat 2026–2031.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kekuatan, kesehatan, petunjuk, dan ‘inayah-Nya kepada beliau berdua dalam mengemban amanah besar memimpin Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Semoga kepemimpinan yang baru membawa NU semakin kokoh, maju, mandiri, profesional, dan semakin luas kemanfaatannya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Titik Akhir Kontestasi, Titik Awal Konsolidasi

Muktamar telah usai. Keputusan telah diambil. Para muktamirin telah mempercayakan proses pemilihan kepada Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) — forum yang diisi ulama dengan kapasitas keilmuan, integritas, sikap adil, dan ‘ainul bashirah untuk menentukan pilihan terbaik bagi Jam’iyah. Maka ketika keputusan telah ditetapkan, kita kembali pada firman Allah SWT:

Faidza azamta fatawakkal ala Allah yang artinya : “Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Dalam tradisi pesantren, kita juga mengenal nilai sam’an wa tha’atan — bentuk penghormatan terhadap keputusan yang telah ditempuh melalui mekanisme organisasi yang sah. Karena itu, Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang ini harus menjadi titik akhir dari seluruh kontestasi, sekaligus titik awal bagi konsolidasi Jam’iyah.

Beberapa bulan terakhir, kita berada dalam suasana perbedaan pilihan dan pandangan. Sebagian warga Jam’iyah bahkan begitu heroik membela calon yang didukungnya. Perbedaan itu kadang berkembang menjadi gesekan — dalam perdebatan, dalam hubungan sosial, bahkan pada situasi tertentu sempat memicu ketegangan fisik.

Biarlah semua itu menjadi pengalaman dan pelajaran berharga. Sebab sesungguhnya konflik dan gesekan tidak pernah memberi keuntungan bagi Jam’iyah. Ia hanya menguras energi, merenggangkan ukhuwah, meninggalkan luka, dan berpotensi menghambat pekerjaan besar NU.

Kini, tidak boleh ada lagi kubu.

Tidak ada lagi kelompok yang merasa menang dan kelompok yang merasa kalah. Tidak ada lagi energi yang dihabiskan untuk mempertahankan rivalitas masa lalu. Sebab yang menang adalah NU — dan tugas kita sekarang bukan mempertahankan kemenangan kelompok masing-masing, melainkan memenangkan agenda NU.

Agenda Besar NU di Abad Kedua

Di hadapan kita terbentang pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar soal siapa yang terpilih memimpin.

Keputusan Muktamar bidang Program telah memberi arah yang jelas mengenai agenda besar Jam’iyah lima tahun ke depan. Di antara prioritas yang harus menjadi garapan bersama: tata kelola organisasi berstandar internasional, transformasi kader, satu data NU, warga berdaya, standardisasi mutu pendidikan dan sekolah, serta transformasi pesantren.

Agenda-agenda ini bukan pekerjaan sederhana. Semuanya membutuhkan energi besar, sumber daya yang kuat, profesionalisme, inovasi, dan yang terpenting — kebersamaan.

  • Tata kelola organisasi berstandar internasional membutuhkan profesionalisme dan sistem yang tertata.
  • Transformasi kader membutuhkan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi penerus.
  • Satu Data NU membutuhkan integrasi seluruh struktur dan lembaga.
  • Warga berdaya membutuhkan kerja nyata untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan warga Jam’iyah.
  • Standardisasi mutu pendidikan membutuhkan kesungguhan membangun lembaga pendidikan yang berkualitas.
  • Transformasi pesantren membutuhkan kemampuan menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai salaf, sekaligus merespons tantangan zaman. Melalui 6 pilar transformasi pesantren
  • Aswaja Arus Utama, Penharusutamaan ideologi Aswaja sesuai dengan perkembangan demografi  Indonesia dan ummat islam
  • Gerakan Darling ( Gerakan Sadar Lingkungan )  membangun keasadaran Ja’iyah dan Jam’ah untuk kehidupan yang lebih selaran dengan alam

Semua itu mustahil terwujud tanpa kolaborasi. Tidak mungkin agenda sebesar ini dikerjakan oleh satu kelompok, satu struktur, atau satu figur saja. NU membutuhkan kolaborasi ulama dan profesional, struktur dan warga, pesantren dan perguruan tinggi, lembaga pendidikan dan dunia usaha, generasi tua dan generasi muda — serta seluruh potensi yang dimiliki Jam’iyah.

Karena itu, pasca-Muktamar kita harus mengubah cara berpikir:

Dari kompetisi menuju kolaborasi. Dari faksionalisme menuju konsolidasi. Dari membela figur menuju membangun sistem. Dari mempertahankan kelompok menuju memperkuat Jam’iyah. Dari bertanya “siapa yang menang?” menjadi “apa yang harus kita kerjakan?”

Memasuki Abad Kedua NU

Inilah momentum kita memasuki NU abad kedua. Abad kedua tidak boleh dibangun dengan energi yang terus terkuras untuk mempertentangkan kelompok dengan kelompok. Ia harus dibangun dengan energi kebersamaan, ilmu pengetahuan, profesionalisme, inovasi, dan pengabdian.

Kita boleh berbeda ketika memilih — itu bagian sah dari dinamika organisasi. Tetapi setelah keputusan ditetapkan, kita harus bersatu ketika membangun.

Kritik tetap diperlukan. Nasihat tetap harus diberikan. Amar ma’ruf dan ishlah tetap menjadi bagian dari tradisi NU. Namun semuanya harus ditempatkan dalam semangat menjaga ukhuwah, menjaga marwah Jam’iyah, dan mengutamakan kepentingan yang lebih besar.

Karena itu, mari kita berikan kesempatan kepada Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz untuk mengemban amanahnya. Mari kita dukung, kita kawal, kita beri masukan, dan kita bantu dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.

Tidak ada lagi “kami” dan “mereka”. Yang ada adalah kita.

Kita adalah warga Nahdlatul Ulama. Kita memiliki rumah yang sama, cita-cita yang sama, dan tanggung jawab yang sama untuk membawa Jam’iyah ini semakin kuat dan semakin luas manfaatnya.

Penutup

Muktamar telah memilih pemimpin. Kini saatnya seluruh warga NU memilih satu jalan yang sama: jalan pengabdian untuk Jam’iyah.

Semoga kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz masa khidmat 2026–2031 menjadi awal dari fase baru NU yang lebih teduh, solid, profesional, produktif, dan penuh keberkahan.

Muktamar telah usai. Kontestasi telah selesai.

Saatnya menyatukan langkah. Saatnya bekerja. Saatnya membangun NU bersama.

Karena yang harus kita menangkan bukan kelompok kita — melainkan NU.

Pasuruan 31 Agustus 2026

H. Muzammil Syafii, anggota Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan yang juga Penasehat MA IPNU Jatim
Iklan.

You Might Also Like

Melalui Nawa Pradana Baznas Jatim Buka Kolaborasi dengan LAZISNU

Hari Jadi Bondowoso ke-207, 2.350 Pelari Ramaikan “Night Run” Harjabo

THE WIND OF CHANGE: NU KEMBALI KE JANTUNG MUSYAWARAH

Keputusan Muktamar Berlaku Sejak Ditetapkan ?

Forum Aktivis NU Jatim: Rais Aam Bukan Jabatan untuk Diperebutkan, tetapi Amanah untuk Diemban.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU
Next Article NU di Bawah Kepemimpinan Baru: Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi
Kolom
Noe Letto Nikmati Kopi Bondowoso, Festival Jadi Panggung Promosi Komoditas Lokal
Ekraf
PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader
Kolom
Musyawarah, Hikmah dan Khidmah
Kolom

You Might also Like

Uncategorized

OTT KPK di UNSOED: Ironi Mahalnya Biaya Kuliah, Integritas PTN Berubah Menjadi Kapitalis

22/08/2026
Uncategorized

Abiyyu Balfaqih Junaidi Ukir Prestasi di OSN 2026, Siswa MI At-Taqwa Bondowoso Siap Berlaga di Tingkat Nasional

21/08/2026
Uncategorized

KKN Universitas Bondowoso Gandeng Polisi dan Puskesmas Edukasi Bahaya Narkoba di MTs Nurul Islam

19/08/2026
Uncategorized

Isu Money Politik Setipis Tisu

17/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?