By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: SAS Institute: Kaum santri harus mulai bergerak pada ekonomi kerakyatan
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > SAS Institute: Kaum santri harus mulai bergerak pada ekonomi kerakyatan
Nahdliyyin

SAS Institute: Kaum santri harus mulai bergerak pada ekonomi kerakyatan

22/10/2022 Nahdliyyin
Direktur Ekskutif SAS Institute Dr. H. Sa’dullah Affandy, M.Ag., M.Si (*/dokpri)
SHARE

Jakarta (Radar96.com) – “Said Aqiel Siradj (SAS) Institute” mengucapkan Selamat Hari Santri 2022, dan menyatakan kaum santri (pesantren) dewasa ini, harus mulai bergerak kembali dengan paradigma ekonomi kerakyatan sebagaimana dicita-citakan para founding father.

“Seperti Muhammad Hatta maupun KH. Wahab Chasbullah yang menggagas Nahdlatul Tujjar, sebuah wadah persatuan bagi para saudagar muslim dan ulama karena tergugah dengan kondisi kemiskinan rakyat akibat kolonialisme Belanda lebih dari satu abad yang lalu (1918),” kata Direktur Ekskutif SAS Institute Dr. H. Sa’dullah Affandy, M.Ag., M.Si., dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, Nahdlatul Tujjar sendiri kemudian menjadi salah satu embrio bagi lahirnya organisasi kaum santri terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU), apalagi sejak ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keppres Nomo 22 Tahun 2015, makasetiap tahun kaum santri selalu merayakan Hari Santri sebagai hari istimewa, sebuah pengakuan negara kepada kaum santri atas kiprah dan jasa mereka terhadap Tanah Air.

“Santri, sebagaimana kita ketahui bersama, merupakan lulusan pesantren, sebuah intitusi pendidikan pertama dalam komunitas Islam Nusantara dan diyakini sebagai institusi Pendidikan keislaman yang genuine hasil kreasi para ulama Nusantara,” katanya.

Dengan kata lain, pesantren, lahir dari akar tradisi yang kuat, bukan hanya membawa dan mengajarkan kelimuan keislaman, namun juga mengakomodir sekaligus merawat tradisi lokal. Tidak mengherankan jika Pesantren mampu eksis menjadi kawah candradimuka bagi kaum intelektual Islam selama berabad-abad, bertahan menghadapi beragam gelombang perubahan zaman. Bahkan, pesantren tidak jarang menjadi aktor penggerak bagi perubahan itu sendiri, baik di masa Kolonial, hingga reformasi dewasa ini.

Tantangan kaum santri saat ini, tentu tidaklah sama dengan era sebelumnya. Kesenjangan politik nyaris tidak lagi terjadi di era keterbukaan ini. Setiap orang bebas untuk menyampaikan aspirasi politik dan pendapatnya masing-masing selama tidak mengganggu ketertiban umum atau bertentangan dengan peraturan yang ada.

Meski demikian, kesenjangan ekonomi dan kerentanan sosial masih kita saksikan bersama, dimana jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin semakin menganga. Inilah salah satu tantangan kaum pesantren, dan pesantren, dewasa ini. Bagaimana memberdayakan kaum santri secara ekonomi, bukan hanya mandiri untuk dirinya sendiri, namun juga mampu menjadi penggerak bagi lingkungannya.

“Dengan demikian, pada Hari Santri yang ke-8 ini, sangatlah tepat kiranya jika kaum santri dan pesantren, memusatkan pandangan pada kebangkitan ekonomi santri. Secara politik, kaum santri telah memiliki panggung yang cukup terbuka untuk pentas, meski tentu belum sebanding dengan jasanya selama berabad-abad dalam membangun peradaban bangsa,” katanya.

Secara pemikiran, santri juga telah banyak memiliki professor apalagi doktor dalam berbagai bidang, baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri. Namun, kalangan santri-pesantren, secara ekonomi dewasa ini, masih menjadi penghuni kelas menengah ke bawah. Inilah pekerjaan besar kaum santri ke depan. Sebuah tugas yang tidak lebih ringan dari perjuangan kaum santri dalam mengusir penjajah dan merebut kemerdeaan Indonesia. (*/mz)

Iklan.

You Might Also Like

NBI Usulkan Duet Kiai Alim dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031 

PWNU Jatim Siap Sukseskan Munas-Konbes NU di Ploso, Kediri

Menjelang Muktamar, Forum Aktivis NU Jatim Serukan Ulama Kembali Menjadi Penunjuk Arah Organisasi

Relawan 33 LPBI PCNU se-Jatim dilatih SIG Pemetaan Bencana

Lesbumi PBNU Adakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di UNWAHA Jombang, 12-14 Juni 2026

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Ketum PBNU: Hari Santri Milik Seluruh Bangsa Indonesia
Next Article Santri Manbaul Ulum Malang Peringati HSN 2022: Jadilah Santri yang Bermanfaat

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

Ketua Bawaslu Surabaya: Penataan Dapil Pemilu 2029 Harus Kawal Kesetaraan Nilai Suara
Sospol
Diskominfo Bondowoso Pastikan Konektivitas Digital Pemerintahan Semakin Optimal
Sospol
Bondowoso Tingkatkan Produktivitas Tebu Melalui Program Bongkar Ratoon
Sospol
NBI Usulkan Duet Kiai Alim dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031 
Nahdliyyin

You Might also Like

Nahdliyyin

Mendesak, Literasi Digital Warga NU

11/06/2026
Nahdliyyin

Ratusan Mahasiswa-Santri PWNU-PTN-PTNU dari Surabaya Ikuti “Daurah Aswaja 2026”

07/06/2026
Nahdliyyin

MDS Rijalul Ansor dan Pesantren Al Yasmin Lestarikan Ngaji Kitab Kuning ala Anak Muda

07/06/2026
Nahdliyyin

41 Mahasiswa Prodi Sejarah UIN KHAS Jember Kunjungi PWNU Jatim

06/06/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?