Tuban, radar96.com – Bertempat di Hall Yayasan Bina Insan Kamil (Yabika) Tuban, seluruh jamaah terlihat bersemangat. Tampak wajah-wajah yang memancarkan rasa cinta pada ilmu, cinta kepada Nabi, dan cinta kepada negeri.
Hari Santri Nasional (HSN) Insan Kamil Tuban pada Sabtu siang (24/10/26) dengan ribuan doa dan pujian kepada Rasulullah menggema. Dipimpin oleh Habib Hilmy bin Ja’far Baraqbah. Suaranya mengalun merdu. Jamaah mengikuti. Anak-anak santri, para guru, wali santri, hingga tokoh masyarakat larut dalam irama yang sama.
Tidak ada sekat di antara mereka.

Hadir Habib Idrus Al Jufri, KH Yahya Romly, para pengurus Yabika Tuban, perwakilan Kemenag Kabupaten Tuban, unsur TNI dan Polri, juga Persatuan Orang Tua Santri (POTS) Insan Kamil yang memenuhi ruang pertemuan bersama para wali santri.
Ketua Umum Yabika Tuban, KH Imam Mawardi Ridlwan, mengingatkan kembali tentang siapa sebenarnya santri. Menurutnya, santri bukan sekadar mereka yang tinggal di pesantren atau mengenakan sarung, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti belajar. Mereka yang peduli pada lingkungan sekitarnya. “Jati diri seorang santri adalah mereka yang selalu menuntut ilmu dan peduli terhadap keadaan sekitarnya,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana. Namun di zaman yang sering membuat orang sibuk pada dirinya sendiri itu, kepedulian justru menjadi barang mahal. Abah Imam juga mengingatkan bahwa sejarah bangsa ini tidak pernah jauh dari peran santri.
Saat agama membutuhkan pengabdian, santri hadir. Saat bangsa membutuhkan perjuangan, santri juga hadir. Dan kini, ketika Indonesia membutuhkan generasi yang mampu membangun negeri, santri kembali ditantang untuk mengambil peran. Bukan lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu pengetahuan, akhlak, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.
Pesan serupa datang dari Lukman Hakim, perwakilan dari Kementerian Agama Kabupaten Tuban. Ia menyebut Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk melahirkan kader-kader teladan menuju Indonesia Emas.
Ia menyinggung kurikulum berbasis cinta yang digagas Kementerian Agama. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada tanah air. Tiga cinta yang jika berjalan bersama akan melahirkan generasi yang kuat sekaligus berakhlak.
Ketika tiba giliran Habib Hilmy memberikan nasihat, suasana menjadi lebih khusyuk.
Pesannya singkat. “Yang semangat bershalawat akan dibahagiakan oleh Nabi kita, Sayyidina Muhammad.”
Kalimat itu disambut anggukan. Juga senyuman. Sebab setiap orang yang hadir saat itu datang dengan harapan yang sama: mendapatkan keberkahan. Hari Santri Nasional tidak sekadar menjadi seremoni tahunan.
Di Bukit Insan Kamil Tuban, peringatan itu berubah menjadi pengingat, bahwa menjadi santri bukan hanya soal masa lalu. Tapi juga tentang masa depan yang dibangun dengan ilmu dan dijaga dengan akhlak.
Lebih lanjut Habib Hilmy dalam nasehatnya menyebut karakter santri adalah taat pada guru dan ulil amri. Guru ditaati karena menjadi wasilah kepada Allah dan Rasulullah. Ciri santri adalah beradab, mengaji dan berkhidmat.
“Santri yang baik adalah yang sosoknya diakui oleh Nabi Muhammad. Dan sebagaimana pesan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, bahwa kita harus tetap jadi santri selamanya,” tuturnya.



