Surabaya, radar96.com – Delegasi Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) Filipina mengadakan “studi banding” bidang pendidikan/pesantren ke PWNU Jatim, Jumat (24/7) sore.
Delegasi BARMM yang didampingi Divisi Kurikulum dari Kementerian Pendidikan Filipina itu diterima Wakil Sekretaris PWNU Jatim Dr KHM Wafiyul Ahdi, Wakil Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim Evi Fatimatur Rusdiyah, Sekretaris PW LP Ma’arif NU Jatim M. Fakhrul Irfan Syah, dan jajaran PWNU, LP Ma’arif, RMI NU, dan Aswaja Center.

Dalam studi banding yang didahului kunjungan delegasi BARMM ke pesantren dan lembaga pendidikan di Lamongan itu, Wakil Sekretaris PWNU Jatim Dr KHM Wafiyul Ahdi menegaskan bahwa lembaga pendidikan di lingkungan NU berbasis dari pesantren, kemudian berkembang dalam pendidikan yang memadukan kepesantrenan dan madrasah/formal.
“Pesantren dan madrasah itu bersifat independen, karena pemimpin pesantren umumnya memiliki sawah (lahan pertanian dan perkebunan), kemudian madrasah saat ini juga bersinergi dengan komite sekolah untuk membangun minimarket, sehingga pesantren dan madrasah bisa berkembang independent tanpa support pemerintah,” katanya.

Sementara itu, PW LP Ma’arif NU Jatim dalam pertemuan itu memperkenalkan Kurikulum Identitas Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Nahdlatul Ulama sebagai model pendidikan Islam moderat yang dikembangkan LP Ma’arif NU Jawa Timur.
“Kurikulum Identitas Aswaja dan NU itu kami susun sebagai ikhtiar menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jatidiri keislaman dan keindonesiaan. Generasi muda harus memiliki karakter yang moderat, kritis, adaptif, sekaligus tetap kokoh memegang nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah,” ujar Evi Fatimatur Rusdiyah.
Ia menjelaskan, bahan ajar yang diperkenalkan merupakan seri pembelajaran inovatif berbasis STE(I)M dengan konsep “MISI”, yang dirancang adaptif bagi karakteristik Generasi Z dan Generasi Alpha. Pendekatan tersebut mengintegrasikan penguatan literasi digital, pembelajaran kolaboratif, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Selanjutnya, materi pembelajaran disusun secara komprehensif dengan mengkaji strategi dakwah Islam Nusantara, diskursus hukum Islam seperti ijtihad, taqlid, dan bahtsul masail, pedoman keorganisasian Nahdlatul Ulama yang meliputi Khittah Nahdliyah, Mabadi Khaira Ummah, hingga berbagai badan otonom NU.
Selain itu, kurikulum juga menguatkan pelestarian tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah seperti peringatan Maulid Nabi, Nisfu Sya’ban, tawassul, dan ziarah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan penguatan identitas keagamaan.
Menurut Evi, seluruh rangkaian materi tersebut bertujuan mencetak lulusan yang mandiri, memiliki daya pikir kritis, berwawasan kebangsaan yang kuat, serta mampu mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dalam kehidupan bermasyarakat di tengah dinamika global.
“Kami berharap pengalaman pendidikan yang dikembangkan LP Ma’arif NU Jawa Timur dapat menjadi ruang berbagi praktik baik dengan berbagai negara, termasuk Bangsamoro, sehingga nilai-nilai Islam rahmatan lil ’alamin dapat terus berkembang melalui jalur pendidikan, karena itu model pendidikan Aswaja An-Nahdliyah menjadi kontribusi Indonesia bagi penguatan pendidikan Islam moderat di tingkat global,” katanya. (*/fpnu)



