By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Musyawarah, Hikmah dan Khidmah
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Musyawarah, Hikmah dan Khidmah
Kolom

Musyawarah, Hikmah dan Khidmah

31/08/2026 Kolom
Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.
SHARE

Membaca Model Kepemimpinan Transformatif, Progresif, Inovatif, Kreatif dan Berkelanjutan Prof. Dr. KH. M. Mas’ud Said, PhD

Oleh: Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.

Di tengah dunia yang semakin cepat, kepemimpinan tidak lagi cukup hanya pandai mengambil keputusan. Kepemimpinan masa depan dituntut mampu membaca zaman, merawat keberagaman, membangun kepercayaan, mengorkestrasi potensi, dan menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan. Di titik inilah kepemimpinan Prof. Dr. KH. M. Mas’ud Said, PhD di PW ISNU Jawa Timur menemukan relevansinya: menjadikan musyawarah sebagai kultur, integritas sebagai fondasi, inovasi sebagai energi, kolaborasi sebagai strategi, dan khidmah sebagai orientasi.

Bagi saya, kepemimpinan yang demikian bukan sekadar seni mengelola organisasi, melainkan sebuah architecture of leadership—arsitektur kepemimpinan yang mempertemukan tradisi dan modernitas, hikmah dan profesionalisme, jaringan dan gagasan, serta kepentingan hari ini dengan visi masa depan. Dari ruang-ruang musyawarah, silaturahmi dengan PCNU dan para tokoh, hingga ikhtiar membangun jejaring ISNU di kampus-kampus, sesungguhnya sedang berlangsung proses yang lebih besar: mengubah potensi intelektual Nahdliyin menjadi kekuatan sosial, akademik dan peradaban bagi Indonesia.

Sebab pada akhirnya, pemimpin besar bukan hanya mereka yang mampu berdiri paling depan, tetapi mereka yang mampu membuat banyak orang berjalan bersama; bukan hanya mereka yang meninggalkan jabatan, tetapi mereka yang meninggalkan sistem, kader, gagasan dan nilai yang terus hidup jauh setelah masa kepemimpinannya berakhir.

Dalam organisasi, kepemimpinan tidak selalu harus tampil dengan suara keras untuk menunjukkan kekuatan. Ada kepemimpinan yang justru menemukan kekuatannya dalam ketenangan, musyawarah, kemampuan mendengar, merawat perbedaan dan menemukan titik temu.

Di sinilah saya melihat salah satu karakter menarik dari kepemimpinan Prof. Dr. KH. M. Mas’ud Said, PhD, Ketua PW ISNU Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Umum PP ISNU.

Bagi beliau, organisasi bukan sekadar struktur, jabatan dan pergantian kepengurusan. Organisasi adalah ruang belajar, ruang berkhidmah dan ruang membangun peradaban. Karena itu, musyawarah mufakat—bahkan dengan semangat yang menyerupai mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)—diletakkan sebagai salah satu ruh dalam proses pengambilan keputusan organisasi.

Musyawarah sebagai Kultur, Bukan Sekadar Prosedur

Dalam banyak proses pemilihan Ketua PC ISNU Kabupaten/Kota, PW ISNU Jawa Timur berusaha terlebih dahulu sowan dan meminta restu kepada PCNU setempat serta para tokoh NU di daerah.

Ini bukan sekadar tradisi organisatoris.
Ada pesan kebudayaan dan kebijaksanaan di dalamnya: bahwa organisasi tidak boleh tumbuh dengan memutus akar sosial dan kultural tempat ia berpijak.

Calon-calon yang muncul kemudian dicermati oleh PC ISNU yang bersangkutan. Ada proses melihat integritas, kualitas, rekam jejak, pengalaman organisasi dan kapasitas personal.

Dengan cara demikian, proses regenerasi tidak semata-mata menjadi kompetisi untuk mendapatkan posisi, tetapi menjadi ikhtiar menemukan figur yang paling memungkinkan untuk mengemban amanah.

Di sinilah musyawarah memperoleh makna yang lebih substantif.
Musyawarah bukan sekadar mencari siapa yang menang, tetapi mencari siapa yang paling tepat untuk berkhidmah.

Kampus: Menjemput Potensi, Bukan Menunggu Afiliasi

Model yang sama terlihat ketika ISNU Jawa Timur mengembangkan jejaring di perguruan tinggi.

Untuk membangun ISNU di kampus-kampus, PW ISNU tidak sekadar mengeluarkan surat keputusan atau membentuk struktur dari luar. Ada proses audiensi, silaturahmi dan dialog dengan guru besar, rektorat, dekanat dan unsur-unsur Nahdliyin di lingkungan kampus, bahkan dilakukan lebih dari sekali ketika diperlukan.

Cara ini menunjukkan kepemimpinan yang adaptif sekaligus dialogis.

Kampus memiliki kultur akademik yang berbeda dengan organisasi sosial-keagamaan. Karena itu, pendekatannya pun harus berbeda.

Di sinilah kepemimpinan tidak boleh menggunakan satu resep untuk semua keadaan.

Prinsipnya sama, pendekatannya bisa berbeda.

Itulah salah satu ciri kepemimpinan progresif: mampu mempertahankan nilai, tetapi berani memperbarui cara.

Kepemimpinan yang Mengondisikan, Bukan Mendominasi

Dalam proses persidangan dan pemilihan, PW ISNU Jawa Timur mengambil posisi sebagai pengarah sekaligus pengondisi suasana agar seluruh proses berjalan tertib, lancar dan sedapat mungkin terhindar dari konflik yang berarti.

Bagi saya, ini merupakan bentuk leadership maturity.
Pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Kadang pemimpin terbaik adalah orang yang mampu membuat semua orang merasa didengar, lalu perlahan menemukan titik temu.

Kepemimpinan semacam ini bersifat transformatif karena mengubah suasana kompetisi menjadi suasana kolaborasi; mengubah perbedaan menjadi energi organisasi; dan mengubah kepentingan personal menjadi orientasi khidmah.

Integritas, Kualitas dan Rekam Jejak

Dalam proses kaderisasi, PW ISNU Jawa Timur memberikan titik tekan pada beberapa ukuran penting: integritas, kualitas, track record dan pengalaman organisasi.

Empat hal tersebut menjadi sangat penting karena organisasi tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan orang yang dapat dipercaya.

Tidak cukup seseorang memiliki gelar akademik tinggi apabila tidak memiliki integritas.

Tidak cukup seseorang memiliki popularitas apabila tidak memiliki pengalaman organisasi.

Tidak cukup seseorang memiliki jaringan luas apabila tidak memiliki komitmen terhadap khidmah.

Dan tidak cukup seseorang memiliki pengalaman panjang apabila tidak mampu membaca perubahan zaman.

Karena itu, kepemimpinan masa depan membutuhkan perpaduan antara kompetensi dan karakter.

Tidak Ada yang Ideal Seratus Persen

Dalam kehidupan organisasi, kita harus realistis.

Tidak ada kader yang ideal seratus persen.
Setiap kader memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Setiap kampus memiliki kultur yang berbeda. Setiap generasi membawa aspirasi yang berbeda. Dan setiap proses organisasi selalu bersinggungan dengan beragam kepentingan.
Karena itu, seni kepemimpinan bukan mencari manusia yang sempurna.

Seni kepemimpinan adalah menemukan orang yang cukup baik, cukup berintegritas, cukup kompeten, memiliki komitmen dan bersedia terus belajar untuk menjadi lebih baik.

Di sinilah kata hikmah menjadi penting.
Hikmah mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam menilai. Khidmah mengajarkan kita untuk tidak terlalu sibuk menghitung apa yang kita dapatkan.
Hikmah menjaga cara berpikir.

Khidmah menjaga niat.
Dan ketika hikmah bertemu khidmah, organisasi akan memiliki daya tahan yang jauh lebih panjang.

Transformatif: Mengubah Organisasi Menjadi Ekosistem

Model kepemimpinan Prof. Mas’ud Said dapat dibaca sebagai upaya mentransformasikan ISNU dari sekadar organisasi profesi dan intelektual menjadi ekosistem sarjana Nahdliyin.

PC ISNU Kabupaten/Kota diperkuat.
Kampus-kampus dirangkul.
Guru besar diajak berdialog.
Tokoh NU ditemui.
Kader diberikan ruang.
Dan seluruhnya diarahkan pada satu tujuan: mengelola potensi intelektual Nahdliyin agar menjadi kekuatan bagi NU, umat dan bangsa.

Inilah kepemimpinan transformatif: bukan hanya mengelola organisasi yang ada, tetapi menciptakan organisasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Progresif, tetapi Tetap Berakar

Menariknya, progresivitas ini tidak berarti meninggalkan tradisi.

Justru sebaliknya.
ISNU Jawa Timur bergerak maju dengan tetap membawa nilai sowan, silaturahmi, musyawarah, mufakat, tabayun, hormat kepada ulama dan penghargaan terhadap kultur lokal.

Inilah formula penting bagi organisasi Nahdlatul Ulama:
modern dalam cara berpikir,
profesional dalam tata kelola,
tetapi tetap berakar pada tradisi dan akhlak pesantren.

Dengan formula semacam itu, modernitas tidak menjadi ancaman terhadap tradisi, dan tradisi tidak menjadi penghalang bagi inovasi.

Inovatif dan Kreatif: Merawat Perbedaan Menjadi Kekuatan

Organisasi yang besar selalu berhadapan dengan keragaman.
Maka kreativitas pemimpin tidak hanya diukur dari berapa banyak program baru yang dibuat, tetapi juga dari kemampuannya mengelola manusia yang berbeda-beda.

Ada kader yang akademis.
Ada yang organisatoris.
Ada yang kuat di lapangan.
Ada yang memiliki jaringan.
Ada yang memiliki kapasitas komunikasi.
Ada yang kuat dalam administrasi.
Semua memiliki tempat.
Tugas pemimpin adalah menemukan ruang kontribusi masing-masing.

Dengan demikian, perbedaan tidak menjadi sumber konflik, tetapi menjadi portofolio kekuatan organisasi.

Berkelanjutan: Kaderisasi di Atas Kepentingan Pribadi

Kepemimpinan yang berkelanjutan tidak boleh berhenti pada keberhasilan satu periode.

Ukuran keberhasilan yang lebih tinggi adalah apakah organisasi mampu melahirkan generasi berikutnya yang lebih baik.

Karena itu, proses pemilihan ketua sejatinya bukan sekadar memilih pejabat organisasi.

Ia adalah bagian dari investasi kaderisasi.
Siapa pun yang terpilih harus memiliki kesadaran bahwa jabatan adalah amanah sementara, sedangkan organisasi dan khidmah harus terus berjalan.

Di titik ini, kepemimpinan menjadi legacy.
Bukan tentang siapa yang paling lama duduk di kursi kepemimpinan, tetapi siapa yang berhasil menyiapkan kursi itu untuk generasi berikutnya.

Hikmah dan Khidmah sebagai DNA Kepemimpinan

Saya melihat ada satu pelajaran besar dari proses-proses tersebut.

Dalam organisasi yang dihuni oleh banyak kepala, banyak pengalaman dan banyak kepentingan, yang paling dibutuhkan bukan hanya kecerdasan, tetapi kedewasaan.

Kecerdasan membuat seseorang mampu menyusun strategi.
Tetapi kedewasaan membuat seseorang tahu kapan harus maju, kapan harus menunggu, kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, dan kapan harus mengalah demi kepentingan yang lebih besar.

Karena itu, kepemimpinan Prof. Dr. KH. M. Mas’ud Said, PhD menarik dibaca bukan hanya melalui program dan struktur, tetapi melalui cara mengelola proses.

Ia berusaha menjadikan musyawarah sebagai budaya, silaturahmi sebagai jembatan, integritas sebagai fondasi, kualitas sebagai ukuran, pengalaman sebagai pertimbangan, dan khidmah sebagai orientasi.

Itulah kepemimpinan yang tidak sekadar memimpin organisasi, tetapi merawat peradaban organisasi.

Catatan Penutup

Pada akhirnya, kita harus belajar menerima kenyataan bahwa tidak ada keputusan organisasi yang akan memuaskan semua pihak seratus persen.

Tetapi selama prosesnya ditempuh dengan niat yang baik, musyawarah yang sehat, tabayun yang cukup, pertimbangan yang objektif, penghormatan kepada ulama dan tokoh setempat, serta orientasi pada kemaslahatan organisasi, maka perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan.

Sebab dalam tradisi NU, khidmah tidak selalu berarti mendapatkan posisi; terkadang justru berarti bersedia memberi ruang kepada orang lain untuk melanjutkan perjuangan.

Dan mungkin di situlah hakikat kepemimpinan yang paling tinggi:
memimpin dengan ilmu,
berjalan dengan hikmah,
bergerak dengan inovasi,
beradaptasi dengan zaman,
dan berakhir dalam khidmah.

Karena organisasi yang besar bukan organisasi yang tidak pernah berbeda.

Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu berbeda tanpa kehilangan persaudaraan, bermusyawarah tanpa kehilangan arah, dan berganti kepemimpinan tanpa kehilangan ruh perjuangan.

ISNU Jawa Timur hari ini sedang belajar menuju ke sana:
dari organisasi menuju ekosistem,
dari kepemimpinan menuju kaderisasi,
dari kompetisi menuju kolaborasi,
dan dari gerakan menuju peradaban.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Peradaban
Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.

Iklan.

You Might Also Like

PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader

Membangun dan Merajut Kembali  solidaritas di NU  Pasca MUKTAMAR NU ke 35

Setelah Muktamar: Menerima Takdir, Mengawal Amanah, Membiarkan Waktu Membuka Kebenaran

NU di Bawah Kepemimpinan Baru: Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman

AHWA dan Seni Menimbang Amanah: Dari Politik Kandidat Menuju Fiqih Kepemimpinan

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Buka PKKMB 2026, Rektor Unusa Tekankan Kerja Keras, Soft Skill dan Adab
Next Article PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader
Kolom
Buka PKKMB 2026, Rektor Unusa Tekankan Kerja Keras, Soft Skill dan Adab
Sospol
Presiden Prabowo Terima Kartu Anggota NU “Seumur Hidup”
Nahdliyyin
Membangun dan Merajut Kembali  solidaritas di NU  Pasca MUKTAMAR NU ke 35
Kolom

You Might also Like

Kolom

SUBUH YANG MENGUBAH PETA NU

30/08/2026
Kolom

Eksistensi AHWA Pasca-Putusan: Ketika Ketua Umum Dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi

30/08/2026
Kolom

GEGERAN DULU GERGERAN KEMUDIAN

28/08/2026
Kolom

Muktamar NU : Pembukaan Gemilang, Jangan Sampai Pelaksanaan Kehilangan Marwah.

28/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?