By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Dari Kampus, Pesantren, hingga Kamera yang Merekam Zaman
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Dari Kampus, Pesantren, hingga Kamera yang Merekam Zaman
Kolom

Dari Kampus, Pesantren, hingga Kamera yang Merekam Zaman

13/08/2026 Kolom
SHARE

CATATAN PERADABAN

Dr. Romadlon Sukardi, M.M.

EPISODE I

Dari Kampus, Pesantren, hingga Kamera yang Merekam Zaman

Jejak Awal H. Helmy M. Noor sebagai Aktivis, Pewarta, dan Santri Perubahan

Ada orang yang membangun peradaban melalui pidato. Ada yang melalui pena. Ada pula yang memilih kamera, rekaman suara, dan teknologi sebagai jalan pengabdian. H. Helmy M. Noor, dalam pandangan saya, adalah bagian dari generasi yang belajar membaca perubahan zaman melalui media. Perjalanannya dimulai dari persilangan unik antara kampus, pesantren, organisasi, jurnalistik, dan dunia teknologi audio visual—sebuah proses panjang yang kelak membentuk karakter dan visi pengabdiannya.

Saya mengenal Helmy sejak sekitar 1996-an, ketika ia bersama Imam Ghozali Aro (Iga) masih menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) Jombang. Pada saat yang sama, Helmy juga nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Kampus memberinya ruang untuk berpikir kritis, sementara pesantren mengajarinya nilai, adab, dan pengabdian. Perpaduan keduanya menjadi fondasi penting perjalanan intelektual dan spiritualnya.

Di lingkungan kampus, Helmy aktif sebagai aktivis Senat Mahasiswa. Ia dikenal kreatif, mudah bergaul, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta memiliki ketertarikan kuat terhadap jurnalistik, media massa, dokumentasi, dan teknologi audio visual. Ketika sebagian anak muda masih berkutat dengan mesin ketik, kamera analog, dan kaset pita, Helmy sudah melihat media bukan semata-mata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai instrumen dakwah, pendidikan, dan perubahan sosial.

Selepas kuliah, ia sempat merintis karier jurnalistik di Semarang. Namun dinamika politik nasional menjelang Reformasi 1998 membuat perjalanan itu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Justru dari sebuah kegagalan itulah pintu baru terbuka. Iga mengajaknya ke Surabaya untuk bersama-sama mengembangkan dunia jurnalistik. Di kota inilah perjalanan Helmy menemukan arah baru: terlibat dalam peliputan Harian Surya, membangun jejaring kontributor BBC London, serta ikut mendukung pengembangan Majalah Aula Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

Surabaya kemudian menjadi semacam “universitas kehidupan” bagi Helmy. Kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Raya Darmo 96 bukan sekadar kantor organisasi. Ia merupakan ruang perjumpaan aktivis, wartawan, santri, mahasiswa, kiai, dan berbagai elemen masyarakat. Dari tempat sederhana itu berlangsung diskusi, pertukaran informasi, perencanaan gerakan, hingga lahir berbagai gagasan yang merespons dinamika sosial-politik Indonesia.

Di lingkungan itulah persahabatan kami semakin erat. Saya, Helmy M. Noor, Imam Ghozali Aro, Ir. Amirullah, dan banyak sahabat lainnya memperoleh kesempatan belajar dari para kiai dan tokoh NU, terutama Almaghfurlah KH. Ahmad Hasyim Muzadi. Kami bukan hanya menyaksikan perjuangan beliau dari kejauhan, tetapi berada cukup dekat untuk melihat bagaimana kepemimpinan, organisasi, komunikasi, dan pengabdian dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.


Ketika Reformasi 1998 mengguncang Indonesia, Helmy tidak memilih menjadi penonton. Bersama Imam Ghozali Aro, ia membawa kamera foto (Fujifilm), dan tape recorder untuk merekam dinamika sosial yang terjadi di Surabaya, termasuk suasana di sekitar Pasar Pandegiling. Di tengah demonstrasi, ketegangan sosial, dan perubahan politik yang berlangsung cepat, mereka hadir sebagai dokumentalis sejarah.


Bagi Helmy, kamera bukan sekadar alat kerja. Kamera adalah saksi zaman. Rekaman adalah arsip peradaban. Dokumentasi adalah amanah sejarah. Apa yang direkam hari itu mungkin tampak sederhana, tetapi bertahun-tahun kemudian dapat menjadi sumber ingatan bagi generasi yang tidak mengalami langsung masa tersebut.

Dari sinilah saya melihat satu benang merah yang kemudian terus mengikuti perjalanan Helmy: ia selalu berusaha menjadikan teknologi sebagai jembatan antara gagasan dan masyarakat. Dari kamera analog menuju video digital, dari kaset pita menuju multimedia, dari dokumentasi menuju produksi konten, hingga akhirnya dari media menuju pendidikan pesantren berbasis teknologi.


Episode pertama ini, dengan demikian, bukan sekadar cerita tentang seorang mahasiswa yang menjadi wartawan. Ini adalah kisah tentang proses pembentukan seorang manusia yang menemukan jalan pengabdiannya melalui kampus, pesantren, organisasi, media, persahabatan, dan pengalaman membaca perubahan zaman.

Iklan.

You Might Also Like

Kesaksian: PENGAJIAN RUTIN PWNU JATIM ZAMAN DULU DAN SEKARANG

Kader Intelektual Muslim ala Khofifah Indar Parawansa Panen Prestasi di Kampus Al Azhar Kairo Mesir

Fenomena Lilur dan Ujian Etika Komunikasi Nahdliyyin

Saat Jamaah Sendiri Ikut Menyalahkan NU

NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Sukseskan Muktamar 35 NU, HPN Perkuat Ekosistem Bisnis Nahdliyin dengan Rembug Saudagar
Next Article Dari Kaset, Abah Hasyim Muzadi, hingga Pesantren Digipreneur

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Soal Kondisi NU, Prof Mas’ud Said: Jangan Ada Perpecahan dan Lima Elemen Potensial Ini Harus Dirangkul
Nahdliyyin
Ketua PW Ikapete Jatim: Agenda di MPR RI Murni Khidmat Alumni, Bebas Politik Praktis
Nahdliyyin
Aliansi BEM Situbondo Desak BK DPRD Buka Penanganan Kasus Dugaan Narkoba Oknum Legislator
Sospol
Oktober-November, PWNU Jatim Adakan 14 Kegiatan Hari Santri Nasional 2026
Nahdliyyin

You Might also Like

Kolom

Menanamkan Integritas di Koridor Sekolah

17/09/2026
Kolom

MENGENANG H. ABDUL MUID (ABA MUID)

16/09/2026
Kolom

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya

13/09/2026
Kolom

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

07/09/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?