Jombang, radar96.com – Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur bersama OPOP Jatim menyelenggarakan kegiatan Workshop Tata Cara dan Evaluasi Permodalan Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) pada Selasa (23/6/26) di Jombang. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas pengurus koperasi pesantren dalam memahami tata kelola permodalan, evaluasi usaha, serta strategi pengembangan koperasi yang berkelanjutan. Workshop tersebut diikuti oleh 50 pengurus Koppontren dari berbagai daerah di Jawa Timur yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi pesantren melalui Program One Pesantren One Product (OPOP) Jatim. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu memperkuat kelembagaan koperasi sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengakses dan mengelola sumber pembiayaan secara lebih efektif.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pembiayaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Arief Lukman Hakim. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa koperasi pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung kemandirian ekonomi pesantren serta menjadi sarana pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, penguatan koperasi tidak hanya dilakukan melalui peningkatan jumlah usaha yang dijalankan, tetapi juga harus dibarengi dengan tata kelola organisasi dan pengelolaan keuangan yang baik. Dengan demikian, koperasi pesantren dapat tumbuh menjadi lembaga ekonomi yang sehat, profesional, dan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi para anggotanya.
“Koperasi pesantren harus mampu menjadi lembaga ekonomi yang kuat dan profesional. Oleh karena itu, pengurus koperasi perlu memahami tata cara pengelolaan permodalan, melakukan evaluasi usaha secara berkala, serta memanfaatkan berbagai peluang pembiayaan yang tersedia agar koperasi dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pesantren maupun masyarakat” ujar Arief Lukman Hakim saat membuka kegiatan. Ia juga mengapresiasi semangat para pengurus koppontren yang terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan koperasi di tengah berbagai tantangan ekonomi yang terus berkembang.
Pada sesi materi pertama, peserta mendapatkan pemaparan dari Hery Istanto dari Bappeda Provinsi Jawa Timur mengenai Roadmap Kemandirian Ekonomi Pesantren Melalui Sinergi Program Prioritas OPOP. Dalam paparannya, Hery menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi pesantren membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pesantren, koperasi, lembaga keuangan, serta berbagai pihak lainnya. Program OPOP, menurutnya, menjadi salah satu instrumen penting dalam menciptakan ekosistem ekonomi pesantren yang saling terhubung mulai dari penguatan sumber daya manusia, pengembangan produk unggulan, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.
“Kemandirian ekonomi pesantren tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh pihak agar pesantren memiliki ekosistem usaha yang kuat. Melalui roadmap yang terarah dan dukungan program prioritas OPOP, pesantren memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi lingkungan sekitarnya” ungkap Hery Istanto. Ia juga mendorong para pengurus koperasi untuk aktif memanfaatkan berbagai program penguatan yang telah disiapkan pemerintah guna mendukung pertumbuhan ekonomi pesantren.
Materi berikutnya disampaikan oleh Siti Umi Hanik dari Bank Jatim Syariah yang membahas mengenai mekanisme akses permodalan bagi koperasi pesantren. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai skema pembiayaan yang dapat dimanfaatkan oleh koperasi untuk mendukung pengembangan usaha. Selain menjelaskan prosedur dan persyaratan pengajuan pembiayaan, ia juga menekankan pentingnya kesiapan administrasi, legalitas, serta laporan keuangan yang tertata dengan baik sebagai faktor pendukung dalam memperoleh akses pembiayaan dari lembaga keuangan.
“Akses permodalan akan lebih mudah diperoleh apabila koperasi memiliki tata kelola yang baik dan administrasi yang tertib. Karena itu, pengurus koperasi perlu memperkuat aspek kelembagaan, meningkatkan kualitas laporan keuangan, serta memastikan setiap kegiatan usaha dikelola secara profesional agar peluang pembiayaan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan usaha koperasi” jelas Siti Umi Hanik. Penjelasan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena akses permodalan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi banyak koperasi pesantren dalam mengembangkan usahanya.
Sesi terakhir diisi oleh Dzikrullah dari Bidang Santripreneur OPOP Jatim yang memaparkan perkembangan pesantren dalam ekosistem Program OPOP. Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pesantren di Jawa Timur menunjukkan perkembangan yang positif dalam bidang kewirausahaan dan penguatan koperasi. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, banyak pesantren mulai mampu mengembangkan produk unggulan, meningkatkan kualitas manajemen usaha, serta memperluas jaringan pemasaran yang dimiliki. Menurutnya, koperasi pesantren memiliki posisi penting sebagai motor penggerak aktivitas ekonomi yang mampu menghubungkan berbagai potensi yang ada di lingkungan pesantren.
“Pesantren memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi umat. Melalui Program OPOP, kami terus mendorong lahirnya koperasi yang kuat, santripreneur yang inovatif, serta produk-produk unggulan pesantren yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan kolaborasi dan komitmen bersama, kemandirian ekonomi pesantren bukan hanya menjadi harapan, tetapi dapat diwujudkan secara nyata” tutur Dzikrullah. Melalui kegiatan workshop ini, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur bersama OPOP Jatim berharap para pengurus koppontren semakin siap menghadapi tantangan pengelolaan usaha dan permodalan, sehingga mampu mewujudkan koperasi pesantren yang mandiri, profesional, dan berdaya saing.



