By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Saat Jamaah Sendiri Ikut Menyalahkan NU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Saat Jamaah Sendiri Ikut Menyalahkan NU
Kolom

Saat Jamaah Sendiri Ikut Menyalahkan NU

18/09/2026 Kolom
SHARE

Renungan dari Qanun Asasi

H. Muzammil Syafii

Ada fenomena yang belakangan ini semakin sering terjadi, dan anehnya, justru datang dari dalam. Ketika seorang pengurus NU tersandung masalah — entah di ranting, cabang, atau bahkan tingkat yang lebih tinggi — yang paling cepat ikut menghakimi bukan hanya publik luar. Sebagian jamaah NU sendiri, warga Nahdliyin yang setiap hari mengaji kitab kuning dan mengaku berpegang pada ajaran Aswaja, ikut larut dalam arus yang sama: menyamaratakan kesalahan satu orang dengan kegagalan seluruh jam’iyyah.

Fenomena ini layak direnungkan, bukan sekadar dikomentari. Dan tempat paling jujur untuk merenungkannya bukan di kolom komentar media sosial, melainkan kembali ke dokumen yang menjadi fondasi NU itu sendiri: Qanun Asasi, yang ditulis langsung oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Domba yang Memencil dari Kawanan

Dalam Qanun Asasi, Mbah Hasyim mengutip sabda Rasulullah SAW: “Tangan Allah bersama jama’ah. Apabila di antara jama’ah itu ada yang memencil sendiri, maka syaitan pun akan menerkamnya seperti serigala menerkam kambing.”

Renungkan baik-baik gambaran ini. Yang diterkam serigala adalah domba yang memisahkan diri dari kawanan — bukan seluruh kawanan. Tidak pernah ada cerita serigala menerkam habis satu kawanan hanya karena satu ekor domba nekat berjalan sendiri lalu jadi mangsa. Yang salah dalam gambaran itu jelas: domba yang memencil, yang keluar dari barisan, yang bergerak atas dorongan sendiri tanpa lagi berada dalam pengawasan kawanan.

Begitu pula ketika seorang pengurus bertindak demi kepentingan pribadinya sendiri, di luar musyawarah dan kontrol kolektif jam’iyyah — dia sedang “memencil sendiri” dalam makna yang persis digambarkan hadis ini. Yang menjadi pertanyaan bagi kita, jamaah yang menyaksikan dari luar: mengapa yang sering kita hukum justru kawanannya, bukan domba yang memencil itu?

Ketika Jamaah Ikut Arus

Di sinilah letak renungan yang sesungguhnya perlu kita ajukan pada diri sendiri. Mbah Hasyim, dalam bagian lain Qanun Asasi, menulis peringatan tentang mereka yang gemar “membalikkan kebenaran, memungkarkan yang makruf dan memakrufkan yang mungkar.” Peringatan ini semula ditujukan pada golongan di luar jam’iyyah. Tapi tidakkah pola yang sama bisa terjadi dari dalam, ketika kita sendiri — tanpa sadar — ikut membalikkan logika sederhana ini: satu kesalahan oknum, kita perbesar menjadi kegagalan seluruh ajaran?

Ini bukan pembelaan buta. Jamaah tetap berhak kecewa, berhak menegur, berhak menuntut perbaikan dari pengurusnya. Yang perlu direnungkan bukan soal boleh-tidaknya kritik, melainkan arah kritik itu: apakah ditujukan pada domba yang memencil, atau justru — karena ikut arus emosi bersama — pada kawanan yang sejak awal dirancang untuk saling menjaga.

Ada alasan mengapa arus ini begitu deras menyeret kita. Dunia media sosial hari ini hidup dari satu logika sederhana: kabar buruk lebih laku daripada kabar baik. Berita tentang oknum yang tersandung jauh lebih cepat viral, lebih mudah dikomentari, lebih “menjual” dibanding klarifikasi atau kabar baik tentang jutaan kader NU yang setiap hari mengabdi tanpa sorotan kamera. Algoritma tidak peduli pada keadilan narasi — ia hanya peduli pada apa yang membuat orang berhenti scroll.

Maka wajar bila godaan untuk ikut arus itu terasa begitu kuat, sebab arus itu memang sengaja dirancang untuk deras. Yang perlu kita sadari adalah: derasnya arus bukan ukuran benarnya arah. Justru di titik inilah kehati-hatian jamaah paling diuji — bukan hati-hati dalam arti menutup mata, tapi hati-hati dalam arti tidak menyerahkan penilaian kita pada apa yang paling ramai dibicarakan.

Satu Jasad, Satu Rasa Sakit

Qanun Asasi juga memuat perumpamaan lain yang tak kalah dalam: umat sebagai satu jasad, di mana “apabila satu anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh jasad ikut merasa demam dan tidak dapat tidur.” Perumpamaan ini sering dibaca sebagai ajakan solidaritas semata. Tapi ada makna yang lebih tajam di baliknya: rasa sakit itu dirasakan bersama, bukan disangkal, dan bukan pula dijadikan alasan untuk memutus diri dari jasad.

Ketika ada bagian tubuh yang sakit, langkah yang benar bukan menyangkal sakitnya, tapi juga bukan memutuskan bahwa seluruh tubuh harus dibuang. Yang dilakukan adalah mengenali di mana letak sakitnya, lalu mengobatinya — sambil tubuh yang lain tetap menjaga fungsinya masing-masing.

Barangkali di sinilah letak kekeliruan kita, jamaah, ketika ikut arus menyalahkan NU. Kita memperlakukan rasa sakit itu seolah ia adalah bukti bahwa seluruh jasad ini memang layak ditinggalkan — padahal justru saat sakit itulah jasad membutuhkan kesetiaan anggotanya, bukan desersi.

“Berhimpunlah anak-anakku bila Kegentingan datang melanda, jangan bercerai-berai, sendiri-sendiri, cawan-cawan enggan pecah bila bersama ketika bercerai, satu-satu pecah berderai .“


Renungan yang Perlu Dibawa Pulang

Tulisan ini bukan untuk membenarkan kesalahan siapa pun yang memang bersalah. Tapi ini renungan yang perlu kita bawa pulang, terutama bagi kita yang lebih sering berada di posisi jamaah biasa: sebelum ikut membagikan, mengomentari, atau membenarkan dalam hati narasi yang menyamaratakan oknum dengan jam’iyyah — berhentilah sejenak, dan tanyakan pada diri sendiri, siapa sebenarnya domba yang memencil dalam kisah ini, dan apakah kita, tanpa sadar, sedang ikut menjadi bagian dari serigala yang sama.

Mbah Hasyim sudah menuliskan pengingat ini seabad yang lalu, jauh sebelum media sosial mempercepat segalanya. Barangkali yang perlu kita lakukan hari ini bukan menemukan nasihat baru, melainkan cukup jujur untuk kembali membaca yang lama.

Pasuruan, 18 September 2026

Iklan.

You Might Also Like

NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh

Menanamkan Integritas di Koridor Sekolah

MENGENANG H. ABDUL MUID (ABA MUID)

Merayakan Al-Qur’an, Menghidupkannya

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article MUI Pusat Kagumi Orientasi MAS pada Gen-ZI
Next Article Gus Mujab: Alqur’an Perintahkan Cek Kebenaran Berita/Informasi

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Gus Mujab: Alqur’an Perintahkan Cek Kebenaran Berita/Informasi
Sospol
MUI Pusat Kagumi Orientasi MAS pada Gen-ZI
Sospol
NUku, NUmu, dan NUnya Hadratussyaikh
Kolom
Kemenag Serahkan Penghargaan “School Religius Culture” Kepada TK At-Taqwa Bondowoso
Milenial

You Might also Like

Kolom

Wajah Digital NU di Muktamar Tambakberas 2026

06/09/2026
Kolom

Ketika Medsos Gaduh, Akar Rumput Tetap Teduh

03/09/2026
Kolom

Dari Hutan untuk Peradaban: Ketika Kepemimpinan Khofifah Mengubah Kelestarian Menjadi Kesejahteraan

02/09/2026
Kolom

Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial

01/09/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?