By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Harmonisasi Dua Kutub Tradisi
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Harmonisasi Dua Kutub Tradisi
Kolom

Harmonisasi Dua Kutub Tradisi

25/07/2026 Kolom
SHARE

Oleh: Nonot Sukrasmono*

Dalam kultur warga NU (Nahdliyin), friksi dan perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah, namun perpecahan adalah hal yang harus dihindari. Ketika kontestasi mengerucut pada dua faksi besar yang saling berhadapan keras, kultur NU selalu melahirkan mekanisme pertahanan mandiri. Di sinilah Poros Tengah hadir sebagai jembatan budaya. Kehadirannya mencegah terjadinya polarisasi ekstrem yang dapat merusak tenun sosial kemasyarakatan di akar rumput. Poros Tengah merepresentasikan watak asli pesantren: teduh, merangkul, dan mengutamakan maslahat bersama di atas kepentingan kelompok.

Pelembagaan Nilai Tawasuth dan Islah
Secara sosiologis, Poros Tengah adalah pengejawantahan dari nilai tawasuth (mengambil jalan tengah) yang menjadi pilar khittah NU. Kultur NU sangat menghormati musyawarah mufakat (syura). Ketika jalur musyawarah buntu akibat benturan dua kepentingan besar, Poros Tengah muncul sebagai ruang alternatif untuk melakukan islah (rekonsiliasi). Ini bukan tentang figur yang kompromistis tanpa prinsip, melainkan kultur kepemimpinan yang menolak tunduk pada ego politik sekuler dan memilih setia pada garis spiritualitas organisasi.

Menjaga Marwah Kiai dan Pesantren
Sebagai konsep budaya, Poros Tengah bertindak sebagai jangkar penyeimbang agar PBNU tidak terseret terlalu jauh ke dalam arus pragmatisme politik praktis. Kandidat dari Poros Tengah biasanya membawa narasi kembalinya khittah pesantren, penguatan ekonomi warga, dan kemandirian organisasi. Dengan menolak berpihak pada faksi yang bertikai, Poros Tengah menjaga marwah para kiai sepuh agar tidak terjebak dalam pusaran dukung-mendukung yang bising, sehingga NU tetap menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh golongan.

Simbol Kedewasaan Berorganisasi
Kehadiran Poros Tengah membuktikan bahwa kebudayaan NU memiliki daya adaptasi dan resolusi konflik yang matang. Kultur ini mengajarkan bahwa kemenangan dalam kontestasi PBNU tidak diukur dari hancurnya faksi lawan, melainkan dari seberapa utuh organisasi ini setelah kompetisi selesai.
Poros Tengah adalah pengingat kultural bahwa siapapun yang memimpin, ia adalah pelayan umat (khadimul ummah) yang harus berdiri di atas semua golongan, menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil inovasi baru yang lebih baik (al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).


Penulis adalah Praktisi Budaya, pendidik, seniman dan Pembina LESBUMI PWNU JATIM.

Iklan.

You Might Also Like

Seni Rupa Mata Pelajaran Yang Paling Universal Diantara Cabang Seni

DMI Jatim Percepat Digitalisasi Sistem Informasi Ribuan Masjid

Negara Wajib Melindungi Rakyatnya

Obituary John L. Esposito: Sang Pembela Wajah Moderat Islam di tengah Islamophobia

Dari Meme ke Krisis Kepecayaan Publik

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article FKIP UNEJ Jember Tingkatkan Kompetensi Guru SMK PPN 1 Tegalampel Bondowoso Melalui Tiga Pendekatan Pembelajaran Modern

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

FKIP UNEJ Jember Tingkatkan Kompetensi Guru SMK PPN 1 Tegalampel Bondowoso Melalui Tiga Pendekatan Pembelajaran Modern
Sospol
HAN 2026, JMSI Bondowoso, Pemkab dan DPRD Gaungkan Pengasuhan Ramah Anak di TK Negeri Pembina
Sospol
Perkuat Pemahaman Regulasi Pendirian Rumah Ibadah, FKUB Kota Probolinggo Libatkan 125 Pengurus Rumah Ibadah 6 Agama
Sospol
Delegasi BARMM Mindanao-Filipina Adakan “Studi Banding” Pendidikan ke PWNU Jatim
Nahdliyyin

You Might also Like

Kolom

Membangunkan “Wakaf Tertidur” untuk Kejayaan Peradaban Islam Indonesia

16/07/2026
Kolom

Nahdlatul Ulama (NU) Menyongsong Era Digital: Merawat Jagat, Membangun Peradaban Siber

15/07/2026
Kolom

Muktamar NU : Harus Bisa Memilih Nakhoda yang Memahami Perubahan Global

15/07/2026
Kolom

Pemilihan Ketum PBNU Melalui Ahwa

15/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?