By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Nahdlatul Ulama (NU) Menyongsong Era Digital: Merawat Jagat, Membangun Peradaban Siber
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Nahdlatul Ulama (NU) Menyongsong Era Digital: Merawat Jagat, Membangun Peradaban Siber
Kolom

Nahdlatul Ulama (NU) Menyongsong Era Digital: Merawat Jagat, Membangun Peradaban Siber

15/07/2026 Kolom
SHARE

Oleh Nonot Sukrasmono *)

Memasuki abad kedua pengabdiannya (2026-2126), Nahdlatul Ulama (NU) tidak lagi hanya berdiri di atas panggung-panggung pesantren syafiiyah dan mimbar pedesaan. Hari ini, garis depan perjuangan NU telah meluas ke ruang-ruang digital, tempat miliaran algoritma membentuk pemikiran generasi muda Islam dunia. Perspektif NU ke depan adalah sebuah transformasi besar: mengawinkan kedalaman sanad keilmuan klasik dengan kecanggihan kecerdasan buatan (AI) dan konektivitas global.

Bagi NU, era digital bukan sekadar tantangan teknologi, melainkan ruang dakwah baru yang harus diwarnai dengan nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran). Di tengah banjir informasi yang sering kali memicu polarisasi dan radikalisme, NU memposisikan diri sebagai produsen konten digital penyejuk. Narasi keagamaan yang ramah, inklusif, dan berwawasan kebangsaan didorong untuk menguasai mesin pencari dan media sosial, memastikan bahwa wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tetap menjadi rujukan utama bagi generasi Z dan Alfa.

Transformasi ini juga merambah ke dalam sistem tata kelola organisasi. Pemanfaatan big data dan digitalisasi basis data warga (Kartanu) bukan sekadar alat administrasi, melainkan instrumen strategis untuk memetakan potensi umat. Dengan data yang akurat, program-program kemandirian ekonomi, penyaluran zakat, digitalisasi UMKM nahdliyin, hingga layanan kesehatan dapat didistribusikan secara presisi dan transparan. Pesantren-pesantren NU kini bertransformasi menjadi pusat inovasi, melahirkan “santri digital” yang tidak hanya mahir membaca Kitab Kuning, tetapi juga fasih dalam coding, data science, dan keamanan siber.

Secara global, NU memandang masa depan digital sebagai jembatan untuk memperkuat posisi diplomasi kemanusiaan internasional. Melalui forum-forum digital global dan platform edukasi lintas negara, NU menawarkan konsep Fiqih Peradaban sebagai solusi atas krisis moral dan kemanusiaan modern. Ke depan, NU berkomitmen memastikan bahwa teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dikembangkan dengan panduan etika kemanusiaan yang kuat, agar kemajuan digital tidak merenggut martabat manusia.
Melalui langkah-langkah strategis ini, NU membuktikan bahwa menjadi tradisional tidak berarti tertinggal. NU ke depan adalah organisasi yang kokoh memegang tradisi yang baik (al-muhafadhatu ‘ala al-qadimi al-shalih), sekaligus bergerak cepat mengambil inovasi masa depan yang lebih baik (wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah). Di ruang siber, panji-panji Aswaja akan terus berkibar, menjaga kedamaian dunia digital demi kemaslahatan peradaban manusia.

Berikut adalah arah transformasi dan tantangan utama NU di era digital:

  1. Pendidikan Berbasis AI: Pesantren di lingkungan NU didorong untuk mengintegrasikan teknologi dan AI dalam proses belajar mengajar. Kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk mempercepat literasi, namun tetap dibarengi dengan bimbingan kyai untuk menjaga nilai akhlak dan moral.
  2. Modernisasi Ekonomi Umat: Mereaktualisasi semangat Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang) melalui literasi ekonomi digital, e-commerce, dan teknologi finansial guna memberdayakan ekonomi warga Nahdliyin.
  3. Dakwah Virtual yang Moderat: Mengoptimalkan media sosial sebagai mimbar dakwah. Hal ini penting untuk menyebarkan nilai Islam Nusantara (moderat, toleran) sekaligus menangkal hoaks dan polarisasi politik di ruang digital.
  4. Digitalisasi Layanan dan Data: Transformasi sistem administrasi jam’iyah NU, termasuk pendataan warga, layanan zakat/wakaf (seperti NU Care-LAZISNU), dan pendidikan yang terintegrasi secara daring.
  5. Transformasi pendidikan di pesantren (Penerapan AI dan kurikulum digital)
  6. Strategi dakwah virtual dan media sosial (Ingin tahu lebih lanjut tentang cara NU beradaptasi di era digital? Beritahu topik spesifik yang bisa Anda perdalam).
  7. Pemberdayaan ekonomi digital untuk warga NU

*) Penulis adalah Pendidik, Pelukis, Budayawan

Iklan.

You Might Also Like

Dari Meme ke Krisis Kepecayaan Publik

Membangunkan “Wakaf Tertidur” untuk Kejayaan Peradaban Islam Indonesia

Muktamar NU : Harus Bisa Memilih Nakhoda yang Memahami Perubahan Global

Pemilihan Ketum PBNU Melalui Ahwa

Muktamar dan Amar Makruf Nahi Mungkar

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Muktamar NU : Harus Bisa Memilih Nakhoda yang Memahami Perubahan Global
Next Article Membangunkan “Wakaf Tertidur” untuk Kejayaan Peradaban Islam Indonesia

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Dari Meme ke Krisis Kepecayaan Publik
Kolom
KH Yusuf Hasyim Penuhi Syarat sebagai Pahlawan Nasional
Nahdliyyin
Membangunkan “Wakaf Tertidur” untuk Kejayaan Peradaban Islam Indonesia
Kolom
Muktamar NU : Harus Bisa Memilih Nakhoda yang Memahami Perubahan Global
Kolom

You Might also Like

Kolom

MUI JAWA TIMUR DAN PARADIGMA BARU MODERASI BERAGAMA

13/07/2026
Kolom

Jangan Bohongi Presiden RI

13/07/2026
Kolom

MEMBANGUN KEMITRAAN STRATEGIS MUI JAWA TIMUR DAN PEMPROV JAWA TIMUR

12/07/2026
Kolom

KORUPTOR BELUM JADI TERSANGKA, MUNGKIN SAJA ITU ISTIJRAJ

12/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?