Surabaya, radar96.com – Ketua Yayasan Insan Keturunan Sagipoddin (IKSA) yang merupakan Dzurriyah H Hasan Gipo (Ketua Umum PBNU pertama) H Abd Wachid Zen menilai pasangan KH Miftachul Akhyar (Rais Aam) dengan KHA Hakim Mahfudz (Gus Kikin/Ketua Umum) merupakan paket ideal dari Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang pada 27-31 Agustus 2026, untuk mengawali Abad Kedua NU.
“Sebagai ketua Yayasan IKSA (Insan Keturunan Sagipoddin), kami menilai Kiai Miftah dan Gus Kikin itu paket pasangan ideal untuk mewujudkan nilai-nilai organisasi yang diwariskan para muassis, termasuk H Hasan Gipo (1869-1934),” katanya di Surabaya, Senin (14/9/26).
Zen yang juga Ketua II Pengurus Takmir Masjid Agung Sunan Ampel itu menjelaskan Muktamar ke-35 NU merupakan muktamar pertama di Abad Kedua NU (2026-2126), sehingga perlu menengok peran/kiprah NU di Abad Pertama sebagai Pendiri Bangsa agar NU di Abad Kedua menjadi Penjaga Peradaban Bangsa.
Menurut dia, Kiai Miftah dan Gus Kikin itu merupakan paket pasangan ideal untuk mewujudkan satu niat yakni khidmah atau fokus dalam ngopeni (melayani) jamaah (masyarakat), apalagi H Hasan Gipo sebagai petinggi PBNU itu betul-betul berkhidmah ke NU dan ulama, tidak mencari penghidupan di NU, apalagi niat mencari dukungan agar bisa duduk di pemerintahan, bahkan situs makamnya pun baru terlacsk di sisi timur Masjid Ampel pada 2020-2021.
Nama lengkap dari Hasan Gipo adalah Hasan Basri. Ia lahir di Kampung Sawahan Ampel Surabaya pada tahun 1869, tepatnya di kawasan Jalan Ampel Masjid. Secara silsilah, Hasan Gipo merupakan generasi keempat dari Bani Gipo, yakni H Abdulloh (ayah), H Tarmidzi (kakek), dan Gipo/H Sagipoddin (buyut/leluhur), jadi Hasan Basri bin Abdullah, bin Tarmidzi, bin Sagipoddin, sehingga menjadi Hasan Gipo.
“Gus Kikin itu mirip H Hasan Gipo yang merupakan seorang saudagar kaya yang kekayaannya yang melimpah itu banyak digunakan untuk pergerakan/NU. Hasan Gipo-lah yang mendanai Komite Hijaz ke Saudi Arabia untuk memperjuangkan paham bermadzhab/Aswaja, sehingga akhirnya Komite Hijaz menjadi cikal bakal lahirnya NU dan KHA Wahab Hasbullah sebagai penggagas/muassis NU pun merasa terbantu Hasan Gipo,” katanya.
Selain itu, Hasan Gipo yang berdarah Sunan Ampel itu pula yang mengurus Badan Hukum HBNO/PBNU. “Tapi, sayang sekali, jasa perjuangannya di NU kurang diketahui, karena fotonya jarang dipajang pada acara NU, namun khidmah beliau kepada NU perlu diteladani siapapun di PBNU,” katanya.
Sementara itu, Kiai Miftachul Akhyar juga dinilai sosok Rais Aam yang mumpuni secara keilmuan, bahkan sangat memprioritaskan sistem pendidikan di pesantren asuhannya, bila bersamaan dengan acara organisasi.
“Terpilihnya Gus Kikin masih relatif lancar, tapi terpilihnya Kiai Miftah masih diikuti isu yang kurang bagus di medsos, karena mungkin dari pihak yang kalah, tapi tuduhan medsos itu tanpa tabayyun/klarifikasi. Kiai Miftah dianggap membangun pondok karena jabatan Rais Aam, padahal Kiai Miftah menjual tanah di desa untuk membangun pondok,” katanya.
Sebelumnya (13/9/2026), Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH A Mujab Muthohar (Gus Mujab) yang masih menantu keluarga Gipo juga menyinggung sosok Hasan Gipo saat ceramah Maulid Nabi, bersamaan Haul H Hasan Gipo (1869-1934) di Langgar Gipo.
“Pelajaran penting Maulid adalah pentingnya memiliki keturunan yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti leluhur kita. Cara memiliki keturunan yang bermanfaat ada dua bekal, yakni Ilmu (apapun ilmu yang manfaat), dan Akhlak (perilaku baik kepada sesama),” katanya. (*/iksa)



