By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kritis dalam Bermedia hindari “jebakan” Hoaks
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kontrahoax > Kritis dalam Bermedia hindari “jebakan” Hoaks
Kontrahoax

Kritis dalam Bermedia hindari “jebakan” Hoaks

03/09/2021 Kontrahoax
Ilustrasi Hoaks (*/NuO)
SHARE

Jakarta (Radar96.com) – Akhir-akhir ini kita turut prihatin melihat fenomena mudahnya orang membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya.

Melihat sepotong foto dengan sedikit caption atau bahkan beberapa baris tulisan saja, langsung diyakini bahwa itu adalah suatu kebenaran. Padahal, sekurang-kurangnya, tak ada nama penulis sebagai penanggungjawab dan dari mana sumber berita itu.

Contohnya adalah kabar kecelakaan yang menimpa Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar beberapa waktu lalu. Banyak sekali orang, terutama warga NU, yang membagikan foto dengan hanya sedikit caption. Ada juga yang hanya membagikan beberapa baris kabar itu, tanpa menulis sang pengirim kabar.

Untungnya, kemudian beberapa media, termasuk NU Online, mengonfirmasi berita itu sehingga tak menjadi kecemasan dan kesimpangsiuran massal.

Terakhir, Kamis (19/8/2021) , beredar di grup WA berita palsu (hoaks) wafatnya Ibu Nyai Hj Sinta Nuriyah, istri mendiang Gus Dur. Tulisan yang berupa tiga kalimat itu menyebar secepat kilat. Untungnya, media NU Online langsung mengonfirmasi kepada sumber yang terpercaya.

Betapa kejam si pembuat berita palsu itu. Apakah pula orang yang membagikannya? Mari kita menimang-nimang sendiri, bagaimana jika kabar semacam itu menimpa kita atau orang yang kita cintai?.

Dampak dari berita palsu atau bahkan fitnah yang menyebar itu bisa sangat luar biasa. Lalu pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa kritis dan tak mudah membagikan berita?.

Pengamat media sosial, Ahmad Naufa Khoirul Faizun, membagikan tiga tips agar tak termakan hoaks dari orang-orang yang tak bertanggung jawab, dengan bersikap kritis dengan sedikit meminjam teori Ilmu musthalah hadits dan jurnalistik, yakni:
a. matan (redaksi),
b. rawi (periwayat/penulis) dan
c. sanad (transmisi/sumber).

Pertama, redaksi. Redaksi sebuah berita, dalam ilmu jurnalistik minimal memuat 5W+1H, yaitu what, why, when, who, where, dan how. Jika tak memuat unsur ini, tentu sebuah berita dikatakan kurang lengkap. Hoaks ibu Sinta di atas hanya memuat dua unsur: “apa?” dan “siapa?”, sehingga sangat tidak memenuhi kaidah berita. Perlu hati-hati jika kita menemukan berita yang tak ada pedoman penulisan berita wartawan di atas.

Selain itu, hampir tak mungkin jika ada sebuah peristiwa besar tidak dimuat di media nasional. Di hari-hari yang lalu, terutama di musim politik, kita banyak menemukan berita wafatnya seorang tokoh nasional, namun hanya ada di grup WA, tak ada koran maupun media mainstream yang memberitakan.

Masih terkait dengan redaksi, hoaks juga biasanya ditulis dengan bombastis dan asal-asalan, meski ada juga yang menyerupai berita asli. Namun kebanyakan ditulis emosional, dengan tujuan provokatif: agar yang membaca segera membagikannya. Semakin banyak kita membaca berita dari sumber yang terpercaya, baik buku, koran maupun media online, kita akan semakin bisa membedakannya.

Kedua, periwayat atau penulis. Periwayat ini penting, baik dalam penulisan artikel maupun berita. Di koran atau media online, kebanyakan penulis berita memang ditulis dengan kode di akhir tulisan, tidak dengan nama lengkap. Tetapi dalam hal ini, NU Online menulis dengan lengkap siapa kontributor beritanya. Adapun artikel atau esai, semua media yang terpercaya tentu mencantumkan nama penulisnya, sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Hampir tak ada berita hoaks yang mencantumkan siapa penulis berita itu. Kalaupun ditulis tentu dengan nama palsu atau samaran yang aneh. Semacam sudah menjadi watak, ketika orang ingin berbohong ia tak mau menyebut namanya, seperti pepatah lempar batu sembunyi tangan.

Meski demikian, ada juga orang yang membagikan berita atau tulisan dengan menghilangkan sumber atau penulisnya, mungkin agar dikira dialah orang pertama yang mengabarkan itu. Ingin mendapat semacam apresiasi atau pujian orang dari hal yang tak dilakukannya.

Ketiga, sumber. Sumber menjadi penting bagi kita dalam mengakses maupun membagikan berita. Sumber, secara sederhana, di media ada dua: resmi dan tidak resmi. Sumber resmi adalah sumber yang mengacu kepada media yang bersangkutan. Misalnya, sumber resminya Kementerian agama bisa kita akses di website kemenag.go.id atau media sosialnya. Berita resmi NU bisa mengacu kepada NU Online, www.nu.or.id dan media sosialnya.

Selain sumber resmi, ada juga media yang tak resmi. Misalnya, berita yang ada di koran dan website milik perusahaan media. Ada banyak media yang terpercaya di Indonesia, seperti kita ketahui bersama. Meski bukan media resmi, karena sudah diikat dengan kode etik jurnalistik, media-media itu menulis dan mengonfirmasi berita dengan hati-hati, tidak asal-asalan.

Pun demikian di NU, ada begitu banyak media terpercaya yang dibangun secara mandiri. Mereka juga menulis dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita bisa memperoleh berita dari media-media itu, yang kemungkinan salahnya jauh lebih sedikit.

Mengutip firman Allah SWT yang dikutip Gus Reza Lirboyo ketika menjelaskan tentang tabayun, beberapa waktu lalu. “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

“Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam mencerna dan membagikan berita, agar tak terjebak dalam dosa, lalu menyesalinya. Meminjam istilah Bung Mahbub Djunaidi, “jangan asal suap dan asal telan, nanti ketulangan”,” kata kontributor NU Online itu. (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/130877/mengapa-orang-mudah-percaya-dan-membagikan-hoaks-

Iklan.

You Might Also Like

PBNU Bantah Tudingan Terima Aliran Dana dari Perusahaan Tambang di Raja Ampat

Kemenag: Tidak Ada Larangan Gunakan Pengeras Suara di Masjid

Koalisi CekFakta.com Periksa 56 Hoaks

Gus Yahya: Transformasi Digital kurangi relevansi Ideologi

Forum “Tembang” Suarakan Demokrasi Damai di Ruang Digital Jelang Pilpres 2024

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Aktivis: pembangunan SDM lebih urgen daripada Jalan Tol Trans Madura
Next Article Sang Pencipta Shalawat Badar KH. Ali Manshur Shiddiq terima Penghargaan JBMB Emas dari Gubernur Khofifah

Advertisement



Berita Terbaru

Perkuat Digipreneur, Al Yasmin Hadiri Rakor Rencana Pengembangan Pesantren
Sospol
MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35
Kolom
Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35
Kolom
Sowan Rektor, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Perkuat Kolaborasi dengan UPN “Veteran” Jawa Timur
Sospol

You Might also Like

Kontrahoax

Idul Adha Ikut Pemerintah Arab Saudi atau Lokal?

18/06/2023
Kontrahoax

Luncurkan PESAT untuk Saring Hoaks Jelang Tahun Politik

30/04/2023
Kontrahoax

PBNU: Kepengurusan Definitif PCNU Kota Surabaya 2023-2024 Sah dan sesuai Peraturan

29/04/2023
Kontrahoax

“Kesalehan Digital” dan cara selamat di dunia digital

09/04/2023
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?