CATATAN PERADABAN
Dr. Romadlon Sukardi, M.M.
EPISODE I
Dari Kampus, Pesantren, hingga Kamera yang Merekam Zaman
Jejak Awal H. Helmy M. Noor sebagai Aktivis, Pewarta, dan Santri Perubahan
Ada orang yang membangun peradaban melalui pidato. Ada yang melalui pena. Ada pula yang memilih kamera, rekaman suara, dan teknologi sebagai jalan pengabdian. H. Helmy M. Noor, dalam pandangan saya, adalah bagian dari generasi yang belajar membaca perubahan zaman melalui media. Perjalanannya dimulai dari persilangan unik antara kampus, pesantren, organisasi, jurnalistik, dan dunia teknologi audio visual—sebuah proses panjang yang kelak membentuk karakter dan visi pengabdiannya.
Saya mengenal Helmy sejak sekitar 1996-an, ketika ia bersama Imam Ghozali Aro (Iga) masih menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) Jombang. Pada saat yang sama, Helmy juga nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Kampus memberinya ruang untuk berpikir kritis, sementara pesantren mengajarinya nilai, adab, dan pengabdian. Perpaduan keduanya menjadi fondasi penting perjalanan intelektual dan spiritualnya.
Di lingkungan kampus, Helmy aktif sebagai aktivis Senat Mahasiswa. Ia dikenal kreatif, mudah bergaul, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta memiliki ketertarikan kuat terhadap jurnalistik, media massa, dokumentasi, dan teknologi audio visual. Ketika sebagian anak muda masih berkutat dengan mesin ketik, kamera analog, dan kaset pita, Helmy sudah melihat media bukan semata-mata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai instrumen dakwah, pendidikan, dan perubahan sosial.
Selepas kuliah, ia sempat merintis karier jurnalistik di Semarang. Namun dinamika politik nasional menjelang Reformasi 1998 membuat perjalanan itu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Justru dari sebuah kegagalan itulah pintu baru terbuka. Iga mengajaknya ke Surabaya untuk bersama-sama mengembangkan dunia jurnalistik. Di kota inilah perjalanan Helmy menemukan arah baru: terlibat dalam peliputan Harian Surya, membangun jejaring kontributor BBC London, serta ikut mendukung pengembangan Majalah Aula Nahdlatul Ulama Jawa Timur.
Surabaya kemudian menjadi semacam “universitas kehidupan” bagi Helmy. Kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Raya Darmo 96 bukan sekadar kantor organisasi. Ia merupakan ruang perjumpaan aktivis, wartawan, santri, mahasiswa, kiai, dan berbagai elemen masyarakat. Dari tempat sederhana itu berlangsung diskusi, pertukaran informasi, perencanaan gerakan, hingga lahir berbagai gagasan yang merespons dinamika sosial-politik Indonesia.
Di lingkungan itulah persahabatan kami semakin erat. Saya, Helmy M. Noor, Imam Ghozali Aro, Ir. Amirullah, dan banyak sahabat lainnya memperoleh kesempatan belajar dari para kiai dan tokoh NU, terutama Almaghfurlah KH. Ahmad Hasyim Muzadi. Kami bukan hanya menyaksikan perjuangan beliau dari kejauhan, tetapi berada cukup dekat untuk melihat bagaimana kepemimpinan, organisasi, komunikasi, dan pengabdian dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Reformasi 1998 mengguncang Indonesia, Helmy tidak memilih menjadi penonton. Bersama Imam Ghozali Aro, ia membawa kamera foto (Fujifilm), dan tape recorder untuk merekam dinamika sosial yang terjadi di Surabaya, termasuk suasana di sekitar Pasar Pandegiling. Di tengah demonstrasi, ketegangan sosial, dan perubahan politik yang berlangsung cepat, mereka hadir sebagai dokumentalis sejarah.
Bagi Helmy, kamera bukan sekadar alat kerja. Kamera adalah saksi zaman. Rekaman adalah arsip peradaban. Dokumentasi adalah amanah sejarah. Apa yang direkam hari itu mungkin tampak sederhana, tetapi bertahun-tahun kemudian dapat menjadi sumber ingatan bagi generasi yang tidak mengalami langsung masa tersebut.
Dari sinilah saya melihat satu benang merah yang kemudian terus mengikuti perjalanan Helmy: ia selalu berusaha menjadikan teknologi sebagai jembatan antara gagasan dan masyarakat. Dari kamera analog menuju video digital, dari kaset pita menuju multimedia, dari dokumentasi menuju produksi konten, hingga akhirnya dari media menuju pendidikan pesantren berbasis teknologi.
Episode pertama ini, dengan demikian, bukan sekadar cerita tentang seorang mahasiswa yang menjadi wartawan. Ini adalah kisah tentang proses pembentukan seorang manusia yang menemukan jalan pengabdiannya melalui kampus, pesantren, organisasi, media, persahabatan, dan pengalaman membaca perubahan zaman.



